Menuju Peradaban Kota Jakarta yang Berkarater Melalui Membaca

Jakarta dengan segala kelebihan dan kekurangannya, kian hari selalu menghipnotis banyak masyarakat Indonesia maupun mancanegara untuk berkunjung dengan berbagai kepentingan. Seakan ada magnet dalam kota ini yang membuat jumlah penduduk Jakarta tiap tahunnya selalu meningkat. Pergerakan di setiap ruang dan sudut kota kian menyelimuti baik pagi ataupun siang hari, selalu berotasi tanpa henti menyibukkan setiap insan yang berada di dalamnya.

Selain dikenal luas sebagai ibukota Negara dan pusat pemerintahan Republik Indonesia, kota ini juga merupakan pusat perekonomian, perdagangangan, pariwisata, jasa, politik dan sosial dan masih banyak lagi. Tidak mengherankan bahwa 70% peredaran uang bangsa ini berpusat di Jakarta. Dan inilah salah satu faktor para urban tertarik untuk memadatinya.

Jakarta City in The NightSebagai pusatnya berbagai kegiatan serta memiliki banyak keanekaragaman yang unik, ini tentunya harus menjadi kesempatan dan peluang untuk merealisasi semua kepentingan yang positif demi hak rakyat. Bukan malah, menjadikan momok penyebab kesemrawutan Jakarta.

Lucunya walaupun berbagai masalah menghantui Jakarta, tetapi kota ini tetap memiliki porsi cinta tersendiri di hati masyarakatnya, baik Jakarta tempo dulu, kondisi Jakarta saat ini ataupun berbagai harapan masa mendatang yang dengan izin-Nya serta dukungan berbagai pihak akan terealisasi dan tercapai sukses.

Selama berabad-abad Jakarta berkembang menjadi pusat perdagangan internasional yang ramai. Sebagai warga Jakarta kita perlu mengetahui sejarah kota ini dari berbagai sumber yang terpercaya, karena sejarah merupakan sesuatu yang berharga dan dapat menciptakan suatu perubahan. Melalui sejarah kita ketahui kejadian masa lalu sehingga kita dapat berfikir dan merencanakan sesuatu kedepannya dengan matang. Sejarah Jakarta banyak diketahui melalui prasasti-prasasti milik kerajaan besar seperti Tarumanegara, Sriwijaya maupun kerajaan Sunda

Dikenal pertama kali dengan nama Sunda Kelapa pada tahun 3 Masehi, saat itu Jakarta memang sudah menjadi wilayah terpenting dalam keberlangsungan masyarakatnya. Memiliki pelabuhan Sunda Kelapa yang sangat sibuk di muara sungai Ciliwung, menjadikan wilayah ini sebagai tempat persinggahan kapal-kapal asing baik kapal penumpang maupun kapal barang dari berbagai Negara seperti Tiongkok, Eropa (Portugis, Inggris, Belanda,dllnya), India dan Negara-negara Timur Tengah. Bangsa Eropa datang untuk pertama kalinya pada abad ke 5 yakni Portugis. Pada abad ke-16 , para pendatang Portugis diberi izin untuk mendirikan benteng pertahanan di Sunda Kelapa

Namun, sekitar abad ke-15 terjadilah perebutan Sunda Kelapa. Pada 22 Juni 1527, Fatahillah beserta pasukkannya dari sebuah kerajaan yang letaknya tak jauh dari Sunda Kelapa . Kemudia Fatahillah mengubah nama Sunda Kelap menjadi Jayakarta yang artinya kota kemenangan. Yang akhirnya tanggal 22 Juni diperingati sebagai hari kelahiran Kota Jakarta. Dan tiap tahun selalu berlangsung kemeriahan HUT kota Jakarta.

