RESENSI BUKU FIKSI : KHALIFAH CINTA

IDENTITAS BUKU

Judul Buku                  : Khalifah Cinta

ISBN                           : 978-602-1371-65-7

Penulis                         : A. Mubarak

Penyunting                  : Esvandiari

Proof Reader               : Eko Prasedja

Desain Sampul            : Willy Mahabi

Tata Letak                   : Ahmed Ghoseen A.

Penerbit                       : AG Publisher

Kota Terbit                  : Yogyakarta

Tahun                          : 2014

Harga                          : Rp 65.000

Jumlah Halaman          : viii + 371 halaman

Ukuran Buku              : 14 x 21 cm

Dicetak oleh                : CV. Alif Gemilang Pressindo

SINOPSIS

Khalifah cinta adalah buku novel pertama A. Mubarak yang terbit. Mengisahkan dua remaja Kampung Kidul, Gata dan Zein yang memiliki cita dan cinta yang tak biasa dan mulia untuk diperjuangkan. Berikut cerita singkat novel Khalifah Cinta

Malam itu Kampung Kidul menderu-deru. Hujan deras dan angin kencang menghantam rumah-rumah penduduk. Kian malam hujan kian lebat. Kilat menyambar-nyambar laksana cemeti api yang diderakan pada para pembangkang. Berkelebat dan menggelegar di sudut-sudut gelap. Sungguh malam yang mencekam. Seorang Ibu hamil merintih kesakitan, mules karena usia kandungannya yang sudah tua dan sepertinya malam itu juga akan lahir seorang bayi dari rahimnya. Sang Suami, yaitu Pak Ahmad dengan gagah berani bergegas pergi melewati hujan nan lebat disertai gemuruh kilat mencari dukun beranak, yaitu Mbah Dina. Kesana kemari tidak ia jumpai Mbah Dina, dan Sang Suami pun pulang ke rumah dengan tangan kosong. Ia sangat menyesalinya. Ia masih memeluk deritanya di teras. Tapi, tangisan bayi yang kencang memanggilnya. Sang Suami yang juga dipanggil Ayah kaget bukan kepalang , karena istrinya tidak sendirian, ia ditemani Simbok dan Mbah Dina. Wajah Ayah berubah, matanya berbinar-binar. Senyumnya lebar, bahagia sekali melihat sang bayi telah lahir di muka bumi ini. Kemudian bayi itu dinamai Zein.

Paginya, semua mata terbelalak : pohon-pohon bertumbangan, payon-payon rumah terlempar, dan pelataran rumah berubah menjadi lautan dedaunan. Kotor. Porak-poranda. Di waktu Dhuha, pagi hari yang cerah dan bersemangat. Gata, anak pertama Pak Madid an Bu Tini singgah ke dunia disambut hangat sang mentari, dihibur ceracau merdu burung-burung. Gata kemudian mengazani telinga kanan dan meng-iqomati telinga kiri anaknya. Hal itu membuat ayah Zein iri kenapa tidak mengazani dan meng-iqomati anaknya. Padahal Pak Madi yang berstatus pengusaha kaya tidak banyak tahu soal agama. Berbeda dengan Pak Ahmad yang seorang ustadz, guru ngaji.

Pak Ahmad ingin anaknya kelak menjadi seorang Da’I dengan harapan bisa meluruskan aqidah masyarakat Kidul yang terbiasa akan tradisi-tradisi menuju kemusyrikan, menyekutukan Allah. Zein masuk di Pondok Pesantren Khalafiah sejak tsanawiyah. Ia memiliki teman pondok bernama Marna.

Gata, anak Pak Madi merupakan sahabat dekat Zein di Kampung Kidul. Mereka sekawanan dengan Timin dan Kio. Saat pengumuman kelulusan, Gata tidak lulus dari sekolahnya. Membuat Pak Madi sangat kecewa dan marah besar dengan Gata. Sungguh mencoreng nama baik keluarga.

“Aku mau pindah ke pesantren saja, Pak.” Tiba-tiba kalimat berani meloncat dari mulut Gata.

“Hah! Apa kamu bilang? Bilang apa kamu barusan? Dasar anak tak tahu diiuntung!”

