RESENSI BUKU NON FIKSI : EMANSIPASI

IDENTITAS BUKU

Judul Buku                  : Emansipasi

ISBN                           : 978-602-8252-96-6

Penulis                         : R.A. Kartini

Penerjemah                  : Sulastin Sutrisno

Penyelaras Bahasa       : Sistha Pavitrasari

Desain Sampul            : Ong Hari Wahyu

Tata Letak Isi              : Inamul Haqqi

Penerbit                       : Jalasutra

Kota Terbit                  : Yogyakarta

Tahun                          : 2014

Harga                          : Rp 125.000

Jumlah Halaman          : xxviii + 580 halaman

Ukuran Buku              : 15 x 23 cm

Dicetak oleh                : Percetakan Jalasutra

ISI BUKU

Buku Emansipasi adalah terjemahan dari buku Door Duisternis Tot Licht yang merupakan kumpulan surat R.A. Kartini kepada temantemannya terutama orang-orang Belanda. Adapun isi dari surat-surat itu adalah tentang cita-citanya untuk memajukan kaum wanita, harapan-harapanya dan perjalanan hidupnya. Kumpulan surat ini pertama kali diterbitkan oleh Mr. J.H. Abendanon pada tahun 1911.Semua surat ini diterjemahkan dan disusun berurutan menurut tanggalnya di antara surat-surat yang telah ada yang disusun berurutan juga.

Bangsa Jawa dalam subjudulnya yang asli diganti dengan “bangsanya”, karena jika diteliti, walaupun Kartini hampir selalu menyebutkan bangsa “Jawa”, namun yang didambakan itu adalah kemajuan seluruh bangsa Indonesia juga.

R.A. Kartini lahir pada tanggal 21 April 1879. Beliau anak salah seorang bangsawan yang masih sangat taat pada adat istiadat.Ia memiliki dua ibu, garwa padmi R.A. Moerjan (yang adalah istri utama yang mendampingi suaminya di acara-acara resmi), dan garwa ampil M.A. Ngasirah (istri pertama tapi bukan utama dan ibu kandung Kartini), yang adalah istri lain yang dinikahi secara sah. Ayah mereka, yang merupakan bupati Jepara, tidak membedakan antara anak garwa ampil dan garwa padmi. Hanya saja, ia mendiskriminasikan antara anak perempuan dan anak lelaki, sesuai adat zaman itu. Kartini akrab dengan dua adiknya, R.A. Roekmini dan R.A. Kardinah. Mereka sering disebut tiga saudara atau Tiga Serangkai.

Pada usia 12 ½ tahun, Kartini masuk pingitan seperti gadis-gadis seusianya, dikurung dalam kabupaten. Hal itu merupakan tradisi yang tak bisa dibantah. Dalam masa awal pingitan, yang dikatakan Kartini seperti di neraka, tiap malam ia membasahi bantal dan guling di tempat tidurnya dengan air mata.Lama kelamaan Kartini menyadari menangis juga tiada gunanya. Ia mulai mengupas pertanyaan-pertanyaan yang ada di benaknya. Mengapa perempuan harus dipingit dan laki-laki diperbolehkan sekolah? Setelah menyelidiki ia menemukan musuh terbesarnya: poligami. Pada awalnya, selama 4 tahun ia dipingit seorang diri (1892-1896), kemudian ditambah dua tahun lagi, tetapi bersama Roekmini, lalu disusul Kardinah.

Ketiganya dibebaskan lagi pada tahun 1898. Mereka mulai berusaha mewujudkan impian mereka sewaktu di pingitan; mendirikan sekolah untuk wanita. Sekitar tahun 1900 Kartini dan kedua adiknya mendapat izin untuk belajar di Batavia dengan subsidi yang disetujui pemerintah, lewat bantuan keluarga J.H. Abendanon. Tn. Abendanon mengirim surat pada bupati Japara, ayah Kartini, untuk meminta keterangan yang diperlukan. Tetapi balasannya mengejutkan, Bupati Japara menarik kembali izinnya! Balasan itu benar-benar pukulan besar baik bagi Abendanon, sebab usaha kerasnya mengusahakan subsidi sia-sia, maupun Kartini sendiri. Diduga, Kartini sangat sedih sampai tidak sadarkan diri, seperti isi suratnya kala itu.

RA Kartini menuliskan kegelisahan hatinya menyaksikan wanita Jawa yang terkungkung adat sedemikian rupa. Tujuan utama beliau adalah menginginkan hak pendidikan untuk kaum wanita sama dengan laki-laki. Tidak lebih. Ia begitu prihatin dengan budaya adat yang mengungkung kebebasan wanita untuk menuntut ilmu.