Akhir abad ke-16 bangsa Belanda datang ke Jayakarta. Dan pada tahun 1619, Syarikat Hindia Timur Belanda yang dipimpin Pieterszoon Coen Berjaya menawan Jayakarta dan mengusir bangsa Portugis dari Jayakarta. Kemudian mengubah nama Jayakarta menjadi Batavia (diambil dari nama suku Keltik yang pernah tinggal di wilayah negeri Belanda pada zaman Romawi). Semasa era Belanda, Batavia berkembang menjadi sebuah kota yang besar dan penting. Saat ini kita bisa melihat banyak bangunan-bangunan atau kebiasaan masyarakat yang masih berdiri atau tertanam Jakarta. Selama 3 abad nama Batavia terus melekat hingga Jepang datang ke Batavia

Penjajahan Jepang bermula pada tahun 1942 sampai 1945 dan kemudian mereka menukar nama Batavia menjadi Jakarta untuk menambah hati dan perhatian khusus penduduk Jakarta pada Perang Dunia Kedua Dan akhirnya sejak diproklamasikan kemerdekaan RI, 17 Agustus 1945 hingga sekarang, tak ada lagi perubahan nama, kecuali Jakarta. Pada tahun 1966, Jakarta memperoleh nama resmi Ibukota Republik Indonesia. Karena banyaknya perubahan nama, Jakarta pun mendapat juluakn “Kota 1001 nama”.

Telah kita ketahui bahwa Jakarta sejak dulu telah menjadi pusat pemerintahan dan kegiatan bisnis seperti halnya Jakarta saat ini yang memiliki perencanaan baik kedepannya. Tapi apakakah yang kita lihat saat ini sudah memenuhi perencanaan yang telah dibuat?

Dengan predikat ikon kebesaran dan kejayaan pada zamannya, Jakarta tempo dulu dibangun dan dikembangkan dengan perencanaan yang lebih baik serta dikelola jauh lebih baik pula. Pada masa-masa tersebut semuanya lebih tertata rapi, lebih Indah dan lebih nyaman bila dibandingkan dengan keadaan kota Jakarta hari ini yang menjadi penerus cerita kemegahan kota terbesar di Indonesia itu di era global ini.

Dahulu dengan banyaknya pohon-pohon rindang yang menyebar di kota, udara Jakarta pasti masih jauh lebih sejuk dengan lingkungan kota yang tertata dan terawat dengan baik sehingga masyarakat pun dapat menikmati alamnya dengan berjalan kaki, bersepeda, berkuda atau menggunakan rakit/perahu  di kali-kali atau kanal Jakarta yang masih bersih dan terpelihara. Rumah- rumah penduduk masih sedikit. Begitu pun halnya dengan jumlah penduduk yang sedikit, tidak padat seperti sekarang. Gedung-gedung pencakar langit masih sangat sulit untuk ditemui. Dan keberadaan mall serta cafe masih belum ada, yanga ada hanyalah pasar tradisional sehingga banyak lahan kosong yang berisi pohon-pohon ataupun berladang kebun atau padi bagi masyarakat. Hal itulah yang memberi keluwesan anak-anak Jakarta untuk bisa bermain di mana saja. Kondisi kali atau sungai yang masih bersih kerap kali dijadikan tempat mencuci, tempat pengambilan air untuk minum, berenang ataupun membajak sawah.

Keramahan masyarakat Jakarta, sikap peduli antar tetangga dan adanya kekeluargaan serta gotong royong merupakan salah satu ciri khas kota ini tempo dulu. Kebudayaan suku betawi baik campuran Portugis, Tiongkok ataupun Arab masih sangat melekat di kehidupan sehari-hari masyarakatnya, mulai dari penggunaan dialek Bahasa antar individu, makanan/minuman masyarakat, tradisi keluarga/masyarakat yang sering terlihat serta musik-musik dan tarian khas betawi yang mudah kita temui di pelosok kota ini. Hal ini membuat Jakarta menjadi tempat yang ramah untuk ditinggali bahkan tempat yang menarik dan nyaman bagi para pelancong dari Eropa maupun yang datang dari benua lain. Tak memungkiri hari ini pun masih banyak wisatawan yang berkunjung ke Jakarta.