“Seharusnya kamu berpikir siapa ayahmu. Pengusaha! Pengusaha! Bukan petani! Bukan nelayan! Bukan ustaz!”

“Tapi aku tidak mau jadi pengusaha macam ayah!”

“Plak!”

Kejadian itu membuat kedekatan Pak madi dan Pak Ahmad menjadi jauh dan tegang. Disebut-sebut ketidaklulusan Gata terjadi karena Pak Ahmad, guru ngaji Gata tidak meluangkan Gata untuk belajar ujian sekolahnya dan terus mengaji saat ujian berlangsung serta mendoktrin Gata agar masuk pesantren seperti anaknya, Zein. Keadaan itu sangat memukul Pak Ahmad beserta keluarga, termasuk Zein karena kedekatan mereka dengan keluarga Pak Madi benar-benar dekat seperti saudara. Gata merupakan murid kesayangan Pak Ahmad. Gata sangat cerdas dan akhlaknya baik. Pak Ahmad menganggap Gata sudah seperti anaknya sendiri.

Pak Madi beserta keluarga pergi ke luar kota, entah sebentar atau selamanya. Alasan yang terdengar adalah karena Pak Ahmad. Pak Ahmad merasa bersalah karena belum sempat meminta maaf untuk kedua kalinya (yang pertama sudah, namun ditolak dan membuat Pak madi tambah gusar dengannya). Sehari, dua hari, 3 hari, 1 minggu, 3 minggu menunggu, tapi Pak Madid an keluarga belum juga pulang. Dan akhirnya sekitar sebulanan, Pak Madi beserta istri dan Gata pulang ke Kampung Kidul dan membawa kabar gembira.

“Lusa Bapak mau ke pesantren, ngurus Gata pindahan”, Pak Ahmad memulai dan tampak senang.

Zein benar-benar tidak percaya. Dan hubungan persaudaran mereka dengan Pak madi pun erat kembali.

Sebelum berangkat ke Pesantren, Gata pamitan dengan seorang wanita, namanya Shinta. Ia adalah kekasih Gata. Perawakannya cantik, yatim dan hampir piatu karean nayris ditinggal ayahnya merantau ke negeri seberang. Nasibnya, tak seindah wajahnya. Gata mengakui bahwa ketidaklulusan ujian kemarin lantaran ia tidak mempunyai waktu untuk belajar karena kekasihnya, Shinta, sakit disaat Gata sedang ujian. Ia harus menemani Shinta yang terbaring lemah tak berdaya di kamarnya.

“Padanya aku menaruh sayangku. Rasa cinta menuntuku untuk selalu berkorban. Apa saja. Apa saja kan ku lakukan untuknya. Aku sudah terlalu jauh melangkah kepadanya. Dunianya, semuanya aku tahu dan setuju. Kami juga pengertian. Meski kadang aku harus lebih mengerti darinya, itulah jiwa seorang lelaki, “ lanjut Gata.

Zein yang tenang menyimak, sebenarnya ingin sekali mengkritisi kalimat Gata. Tapi, niatnya itu diurungkan untuk mendengar curhatan sahabatnya itu

Perpisahan dengan Gata membuat Shinta sangat terpuruk sekali dan tak mau melepas Gata. Nampaknya Shinta memang ditakdirkan untuk ditinggalkan oleh orang-orang yang ia sayangi, di mana sebelumnya ayah dan ibunya telah meninggalkannya.

***

Tahun ajaran ini, Zein memasuki kelas 1 aliyah sedangkan Gata kelas 3 tsanawiyah, ini bukan menjadi masalah bagi Gata, justru dia sangat senang dan semangat belajar di pondok walaupun diawali dengan kelas 3 tsanawiyah dan harus melalui kegiatan mabisma, semacam pengenalan akademik untuk santri dan santriawati pondok pesantren Khalafiah.

Saking banyaknya santri/santriwati yang mondok di pesantren Khalafiah, muncul kebijakan baru bahwa para senior diizinkan untuk tidak menetap di pesantren namun bisa tinggal di rumah-rumah masyarakat sekitar pondok. Sedangkan santri/santriawati baru ditekankan untuk mondok di asrama pesantren. Gata tidak mengindahkan kebijakan tersebut, ia lebih memilih tinggal bersama Zein, sahabat karibnya daripada mondok di pesantren yang pasti ada banyak peraturan yang wajib dipatuhi.

