Zakat dalam Perekonomian Modern

Kita ketahui bahwa zakat adalah salah satu rukun islam yang wajib dilaksanakan seluruh umat muslim. Zakat merupakan ibadah yang memiliki dua dimensi yaitu vertikal dan horisontal, yaitu merupakan ibadah sebagai bentuk ketaatan kepada Allah (vertical) dan sebagai kewajiban kepada sesama manusia (horizontal). Zakat juga sering disebut sebagai ibadah maaliyah ijtihadiyah. Tingkat pentingnya zakat terlihat dari banyaknya ayat (sekitar 82 ayat) yang menyandingkan perintah zakat dengan perintah sholat.

Zakat menjadi pilar utama dan pertama dari perekonomian Islam yang disebutkan dalam Al-Qur’an bahwa mekanisme fiskal zakat menjadi syarat dalam suatu perekonomian karena zakat menjadi salah satu implementasi azas keadilan dalam sistem ekonomi Islam.

Zakat merupakan pungutan wajib atas individu yang memiliki harta wajib zakat yang melebihi nishab (muzakki ), dan didistribusikan kepada delapan golongan penerima zakat (mustahik ), yaitu : fakir, miskin, fi sabilillah , ibnussabil, amil, gharimin, hamba sahaya dan muallaf. Dari segi bahasa, zakat berarti al- barakatu ‘keberkahan,’ an- nama ‘pertumbuhan dan perkembangan,’ ath- thaharatu‘kesucian’ dan ash- shahalu ‘keberesan.’ Dari segi istilah, zakat merupakan bagian dari harta dengan persyaratan tertentu, yang Allah SWT wajibkan kepada pemiliknya untuk diserahkan kepada yang berhak menerimanya dengan persyaratan tertentu pula. Harta yang dikeluarkan zakatnya akan menjadi berkah, tumbuh, berkembang serta suci dan beres (baik). Hal ini sesuai dengan Al-Qur’an yang dinyatakan dalam surah At- Taubah [9] : 103 dan Ar-Rum [30] : 39 tersebut. Dengan demikian, zakat yang diambil dari harta orang-orang yang mampu (muzakki ) akan mengembangkan dan menyucikan harta itu sendiri.

Menurut M.A. Mannan, secara umum fungsi zakat meliputi bidang moral, sosial dan ekonomi. Dalam bidang moral, zakat mengikis ketamakan dan keserakahan hati si kaya. Sedangkan dalam bidang sosial, zakat berfungsi untuk menghapuskan kemiskinan dari masyarakat. Di bidang ekonomi, zakat mencegah penumpukan kekayaan di tangan sebagian kecil manusia dan merupakan sumbangan wajib kaum muslimin untuk perbendaharaan negara.

Penerapan sistem zakat akan mempunyai berbagai implikasi di berbagai segi kehidupan, antara lain :

  • Memenuhi kebutuhan masyarakat yang kekurangan
  • Memperkecil jurang kesenjangan ekonomi;
  • Menekan jumlah permasalahan sosial, kriminalitas, pelacuran, gelandangan, pengemis dan lain-lain.
  • Menjaga kemampuan beli masyarakat agar dapat memelihara sektor usaha.Dengan kata lain, zakat menjaga konsumsi
  • Masyarakat pada tingkat yang minimal sehingga perekonomian dapat terus berjalan;
  • Mendorong masyarakat untuk berinvestasi, tidak menumpuk hartanya ( idle).

Di zaman yang serba modern ini, tentu perekonomian juga terpengaruh dari komodern-an zama seperti cara berfikir, penggunaan teknologi dan transaksi yang digunakan. Bagaimanapun zamannya zakat tetap wajib dikeluarkan oleh si kaya. Jangan sampai perekonomian modern menimbulkan liberalisme yang terus mengkayakan si kaya namun memiskin si miskin. Semakin majunya perekonomian suatu negara/kelompok/individu maka dengan berzakat dapat menyingkirkan keserakahan dalam diri akibat dari sistem perekonomian liberal.