Tapi tengoklah keadaannya sekarang, Jakarta tumbuh menjadi kota besar yang tak lagi mampu menampilkan daya tarik alaminya. Jakarta terus dibesarkan dalam kegersangan dan kesemrawutan. Kepadatan dan kekacauan di jalan raya tak ayal menjadi salah satu fokusan utama pemerintah Jakarta. Lonjakan jumlah kendaraan yang tidak diawasi serta tidak dibarengi penambahan jalan membuat macet di mana-mana setiap hari terjadi di sudut-sudut kota. Alhasil kerugian material maupun non material mendera masyarakat Jakarta. Jika dihitung-hitung pasti lebih dari 10 Triliun per tahun kerugian akibat dari kemacetan Jakarta

Kekumuhan di banyak lingkungan tempat tinggal warganya, begitu padatnya rumah-rumah yang dibangun memperburuk citra Jakarta. Dan menurut Survey beberapa tahun lalu bahwa kawasan Jakarta, yaitu pemukiman Tambora, Jakarta Barat disebut-sebut sebagai kampong terpadat dan terkumuh di Nusantara dan Asia Tenggara. Kondisi seperti itu sangat rawan terhadap bencana, terutama kebakaran. Lagi-lagi dapat menimbulkan kerugian yang besar.

Pencemaran air, udara, tanah dan bunyi menyelimuti kota ini sehingga menjadikan Jakarta menjasi kota yang berpolusi. Kekumuhan kali-kalinya yang penuh dengan sampah dan limbah serta pemukiman di bantaran kali, kehilangan banyak pohon pelindung dan taman-taman kotanya membuat Jakarta makin semrawut dan gersang yang menjadi salah faktor terbesar timbulnya banjir di Jakarta tiap tahun. Belum cukup berhenti sampai disitu untuk terus meratapi kota ini, keburaman kota Jakarta makin diperparah dengan tak terpeliharanya fasilitas-fasilitas umum yang dibangun dengan biaya yang tidak sedikit untuk kemudian hanya dibiarkan terbengkalai atau sekedar mendapatkan perawatan separuh hati.

Tersisa sangat sedikit sekali, kalau tidak boleh dibilang tidak ada lagi keindahan alami yang tersisa dari Jakarta tempo dulu. Perpaduan kota besar sebagai pusat pemerintahan dan kegiatan bisnis dengan keasrian alam yang terjaga, saat ini sudah tak terlihat lagi. Sebagai pengganti pemandangan gunung yang menentramkan yang dulu masih dapat dilihat dari kejauhan, kini pandangan mata kita selalu membentur gunung-gunung beton yang berbeda jauh sifatnya dengan gunung-gunung alam sebagai lumbung air. Gedung pencakar langit ini justru mengeringkan air tanah sehingga perut bumi Jakarta makin tergerus. Tak ketinggalan pula atas nama pengembangan dan pembangunan kota Jakarta, pohon-pohon yang dulu merindangkannya makin banyak yang ditebangi sementara kali dan kanal ikut pula dimatikan oleh limbah beracun dan tumpukan sampah.

Semakin bertambah lagi kedukaan ketika kita harus menerima kenyataan bahwa sekarang kita akan begitu sulit untuk bernostalgia atau menelusuri kisah Batavia dari peninggalan-peninggalannya. Bangunan-bangunan dengan seni arsitektur menawan yang bernilai sejarah tinggi dengan gampangnya diratakan dengan tanah untuk pengembangan kota Jakarta yang tamak lahan.