Zein tinggal di rumah masyarakat, dekat dengan rumah Hatly, santriwati satu kelas dengan Zein yang sering dibicarakan oleh para santri karena kecantikannya. Banyak santri yang tergila-gila dengannya. Hatly buka wanita yang mudah tergoda dengan tipu rayu para santri. Selain cantik, Hatly yang merupakan anak Pak Ustadz di pesantren Khalafiah, merupaka sosok yang alim, sholehah, juga cerdas.

Marna, merupakan sahabat dekat Zein di Pondok. Ia sangat menggilai Hatly. Melalui Zein ia kerap kali mengirimkan salamnya pada pujaan hatiny Hatly, biasanya lewat surat. Namun, Hatly menolak, tidak menanggapi salam dari Marna melalui Zein. Dan Hatly pun berkata agak kejam pada Zein

“Jangan ulangi lagi kamu sampaikan orang yang tak kukenal itu! Aku tahu ke mana arah mata hatiku. Dan aku tak punya hati untuk kalian!”

***

Tiba-tiba Zein mendapat surat dari Kampung Kidul, sahabatnya, KIO. Dikabarkan bahwa Timin, sahabat bermainnya juga sedang sakit parah, karena kena “guna-guna”. Mendengar kabar itu Zein dan Gata langsung berangkat pulang ke rumahnya. Lalu mendapat Timin dalam kondisi baik-baik saja, sehat walafiat. Ternyata kabar surat dari Kio hanya akal-akalan saja agar mereka pulang atau mampir sebentar ke kampong halamannya.

Keesokan harinya Gata bertemu dengan Shinta. Sungguh tak disangka Shinta memutusi Gata sebelah pihak. Shinta sangat kecewa pada Gata karena surat-surat yang ia kirim selama Gata di pesantren tidak pernah terbalas. Sangat kaget bahwa Gata benar-benar tidak mengetahuinya. Di Pondok Pesantren Khalafiah semua surat-surat yang masuk selalu ‘dideteksi’, dan surat cinta tidak akan pernah lolos dan diterima oleh sang pemiliknya. Saat itu juga shinta mengabarkan bahwa dia akan menikah dengan Tino, pemuda satu kampung juga yang menggilai Shinta namun suka mabok-mabokkan.

Tak lama putus dengan Shinta, senyum sumringah muncul kembali di wajah Gata. Akhir-akhir ini Gata dekat dengan para akhwat, dan ia sering menulis dan membalas surat Ukhty. Ukhty adalah akhwat bercadar yang karismatis. Ia punya pengaruh besar di antara akhwat-akhwat yang lain. Namanya tak pernah sepi dan hampir selalu ada menghiasi forum-forum diskusi, majalah dinding dan seminar-seminar penting. Maka tak ayak, Jika Gata menyukainya

***

Zein sangat penasaran dengan ilmu yang berkaitan dengan musyrik. Lalu bersama Gata ia pergi ke rumah Kyai Dullah menaiki kereta. Kyai Dullah adalah alumni Pesantren Khalafiah yang kini terdengar rumor bahwa beliau membuka praktek perdukunan. Di tengah-tengah perjalanan, sesampaidi sebuah stasiun yang dituju Zein bertemu seorang wanita yang perawakannya mirip sekali dengan Hatly. Sungguh mengingatkan ia dengan Hatly, jantungnya berdegup sangat kencang dan pandangannya tak lepas dari wanita itu. Ia rindu Hatly. Saat itu juga Zein menyadari bahwa ia menggilai Hatly. Dan ini lah cinta pertama Zein dengan seorang wanita.

Beberapa hari kemudian, Pondok Pesantren Khalafiah mengadakan pesta demokrasi, pemilihan ketua OSIS. Terdapat 3 kandidat calon ketua OSIS, yaitu Alif, Anam, dan Majid. Kebetulan Marna dan Zein dipercaya untuk menjadi juru kampanye Majid.

