Tolong-Menolong

Dalam setiap perjalanan atau aktivitas yang kita lalui tentu ada banyak motivasi yang muncul dalam benak, apakah ingin menambah pundi-pundi harta, mempertahankan eksistensi diri atau meraih sebuah jabatan? Sungguh, banyak motiv lain yang dihasratkan untuk memenuhi nafsu duniawi saja, jika Allah tidak menjadi dasar manusia dalam mengarungi perjalanan hidupnya . Apalah arti perjalanan, jika tidak mampu membawa pelakunya naik ke derajat lebih tinggi. Bukan derajat makin kaya harta, dikenal dan dihormati banyak orang atau naik jabatan pekerjaan. Tapi derajat di hadapan Allah SWT, dimana perjalanan tersebut mampu memperluas wawasan, memperdalam keimanan dan ketaqwaan pelaku terhadap TuhanNya.

Pernahkah anda melakukan suatu aktivitas yang berjalan dengan sangat mudah dan sesuai harapan, sedangkan teman-teman anda yang lain kewalahan untuk melakukannya? Pernahkah anda di saat deadline tugas H-1 jam, anda belum mengerjakannya karena sibuk dengan agenda kebaikan lalu tiba-tiba mendapat kabar menggembirakan bahwa tugas ditunda seminggu kemudian? Dan pernahkah  ketika sedang di jalan,  anda hampir tertabrak mobil namun ada something yang melindungi anda dari tabrakan mobil tersebut? Mungkin ada yang menggangguk atau memang tidak terjadi pada kehidupan anda. Tapi saya yakin, dari rangkaian perjalanan hidup ini tentu ada peristiwa amazing yang tidak disangka-sangka, di luar nalar pikir kita sebagai manusia biasa.

Siapa yang melakukan itu semua? Ya, Allah SWT sang Raja Penguasa alam semesta ini. Mengatur  planet-palnet agar tetap di orbitnya maing-masing, peredaran darah manusia berjalan dengan mestinya dan ikan-ikan di dalam laut tercukupi kehidupannya. Tanpa Allah semua akan berantakan dan perjalanan kita pun akan sulit.

Hai orang-orang yang beriman, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.(QS. Muhammad: 7)

Dari Abu Musa berkata,”Rasulullah saw pernah ditanya tentang seseorang yang berperang dengan gagah, dan untuk fanatisme kesukuan, karena riya, yang manakah yang disebut berperang dijalan Allah ? Beliau menjawab,”Siapa yang berperang agar kalimat Allah tinggi maka dialah orang yang berperang dijalan Allah.”

Menolong Agama Allah tidak hanya menggunakan senjata di medan perang, namun tentang pengorbanan jiwa dan harta untuk agama Allah serta menegakkan AgamaNya di bumi ini. Tidak ada jihad, syahid dan surga kecuali jika tujuannya agar kalimat Allah tinggi dan menjadikan syariat dan manhaj-Nya menguasai hati, akhlak, prilaku, kondisi, dan aturan-aturan dalam kehidupan kita. Saya mengimani kalam-Nya, apapun yang kita lakukan karena Allah, niscaya Allah akan menolong kita dalam kondisi apapun.

Adalah “give and take” dan “apa yang kita tanam itulah yang kita benih” merupakan istilah yang sering kita dengar terkait prinsip hidup ini, salah satunya dalam hal tolong menolong. Namun, jauh sebelum munculnya istilah tersebut, Allah dalam firman-Nya menerangkan dalam surat Al Baqarah 2;195 ”Dan belanjakanlah (harta bendamu) di jalan Allah, dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah, Karena Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik”.

Dalam sebuah peperangan, sebelumnya Rasulullah menyampaikan taujih [pengarahan] kepada para sahabat bahwa biaya jihad itu sangat besar sekali, maka  beliau menawarkan kepada muhsinin di zaman beliau, maka tampillah ketika itu Umar bin Khattab dengan ucapannya,”Ya Rasulullah akan aku serahkan separuh hartaku untuk berjihad besok”, dalam hati Umar menyangka bahwa dialah yang paling besar infaqnya, setelah itu tampil pula Abu Bakar dengan wibawa menyatakan.”Wahai Rasul, aku serahkan seluruh hartaku untuk jihad besok”, Rasull bertanya,”Apa yang kau sisakan untuk keluargamu ?”, Abu Bakar menjawab ”Yang tersisa adalah Allah dan Rasul-Nya.” Dalam hati Umar bergumam,”Memang Abu Bakar tidak bisa disaingi dalam kebaikan ini”.

Allah Ta’ala berfirman:“Dan   tolong-menolong  engkau  semua   atas   kebaikan   dan ketaqwaan.” (al-Maidah: 2).

 

Allah Ta’ala juga berfirman:“Demi masa, sesungguhnya manusia itu dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amalan-amatan shalih, juga suka sating pesan-memesan dengan kebenaran serta saling pesan-memesan dengan saling kesabaran.” [1][1][13] (al-‘Ashr: 1-3).

Kebaikan apapun dan sebesar apapun tidak boleh kita remehkan sebab nabi pernah mengabarkan bahwa dengan kebaikan yang kecil itu siapa tahu kita ditetapkan sebagai penduduk syurga selama-lamanya.   Untuk mencapai derajat taqwa seseorang harus melewati fase muhsin ini sehingga dia diberi prediket orang yang selalu berbuat baik. Dengan kebaikan ini pulalah akan membuat simpati orang kepada kita sehingga rasul menyatakan kalau ummatnya ini seperti lebah yang selalu mengeluarkan hal-hal yang baik seperti madu dan bila lebah hinggap pada ranting yang rapuh  sekalipun maka ranting itu tidak akan patah, demikian indahnya hidup dalam sebuah komunitas dengan nilai-nilai islam,

Kebaikan yang diberikan kepada orang lain bukan hanya menerima pahala saja dari Allah tapi dia merupakan sebab untuk diterimanya bantuan dan rezeki yang lebih banyak darimanapun, “Tiadalah kamu mendapat pertolongan (bantuan) dan rezeki kecuali karena orang-orang yang lemah dari kalangan kamu”(HR. Bukhari) “Allah selalu menolong orang selama orang itu selalu menolong saudaranya (semuslim)” (HR. Ahmad)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s