Jakarta sudah terlalu sumpek dan padat. Makin banyaknya penduduk, makin besar juga kebutuhan untuk rumah, pasar, dan juga jalan. Akibatnya fatal. Bencana mengancam Jakarta. Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) bahkan memprediksi Jakarta Utara tenggelam tahun 2030. Sedangkan untuk Jakarta Selatan ancaman menghadang di tahun 2050

Gaya hidup urban dan kebutuhan materialistis menghapus semua nuansa Jakarta yang teduh. Modernisasi mengubah wajah Jakarta yang ramah menjadi kota yang keras dan penuh persaingan. Hal ini tentunya juga berdampak pada psikologis warganya. Budaya gotong royong yang dulu lekat pada diri orang Jakarta, kini telah tergantikan oleh sifat individualistis dan hedonis. Watak itu kemudian dikukuhkan dengan sejumlah fasilitas dan penunjang kehidupan modern, seperti mall, plaza, kafe, dan tempat clubbing.

Kerinduan dan keprihatinan akan semakin dalam atas kenangan yang ditinggalkan oleh kota kita, Jakarta Tempo Dulu. Kenangan yang tak akan pernah mati meski kebodohan pelakon zaman telah menguburkan jasadnya. Maka dari itu, dengan semangat membara dan keyakinan yang melekat, wahai pejuang! Wahai pemuda pengembara tanah Batavia !! Hadirkan kembalikan kejayaan dan keelokan Jakarta tempo dulu, bahkan harus lebih baik dari itu.

Berbicara kemajuan Jakarta kedepannya, maka tak terlepas dengan kemajuan Indonesia pula. Jakarta secara langsung atau tidak dapat mempengaruhi daerah otonom lainnya dan bangsa Indonesia secara garis besarnya.

Berdasarkan laporan Bank Dunia, Indonesia merupakan negara yang memiliki minat baca rendah. Hal tersebut sungguh disayangkan, mengingat sebagai negara besar, Indonesia memiliki potensi besar untuk menjadi negara yang unggul. Menteri Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat H.R Agung Laksono di Media Tempo pada Tanggal 12 Januari 2012, menyebutkan pula bahwa minat baca masyarakat Indonesia masih sangat rendah, prosentase minat baca masyarakat Indonesia sebesar 0,01 persen. Artinya dalam 10.000 orang hanya 1 orang saja yang memiliki minat baca. Serta tingkat minat baca masyarakat Indonesia masih jauh ketinggalan dibanding negara maju seperti Jepang yang mencapai 45 persen sedangkan Singapura 55 persen. Berdasarkan survei UNESCO tahun 2011, budaya baca masyarakat Indonesia berada di urutan 38 dari 39 negara yang paling rendah di kawasan ASEAN. Miris…

Saya menyimpulkan bahwa maju atau tidaknya suatu bangsa tergantung seberapa banyak minat membaca di wilayahnya. Tidak ada suatu bangsa yang unggul dan maju tanpa manusia yang unggul pula.   Manusia unggul adalah manusia yang memiliki pengetahuan dimana hal itu diperoleh melalui membaca. Suatu mimpi bahwa masyarakat Indonesia, terutama Jakarta akan jatuh cinta dengan membaca karena dengan membaca dapat membuka jendela dunia.    Ketika jendela dunia sudah terbuka, masyarakat Indonesia, khususnya Jakarta akan dapat melihat keluar sehingga cara berpikir akan maju dapat menjadi jalan keluar bagi bangsa Indonesia dari kemelut lingkaran setan.

Dengan luas wilayah sekitar 661,52 km² (lautan yang mempesona : 6.977,5 km²) dan penduduk berjumlah 10.187.595 jiwa (2011) ini merupakan salah satu bagian potensial untuk memajukan peradaban Jakarta terutama dari segi pariwisata dan pembangunan SDM Jakarta yang berkualitas. Lagi-lagi, meningkatkan minat baca yang tinggilah salah satu point utama untuk mewujudkan segala perencaan yang telah dibuat.

