Giat Membaca, Awal Kemerdekaan Menuju Indonesia Madani

70 tahun yang lalu tepat Indonesia merdeka dari penjajah Belanda, Inggris, Portugis dan Jepang. Kurang lebih 3,5 abad pula Indonesia merasakan kekangan bangsa luar untuk bergerak, salah satunya intuk menimba ilmu. Hanya kalangan tertentu saja yang dapat mengenyam pendidikan, apakah dia seorang bangsawan, konglomerat atau pemuka adat yang memang dihormati. Ya, kurang lebih 3,5 abad pula Indonesia terpenjara oleh kebodohan di tanah sendiri. Jerat kemiskinan dan perbudakan membludak di tanah air. Butuh waktu yang sangat lama untuk bebas terjerat dari hantaman kekejian penjajah.

17 Agustus 1945, kehebatan anak bangsa akhirnya mampu menaklukan warga non pribumi. Soekarno-Hatta serta pejuang lainnya habis-habisan dengan harga mati atau merdeka mengusir mereka. Nyawa pun menjadi taruhannya. Semangat pantanng menyerah dan kecerdasan pemuda menjadi kunci sukses 70 tahun merdekanya bangsa ini.

Dan perjuangan pergerakan kemerdekaan Indonesia telah sampailah kepada saat yang berbahagia dengan selamat sentosa mengantarkan rakyat Indonesia ke depan pintu gerbang kemerdekaan negara Indonesia, yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur…..” Pada alinea ke 4 Undang-Undang Dasar 1945 bahwa rakyat Indonesia masih dalam tahap di depan pintu kemerdekaan negara Indonesia. Artinya, kita masih dalam posisi di gerbang kemerdekaan, belum sampai ke puncak kemerdekaan. Masih banyak sekali hal-hal yang dapat kita lakukan untuk bergerak mengisi negara ini hingga ke puncak kemerdekaan dimana Indonesia madani nan beradab menjadi cita-cita kami.

Terlalu banyak pekerjaan rumah yang harus diatasi bangsa ini untuk mencapai puncak kemerdekaan. Kebodohan, kemiskinan, kriminalitas dan moralitas yang rendah menjadi mainstream di berbagai pelosok negeri ini. Sesunggguhnya banyak hal menjadi kebanggaan bangsa ini yang justru bangsa lain menjadi iri terhadap negeri ini, namun yang kita perhatikan hanya hitungan jari hal-hal positif yang nampak di permukaan.

Rasanya benar sekali uangkapan bapak Proklamator kita, Bung Karno, “Perjuanganku lebih mudah karena mengusir penjajah, tapi perjuanganmu akan lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri.”

Dari tahun 1945 hingga 2015, berbagai masalah menyeruak di negeri ini. Rupiah tak artinya di dunia internasional, per hari nya terus mengalami rekor tertinggi yang entah kapan dapat berhenti dan bahkan menurun hingga akhirnya rupiah menjadi mata uang yang sangat bernilai disbanding dolar Amerika. Perekonomian buruk, ekspor menurun, produk dalam negeri rendah pendapatan negara pun menjadi kacau. Sumber daya alam yang sangat melimpah, orang asinglah yang berkuasa. Kira-kira hampir 80% masyarakat Indonesia menjadi konsumen penting bagi bang lain. Degradasi moral anak bangsa pun menjadi hal biasa. Terlalu banyak hal buruk yang tersembunyi di balik ungkapan Pemerintah bahwa hal ini adalah yang wajar, baik-baik saja dan segera diatasi.

Kami berharap bukan sekedar wacana tapi kerja dan kerja sesuai tagline pemerintah saat ini yang berkuasa agar menghasilkan kesejahteraan rakyat Indonesia.

Hal ini tentu bukan menjadi perhatian bagi pemerintah saja, namun seluruh rakyat Indonesia terutama para pemuda. Di tangan pemudalah perubahan menjadi nyata dari impian yang menggantung di langit.