Kartini memiliki cita-cita yang luhur pada saat itu yaitu mengubah masyarakat. Khususnya kaum perempuan yang tidak memperoleh hak pendidikan. Juga untuk melepaskan diri dari hukum yang tidak adil dan paham-paham materialisme untuk kemudian beralih ke keadaan ketika kaum perempuan mendapatkan akses untuk mendapatkan hak dan dalam menjalankan kewajibannya. Ini sebagaimana terlihat dalam tulisan Kartini kepada Prof Anton dan Nyonya pada 4 oktober 1902 yang isinya, “Kami di sini memohon diusahakan pengajaran dan pendidikan anak-anak perempuan, bukan sekali-kali, karena kami menginginkan anak-anak perempuan itu menjadi saingan laki-laki dalam perjuangan hidupnya, tapi karena kami yakin akan pengaruhnya yang besar sekali bagi kaum wanita, agar wanita lebih cakap melakukan kewajibannya; menjadi ibu, pendidik manusia yang pertama-tama.”
Menurut Kartini ilmu yang diperoleh para wanita melalui pendidikan ini sebagai bekal mendidik anak-anak kelak agar menjadi generasi berkualitas. Bukankah anak yang dibesarkan dari ibu yang berpendidikan akan sangat berbeda kualitasnya dengan mereka yang dibesarkan secara asal? Inilah yang berusaha diperjuangkan Kartini saat itu.

Dalam buku tersebut Kartini adalah sosok yang berani menentang adat-istiadat yang kuat di lingkungannya. Dia menganggap setiap manusia sederajat sehingga tidak seharusnya adat-istiadat membedakan berdasarkan asal-usul keturunannya. Memang, pada awalnya Kartini begitu mengagungkan kehidupan liberal di Eropa yang tidak dibatasi tradisi sebagaimana di Jawa. Namun, setelah sedikit mengenal Islam. Pemikiran Kartini pun berubah, yakni ingin menjadikan Islam sebagai landasan dalam pemikirannya. Kita dapat menyimak pada komentar kartini ketika bertanya pada gurunya, Kyai Sholeh bin Umar, seorang ulama besar dari Darat Semarang, sebagai berikut:
“Kyai, selama kehidupanku baru kali inilah aku sempat mengerti makna dan arti surat pertama dan induk Al Quran yang isinya begitu indah menggetarkan sanubariku. Maka bukan bualan rasa syukur hatiku kepada Allah. Namun, aku heran tak habis-habisnya, mengapa para ulama saat ini melarang keras penerjemahan dan penafsiran Al Quran dalam Bahasa Jawa? Bukankah Al Quran itu justru kitab pimpinan hidup bahagia dan sejahtera bagi manusia?”.

Demikian juga dalam surat Kartini kepada Ny Van Kol, 21 Juli 1902 yang isinya memuat, “Moga-moga kami mendapat rahmat, dapat bekerja membuat umat agama lain memandang agama Islam patut disukai.”

Selain itu Kartini mengkritik peradaban masyarakat Eropa dan menyebutnya sebagai kehidupan yang tidak layak disebut sebagai peradaban. Bahkan ia sangat membenci Barat. Hal ini diindikasikan dari surat Kartini kepada Abendanon, 27 Oktober 1902 yang isinya berbunyi, “Sudah lewat masamu, tadinya kami mengira bahwa masyarakat Eropa itu benar-benar satu-satunya yang paling baik, tiada taranya. Maafkan kami, apakah Ibu sendiri menganggap masyarakat Eropa itu sempurna? Dapatkah Ibu menyangkal bahwa di balik sesuatu yang indah dalam masyarakat ibu terdapat banyak hal-hal yang sama sekali tidak patut disebut peradaban?”

Saat menerima beasiswa ke Batavia, ia dinikahkan oleh Raden Adipati Joyodiningrat. Kartini tidak menyangka, ternyata dalam pernikahannya, ia menghadapi musuh terbesarnya sejak pingitan: poligami. Bupati Djojoadiningrat sudah memiliki tiga garwa ampil. Meski begitu, Kartini menjalankan pernikahannya tanpa mengeluh. Ia merawat tiap anak-anak tirinya dengan ikhlas.

Kartini sempat sakit saat mengandung anaknya. Anaknya lahir tanggal 13 September 1904, dinamai R.M. Singgih, kemudian diganti menjadi R.M. Soesalit. Kemudian 4 hari setelah melahirkan anaknya, tepatnya tanggal 17 September 1904, ia meninggal. Setahun setelah perginya Kartini, ayahnya Bupati Sosroningrat, pada tanggal 21 Januari 1905 menyusul putri tersayangnya ke alam baka.