Masalah utama yang ada sebetulnya bukanlah iliterasi (buta aksara), karena jumlahnya semakin lama semakin mengecil. Masalah utama, justru pada mereka yang sudah bisa membaca tetapi tidak mau membaca, sebagian besar masyarakat belum membaca secara benar, yakni membaca untuk memberi makna dan meningkatkan nilai kehidupan. Bukan mebaca karena hanya sekedar mencari alamat, melihat lowongan pekerjaan ataupun hasil pertandingan sepak bola. Apabila masyarakat telah memiliki budaya membaca yang kuat maka kegiatan membaca bukanlah merupakan suatu yang perlu dimotivasi, tetapi sudah merupakan suatu kebutuhan dan kebiasaan yang timbul dari setiap insan, bukan karena paksaan.

Dengan jumlah populasi lebih dari 10 juta jiwa, bisa dilihat bahwa masyarakat Jakarta pada umumnya membaca hanya untuk mengisi waktu ( to fill time), bukan membaca untuk menghabiskan waktu (to kill time).

Pada era globalisasi informasi ini, membaca merupakan suatu keharusan yang mendasar untuk membentuk perilaku seseorang. Dengan membaca seseorang dapat menambah informasi dan memperluas ilmu pengetahuan serta kebudayaan. Tidak diragukan lagi, bahwa membaca merupakan sarana penting bagi setiap orang yang ingin maju. Karena dengan bacaan membuat mereka menjadi cerdas, kritis dan mempunyai daya analisa dan nalar yang tinggi serta melatih imajinasi dan daya pikir sehingga memenuhi kepuasaan intelektual. Dengan membaca selalu tersedia waktu untuk merenung, berfikir dan mengembangkankan kreativitas berfikir. Banyak manfaat yang diperoleh dari membaca baik untuk diri sendiri, orang lain maupun bangsa.

Mengembangkan minat baca di usia dini lebih mudah dibandingkan mengembangkan minat baca di usia dewasa atau bahkan usia senja. Peran orang tua dalam membimbing anak-anak membangun minat baca sangat dibutuhkan. Memberi contoh membaca pad anak-anak juga sangat berarti dalam kehidupan sebuah keluarga. Di lingkup luar, yaitu masyarakat, kita perlu pula memaksimalkan peran perpustakan . Perpustakaan yang menyimpan khazanah budaya bangsa dan gudang ilmu pengetahuan memiliki peran sangat penting dalam upaya peningkatan minat baca.

Hal postif dan dapat dibanggakan di Jakarta hari dibandingkan masa lalu adalah perpustakaannya. Perpustakaan saat ini tidaklah sama dengan perpustakaan beberapa tahun lalu yang sering dicampakkan dan hanya segelintir orang yang datang, itu pun jika ada keperluan mendesak. Perpustakaan yang dulu dianggap tidak menyenangkan, membosankan dan terkesan angker. Kini, telah berbenah diri mengubah konsep bangunan dan tata ruang mengikuti perkembangan kota. Menghadirkan keamanan, menambah koleksi buku anak-anak dan dewasa dan meyediakan berbagai fasilitas untuk terciptanya kenyamanan. Pemerintah dki terus berbenah diri agar pemustaka dapat dengan mudah dan praktis ke perpustakan dan meminjam buku perpustakaan,. Ayo kunjungi perpustakaan, ajak dan tanamkan keluarga, teman, dan tetanggamu untuk mencintai perpustakaan dan tingkatkan minat baca!

Upaya menumbuhkan  minat baca masyarakat pada dasarnya harus didukung oleh perbagai pihak, baik Pemerintah, Pendidik, Perpustakaan, Pustakawan dan Masyarakat. Berikut beberapa solusi yang bisa dilakukan :