“Majid hanya seorang amanat bila diberi tugas. Seorang yang jujur ketika berbicara. Seorang yang adil tatkala berbagi. Seorang yang konsisten atau istiqamah di jalanNya. Ia bahkan orang yang sederhana sekali. Ia tidak terlalu pintar, namun sangat jenius. Ia tidak terlihat ganteng, namun mulia hatinya. Ada sosok Abu Bakar dalam dirinya. Bukankah diantara Umar, Usman dan Ali, Abu Bakarlah yang menjadi khalifah pertama sepeninggal Rasul? Tanyakan itu pada pribadi masing-masing!”, tegas Zein.

Pengambilan suara telah dipungut. Santri dan santriawati sangat antusias memilih pilhannya. Setelah perhitungan suara selesai, didapati suara terbanyak adalah Majid. Dan secara sah, Majid menjadi ketua OSIS baru Pesantren Khalafiah. Salah satu prokernya pun bersama dengan warga Pesantren, yaitu AMDA (Amaliah Dakwah), kegiatan selama Ramadhan seperti berceramah, bazar, mengajar masyarakat ilmu agama, bakti sosial dan lain-lainnya sukses dilaksanakan di kampong Kidul, tempat tinggal Zein dan Gata.

Belum lama dari pemilihan ketua OSIS, Zein mengungkap perasaannya pada Hatly. Ia tidak bisa membendung rasa yang terpendam dalam hatinya seorang diri. Dan sungguh bahagia, tak disangka, Hatly pun membalas cinta Zein. Marna yang mengetahui info tersebut sangat sakit hati, lantaran temannya sendiri pun menyukai Hatly. Dengan perasaan menyesal Zein sangat terpukul karena Marna sangat kecewa. Saat itu pula persahabatan mereka terhenti sesaat.

***

Pengumuman kenaik kelas tiba dan sujud syukur , Zein naik kelas 2 dengan pertimbangan para ustaz pesantren karena ia diketahui pacaran dengan Hatly. Hampir saja ia tidak naik kelas karena itu. Waktu liburan, ia habiskan di Kampung Kidul. Dan sungguh tak percaya, ayahnya, Pak Ahmad difitnah oleh warga kampung mengambil uang mushalla, padahal uang itu dibobol oleh maling di rumahnya. Dan untuk mengganti uang tersebut, Pak Ahmad terpaksa meninggalkan keluarganya, merantau ke luar negeri. Hal ini membuat Zein membuat keputusan untuk cuti, tidak melanjutkan sekolah semester depan untuk melindungi dan membantu ibu dan adiknya di rumah. Namun keputusan itu berubah, setelah teman pesantrennya Gata, Marna, dan lainnya menjenguk Zein ke rumah lantaran dia sudah beberapa hari ini tidak ke pondok. Zein sangat senang, apalagi Marna menjenguknya, itu menunjukkan bahwa Marna telah memaafkannya dan mereka akrab kembali. Akhirnya Zein pun kembali melajutkan studi pesantrennya.

***

Gata, santri cerdas, tampan, dan banyak dikagumi santriawati di pesantren bersiap menyatakan perasaannya pada Ukhty, perempuan solehah nan alim dan inspirator untuk akhwat-akhwat lainnya di Pesantren. Pernyataan pada Gata pada Ukhty ditolak, justru membuat Ukthy marah besar padanya. Pantang menyerah, untuk kedua kalinya Gata menyatakan perasaannya kembali pada Ukhty, lagi-lagi ditolak

“Maafkan aku, Ta. Aku tidak bisa lagi menerima sebagai pacar maupun teman. Mulai sekarang anggaplag kita tak pernah bertemu. Tak saling kenal. Kita adalah orang asing”, tegas Ukhti

Pernyataan Ukhti benar-benar membuat hati dan pikiran Gata remuk. Ia Depresi karena itu. Gata pergi ke tempat yang jauh membawa uang puluhan juta milik ayahnya, Pak Madi. Tidak ditemukan oleh keluarga dan masyarakat. Semua sedih dan merasa kehilangan, apalagi Ibu Tini dan pak Ahmad selaku orangtuanya. Begitu pun dengan Zein, Pak Ahmad dan sahabt-sahabat Gata. Dicari kesana-kemari tetap tidak ketemu. Ukhti yang mendengar info itu sangat menyesal. Ditemukan beberapa kumpulan puisi yang Gata tulis sebelum pergi.