Kabar meninggalnya Kartini didengar keluarga Abendanon sebelum mereka pindah kembali ke Belanda. Abendanon, yang berhasil menghalang-halangi Kartini belajar ke Belanda, merasa bersalah telah merebut impian terbesar Kartini. Untuk menebus kesalahannya, ia akan berusaha mewujudkan cita-cita Kartini dengan mendirikan sekolah-sekolah untuk para gadis Jawa dan sebagai penghormatan tinggi kepada Kartini, ia akan menerbitkan surat-surat Kartini sebagai buku. Maka demikian terbitlah buku Door Duisternis Tot Licht (Melalui Alam Gelap menuju Dunia Terang).

Di tahun-tahun terakhir sebelum wafat ia menemukan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang bergolak di dalam pemikirannya. Ia mencoba mendalami ajaran yang dianutnya, yaitu Islam. Pada saat Kartini mempelajari Islam dalam arti yang sesungguhnya dan mengkaji isi Al Quran melalui terjemahan bahasa Jawa, Kartini terinspirasi dengan firman Allah SWT (yang artinya), ” … mengeluarkan mereka dari kegelapan (kekafiran) kepada cahaya (iman) (QS Al Baqarah [2]: 257),” yang diistilahkan Armyn Pane dalam tulisannya dengan, “Habis Gelap Terbitlah Terang”.

Demikianlah, Kartini adalah sosok yang mengajak setiap perempuan memegang teguh ajaran agamanya dan meninggalkan ide kebebasan yang menjauhkan perempuan dari fitrahnya. Beberapa surat Kartini di atas setidaknya menunjukan bahwa Kartini berjuang dalam kerangka mengubah keadaan perempuan pada saat itu agar dapat mendapatkan haknya. Di antaranya menuntut pendidikan dan pengajaran untuk kaum perempuan yang juga merupakan kewajibannya dalam Islam.

KEUNGGULAN BUKU

Buku Emansipasi turut membawa pembaca larut dalam imajinasi dan merasakan di kehidupan Kartini. Semua surat diterjemahkan lengkap. Meskipun buku ini novel terjemahan, bagi pembaca penggunaan Bahasa Indonesia dalam novel ini sudah baik dan benar. Di samping surat-surat Kartini, dalam terjemahan ini disertakan lampiran-lampiran untuk menambah pengertian yang lebih jelas mengenai beberapa peristiwa dalam surat-surat itu sehingga pembaca paham dan dapat mengikuti perjalanan Kartini.

Buku ini sudah dikemas dengan cover yang berwarna, kualitas kertas yang bagus dan tebal,serta dilengkapi dengan gambar atau foto-foto kartini dan kondisi saat itu sehingga kita bisa berimajinasi lebih dalam dan itu menjadi ketertarikan sendiri untuk mmebuka buku ini.

Buku ini tentu menambah wawasan pembaca, serta menemukan hikmah dibalik jalan kehidupannya Kartini. Sehingga bisa menjadi dasar kita dalam bertindak kedepannya

KELEMAHAN BUKU

Di beberapa surat terdapat bagian-bagian yang sama, karena surat-surat itu ditujukan kepada beberapa orang. Lalu, ukuran buku yang besar dan berat membuat pembaca agak sulit membawa dan membacanya sesuka hati, dimanapun dan kapanpun. Dan harga yang cukup mahal mungkin salah satu alasan untuk bisa membeli buku emansipasi

KESIMPULAN

Kumpulan surat Kartini merupakan dokumentasi penting bagi bangsa Indonesia pada umumnya, kaum perempuan pada khususnya. Kegigihan Kartini dalam memperjuangkan hak wanita dalam pendidikan sangat menginspirasi pembaca. Jadi banyak hikmah serta keteladanan dalam diri Kartini.

Perjuangan memang belum berakhir, di era globalisasi ini masih banyak dirasakan penindasan dan perlakuan tidak adil terhadap perempuan. Jadi, sebagai generasi bangsa marilah kita teruskan perjuangan RA Kartini dengan cara belajar yang tekun dan selalu budayakan literasi membaca, menulis dan berdiskusi. Dengan demikian lebih mudahlah dapat diikuti apa yang dengan gigih diperjuangkan atau ingin dilaksanakan Kartini.

SARAN

Kartini bukan hanya seorang pejuang emansipasi wanita. Ia juga seorang yang memiliki jiwa nasionalisme, rendah hati, dan keadilan. Sebab itu buku ini sangat disarankan untuk dibaca kaum muda, agar mengetahui bagian hidup R.A. Kartini yang belum didengar. Sebab menurut penulisnya sendiri, biasanya cerita tentang pahlawan emansipasi ini sudah melenceng dari aslinya.

Dan untuk kamu yang tidak memiliki uang untuk membeli buku ini, maka sempatkalah untuk menabung sedikit demi sedikit. Atau dengan cara yang murah meriah adalah, kunjungi perpustakaan daerah mu, dan pinjam buku Emansipasi untu dibaca.

#MembacaMembangunJakarta

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s