Berdasarkan laporan Bank Dunia, Indonesia merupakan negara yang memiliki minat baca rendah. Hal tersebut sungguh disayangkan, mengingat sebagai negara besar, Indonesia memiliki potensi besar untuk menjadi negara yang unggul. Menteri Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat H.R Agung Laksono di Media Tempo pada Tanggal 12 Januari 2012, menyebutkan pula bahwa minat baca masyarakat Indonesia masih sangat rendah, prosentase minat baca masyarakat Indonesia sebesar 0,01 persen. Artinya dalam 10.000 orang hanya 1 orang saja yang memiliki minat baca. Serta tingkat minat baca masyarakat Indonesia masih jauh ketinggalan dibanding negara maju seperti Jepang yang mencapai 45 persen sedangkan Singapura 55 persen. Berdasarkan survei UNESCO tahun 2011, budaya baca masyarakat Indonesia berada di urutan 38 dari 39 negara yang paling rendah di kawasan ASEAN. Miris…

Saya menyimpulkan bahwa maju atau tidaknya suatu bangsa tergantung seberapa banyak minat membaca di wilayahnya. Tidak ada suatu bangsa yang unggul dan maju tanpa manusia yang unggul pula.   Manusia unggul adalah manusia yang memiliki pengetahuan dimana hal itu diperoleh melalui membaca. Suatu mimpi bahwa masyarakat Indonesia, akan jatuh cinta dengan membaca karena dengan membaca dapat membuka jendela dunia.    Ketika jendela dunia sudah terbuka, masyarakat Indonesia akan dapat melihat keluar sehingga cara berpikir akan maju dapat menjadi jalan keluar bagi bangsa Indonesia dari kemelut lingkaran setan.

Dengan luas wilayah hampir 2 juta km² dan penduduk berjumlah sekitar 250 juta jiwa (2015) ini merupakan salah satu bagian potensial untuk memajukan peradaban Indonesia terutama dari segi pariwisata dan pembangunan SDM Jakarta yang berkualitas. Lagi-lagi, meningkatkan minat baca yang tinggilah salah satu point utama untuk mewujudkan segala perencaan yang telah dibuat.

Masalah utama yang ada sebetulnya bukanlah iliterasi (buta aksara), karena jumlahnya semakin lama semakin mengecil. Masalah utama, justru pada mereka yang sudah bisa membaca tetapi tidak mau membaca, sebagian besar masyarakat belum membaca secara benar, yakni membaca untuk memberi makna dan meningkatkan nilai kehidupan. Bukan membaca karena hanya sekedar mencari alamat, melihat lowongan pekerjaan ataupun hasil pertandingan sepak bola. Apabila masyarakat telah memiliki budaya membaca yang kuat maka kegiatan membaca bukanlah merupakan suatu yang perlu dimotivasi, tetapi sudah merupakan suatu kebutuhan dan kebiasaan yang timbul dari setiap insan, bukan karena paksaan.

Dengan jumlah populasi lebih dari 10 juta jiwa, bisa dilihat bahwa masyarakat Indonesia pada umumnya membaca hanya untuk mengisi waktu ( to fill time), bukan membaca untuk menghabiskan waktu (to kill time).

Pada era globalisasi informasi ini, membaca merupakan suatu keharusan yang mendasar untuk membentuk perilaku seseorang. Dengan membaca seseorang dapat menambah informasi dan memperluas ilmu pengetahuan serta kebudayaan. Tidak diragukan lagi, bahwa membaca merupakan sarana penting bagi setiap orang yang ingin maju. Karena dengan bacaan membuat mereka menjadi cerdas, kritis dan mempunyai daya analisa dan nalar yang tinggi serta melatih imajinasi dan daya pikir sehingga memenuhi kepuasaan intelektual. Dengan membaca selalu tersedia waktu untuk merenung, berfikir dan mengembangkankan kreativitas berfikir. Banyak manfaat yang diperoleh dari membaca baik untuk diri sendiri, orang lain maupun bangsa.

Mengembangkan minat baca di usia dini lebih mudah dibandingkan mengembangkan minat baca di usia dewasa atau bahkan usia senja. Peran orang tua dalam membimbing anak-anak membangun minat baca sangat dibutuhkan. Memberi contoh membaca pad anak-anak juga sangat berarti dalam kehidupan sebuah keluarga. Di lingkup luar, yaitu masyarakat, kita perlu pula memaksimalkan peran perpustakan . Perpustakaan yang menyimpan khazanah budaya bangsa dan gudang ilmu pengetahuan memiliki peran sangat penting dalam upaya peningkatan minat baca.

Perjuanganku lebih mudah karena mengusir penjajah, tapi perjuanganmu akan lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri.” …. Bung Karno

Mulai detik jadilah pengubah bangsa yang dimulai dari sendiri contohnya dengan membaca buku. Jadilah teladan dan sosok menginspirasi untuk keluarga, teman-teman, masyarakat dan generasi selanjutnya dan bersama merdekaan Indonesia hingga ke puncaknya menjadi bangsa yang madani nan beradab.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s