  1. Menumbuhkan kesadaran kepada masyarakat, betapa pentingnya kebiasaan membaca, karena membaca, dekat dengan kesuksesan, tentunya akan dapat membuka wacana baru dan menambah wawasan terkait dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Selain itu, turut serta dalam pembangunan perabadan kota Jakarta yang berkarakter. Contohnya dengan adanya iklan di radio, televisi, majalah/koran ataupun poster yang berisi ajakan membaca, dampak membaca, quotes tentang membaca, dan lain-lain.
  2. Pemerintah mendesain kurikulum/sistem pembelajaran yang memungkinkan peserta didik untuk melakukan kegiatan membaca bahan bacaan tiap hari yang terkait dengan kurikulum atau sistem pembelajaran yang ada. Sehingga peserta didik sejak dini sudah terbiasa dengan membaca dan bermindset bahwa membaca telah menjadi kebutuhan sehari-hari dalam hidup mereka.
  3. Pendidik berupaya merekomendasikan bahan-bahan bacaan yang harus dibaca oleh peserta didik yang dikaitkan dengan tugas-tugas pembelajaran. Contohnya, peserta didik diberi tugas meresensi salah satu buku perpustakaan sekolah. Selain membaca, dari tugas itu mereka juga harus membiasakan diri untuk pergi dan mencintai perpustakaan. Karena perpustakaanlah gudangnya ilmu
  4. Tersedianya sarana sumber informasi/Perpustakaan/Taman Bacaan / Pusat Dokumentasi dan Informasi yang memadai, mudah terjangkau dan representative dan nyaman, sehingga pengguna merasa butuh informasi yang ada di perpustakaan, dan perpustakaan juga dapat memenuhi kebutuhan pengguna. Penambahan fasilititas untuk pemustaka serta peminjaman buku yang praktis juga diperlukan agar pemustaka tidak merasa risih dan tentunya nyaman ketika di perpustakaan. Lalu dalam hal menjangkau masyarakat di sudut kota, pemerintah perlu menambah perpustkaan keliling secara berkala sehingga seluruh masyarakat bisa tersentuh dengan keberadaan perpustakaan
  5. Pemerataan akses informasi dengan dikembangkannya Taman Bacaan ke tingkat desa, sehingga masyarakat di pedesaan juga merasakan adanya penyebaran informasi atau ilmu pengetahuan.
  6. Mengadakan sebuah event/kegiatan secara berkala untuk meningkatkan minat baca, seperti bazar buku, seminar peningkatan minat baca, workshop menulis dan membaca, lomba membaca puisi/dongeng, lomba menulis, lomba pidato dan lain-lainnya

Apabila masyarakat Jakarta sudah menyadari betapa penting dan besarnya tujuan serta manfaat dari membaca, tentu dengan sendirinya minat baca masyarakat akan meningkat. Dan segala harapan serta perencanaan pemerintah maupun masyarakat Jakarta sebagai kota yang beradab, berkarakter bisa terwujud.

Beberapa tahun mendatang dengan dukungan semua elemen/pihak di Jakarta saya yakin jumlah minat baca masyarakat Jakarta akan tinggi dan tentunya akan menghasilkan SDM berkualitas, unggul, berintegritas dan memiliki kesadaran dan kepedulian tinggi terhadap Jakarta. Alhasil kita banyak temui insan-insan yang berakhlak intelektual, aktif, kreatif dan inovatif. Dari insan-insan tersebutlah kita dapat mewujudkan lingkungan Jakarta yang asri, bersih dan tertata rapi. Berkurangnya atau bahkan tidak adanya lagi kemacetan, banjir, lingkungan kumuh, serta kemiskinan dan kriminalitas. Yang ada hanyalah kemajuan kota dari segi ekonomi, pendidikan, wisata, sosial, budaya dan politik. Dan Jakarta bisa terlepas dari lingkaran setan yang menggerut selama bertahun-tahun. Tentunya terwujudlah kota yang beradab dan kota modern yang membanggakan di mancanegara dan bisa menyokong serta ikut memajukan Bangsa Indonesia dalam segala bidang.

Ayo kita tularkan virus dan semangat membaca pada masayarakat Jakarta. Generasi modern adalah generasi yang gemar membaca. Kunjungi dan cintai perpustakaan!!

#MembacaMembangunJakarta

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s