Seiring berkembangnya sistem perekonomian modern, maka seharusnya sumber zakat pun juga harus berkembang dengan muncuknya berbagai sumber-sumber ekonomi ataupun pendapatan yang dimiliki suatu kelompok/individu., karena tujuan zakat adalah transfer kekayaan dari masyarakat yang kaya kepada masyarakat yang kurang mampu, sehingga setiap kegiatan yang merupakan sumber kekayaan harus menjadi sumber zakat.

Eksistensi zakat dalam kehidupan manusia baik pribadi maupun kolektif pada hakikatnya memiliki makna ibadah dan ekonomi. Di satu sisi, zakat merupakan bentuk ibadah wajib bagi mereka yang mampu dari kepemilikan harta dan menjadi salah satu ukuran variabel utama dalam menjaga kestabilan sosial ekonomi agar selalu berada pada posisi aman untuk terus berlangsung. Dari perspektif kolektif dan ekonomi, zakat akan melipatgandakan harta masyarakat. Proses pelipatgandaan ini dimungkinkan di pasar yang kemudian mendorong pertumbuhan ekonomi dan pada akhirnya akan meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Peningkatan permintaan terjadi karena perekonomian mengakomodasi golongan manusia tidak mampu untuk memenuhi kebutuhan minimalnya sehingga pelaku dan volume pasar dari sisi permintaan meningkat. Distribusi zakat pada golongan masyarakat kurang mampu akan menjadi pendapatan yang membuat mereka memiliki daya beli atau memiliki akses pada perekonomian.

Sementara itu, peningkatan penawaran terjadi karena zakat memberikan disinsentif bagi penumpukan harta diam (tidak diusahakan dengan mengenakan ‘potongan’ sehingga mendorong harta untuk diusahakan dan dialirkan untuk investasi di sektor riil. Pada akhirnya, zakat berperan besar dalam meningkatkan pertumbuhan ekonomi secara makro. Dengan adanya mekanisme zakat, aktivitas ekonomi dalam kondisi terburuk sekalipun dipastikan akan dapat berjalan paling tidak pada tingkat yang minimal untuk memenuhi kebutuhan primer. Oleh karena itu, instrumen zakat dapat digunakan sebagai perisai terakhir bagi perekonomian agar tidak terpuruk dari kondisi krisis di mana kemampuan konsumsi mengalami stagnasi.

Zakat memungkinkan perekonomian terus berjalan pada tingkat yang minimum karena kebutuhan konsumsi minimum dijamin oleh dana zakat. Dari penjelasan tersebut, secara ringkas penerapan sistem zakat akan berdampak positif di sektor riil dalam beberapa hal, antara lain :

  • Zakat menjadi mekanisme baku yang menjamin terdistribusinya pendapatan dan kekayaan sehingga tidak terjadi kecenderungan penumpukkan faktor produksi pada sekelompok orang yang berpotensi menghambat perputaran ekonomi.
  • Zakat merupakan mekanisme perputaran ekonomi ( velocity ) itu sendiri yang memelihara tingkat permintaan dalam ekonomi. Dengan kata lain, pasar selalu tersedi bagi produsen untuk memberikan penawaran. Dengan begitu, sektor riil selalu terjaga pada tingkat yang minimum tempat perekonomian dapat berlangsung karena interaksi permintaan dan penawaran selalu ada.
  • Zakat mengakomodasi warga negara yang tidak memiliki akses ke pasar karena tidak memiliki daya beli atau modal untuk kemudian menjadi pelaku aktif dalam ekonomi sehingga volume aktivitas ekonomi realtif lebih besar (jika dibandingkan dengan aktivitas ekonomi konvensional).

Selain itu, eksistensi zakat dalam kehidupan manusia baik pribadi maupun kolektif pada hakikatnya memiliki makna ibadah dan ekonomi. Di satu sisi, zakat merupakan bentuk ibadah wajib bagi mereka yang mampu dari kepemilikan harta dan menjadi salah satu ukuran variabel utama dalam menjaga kestabilan sosial ekonomi agar selalu berada pada posisi aman untuk terus berlangsung.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s