            Tanyakan semua ini pada Allah

            Untuk cinta-cinta yang pernah aku cintai

            Terimakasih berkat kalian kutemukan cinta hakiki

            Bermunajat padaNya sungguh indah

            Tiada lagi yang akan merasakan sakit, kecewa dan terluka

            Karena tiada satu pun cinta yang tak terbalas olehNya

            Jika berjalan mendekatiNya, ia akan berlari mengejar kita, memeluk kita

            Cinta kepada Sang Pencipta adalah keniscayaan

            Cinta kepada sesame ciptaan adalah obsesi semata

Ya, Gata telah menemukan cinta sejatinya yang hakiki. Beberapa hari kemudian Gata kecelakaan tertabrak kereta dan dokter menyatakan Gata telah meninggal. Innalillahi. Terpukullah semua masyarakat yang mengenal Gata.

KEUNGGULAN BUKU

Buku ini mengandung sebuah cerita yang sangat menarik. Mampu membuat pembaca merasa seperti terhanyut dan terbawa ke dalam cerita didalamnya. Gaya bahasa yang digunakan pada novel ini merupakan gaya bahasa yang baik dan pusitis serta banyak puisi yang ditulis dari tokoh-tokoh, Didalamnya selain menggunakan Bahasa Indonesia yang baik dan benar, juga terdapat Bahasa Jawa dan Arab sehingga memperkaya kata-kata pembaca

Dengan membaca novel ini kita dapat mengetahui arti perjuangan hidup, persahabatan, cita dan cinta yang membelit. Selain itu informasi-informasi tentang Kampung Kidul, tradisi Jawa serta fiqih dan akidah agama sehingga bermanfaat dan menambah pengetahuan pembaca.

Banyak sekali pelajaran yang dapat kita teladani dari novel tersebut seperti keagamaan, moral, cinta pertama yang indah, ketegaran hidup, bahkan makna sebuah takdir yang tidak bisa kita tebak. Selain itu kita dapat mencontoh tokoh-tokoh yang dapat diteladani seperti tokoh-tokoh manusia sederhana, jujur, tulus, gigih, penuh dedikasi, ulet, sabar, tawakal, takwa, dan sebagainya.

Selain itu, buku ini juga sudah dikemas dengan cover yang berwarna,kualitas kertas yang bagus dan tebal,serta dilengkapi dengan gambar yang menarik

KELEMAHAN BUKU

Dalam buku ini terdapat beberapa kata yang menggunakan Bahasa Jawa dan Arab, namun tak menyertakan artinya baik di bagian bawah kertas atau disela-sela penggalan cerita sehingga membuat pembaca non Jawa ataupun Arab tidak mengerti dan harus menerka-nerka sendiri artinya, contoh ‘takhasus’ (Bahasa Arab) dan nderes (Bahasa Jawa)

 

KESIMPULAN

Secara keseluruhan saya menilai novel ini bagus dan menginspiraif bagi pembaca. Buku ini juga sarat hikmah, dakwah, dan rasa persahabatan yang sangat kental. Tuturannya mengalir, menyentuh, mencerahkan, menggelikan, membidik pusat kesadaran, dan jauh dari sifat menggurui. Dan hal yang terpenting yang ada di balik novel ini adalah kita dapat mengambil pelajaran bahwa sesungguhnya cinta sejati yang hakiki adalah cinta kepada Tuhan. Ini menilai bahwa buku ini baik untuk dipublikasikan karena akan menyadarkan kita agar tidak menyalahkan makna cinta sesungguhnya

SARAN

Buku ini cocok dibaca untuk seluruh kalangan masyarakat terutama untuk para pemuda yang mudah dan sering dilanda jatuh cinta akibat pubertas. Buku ini tidak hanya mengajarkan kita dari segi pengetahuan tapi juga segi agama dan moral. Sangat terhibur membaca buku ini. Segera miliki dan baca buku ini

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s