Era New Media, Era Pendidik Abad 20 Menata Peradaban Bangsa Indonesia

Banyak peramal meramalkan masa depan suatu hal, seperti kehidupan seseorang, keadaan suatu negara, bencana, cuaca dan sebagainya. Namun, adakah yang percaya ramalan terbsebut? Tentu ada yang percaya dan ada pula yang tidak. Dan bagaimana dengan ramalan tersebut? Apakah nyata?

Pada tahun 1960-an, Marshall McLuhan pernah sesumbar soal “global village”. McLuhan pernah meramal bahwa suatu saat akan ada masa di mana informasi dapat sangat cepat diakses, sifatnya terbuka, terjadi kesamaan persepsi dari orang-orang tentang suatu hal karena informasi yang diperoleh sama, dimensi jarak dan waktu akan lebur, dan jika dunia ini diibaratkan sebagai sebuah desa, masa itulah yang McLuhan perkirakan dunia akan mewujud sebagai global village.

Mari kita lihat dunia yang sekarang. Di masanya, McLuhan mungkin dianggap peramal gila. Sebagian besar orang di tahun 1960-an akan berpikir, sungguh McLuhan tidak masuk akal dan stress, bagaimana bisa orang-orang di tempat yang berbeda, dari ujung dunia satu ke ujung dunia lainnya, berbeda pulau bahkan benua terpisahkan lautan samudera akan dapat terhubung dan melakukan komunikasi dengan begitu cepat di satu waktu yang sama? Tapi, lihat, kawan! Ramalan McLuhan benar-benar terwujud saat ini. Ledakan perkembangan teknologi informasi, kehadiran media-media baru, pesatnya pasar alat komunikasi pintar, telah-sedang dan akan terus berkembang menghubungkan orang-orang dari tempat yang berbeda, kota-kota yang berseberangan, bahkan dari berbagai belahan dunia. Ya, mungkin jika Mc Luhan bisa berbicara ia akan mengatakan “we look at the present through a rear-view mirror. We march backwards into the future.”

Generasi yang lahir saat ini (tahun 2000-an dan seterusnya) adalah generasi yang sangat mengagumkan. Karena generasi yang lahir saat ini dilahirkan bersamaan dengan teknologi yang menyertainya. Mungkin hal ini pula yang mendasari tim ahli penyusun kurikulum 2013 menyebut generasi anak-anak saat ini sebagai nattive digital, pribuminya alam digital. Mereka lahir, dibesarkan, dan tumbuh bersama dan di dalam alam digital. Dan memang kenyataannya terlihat bahwa generasi saat ini tidak dapat dilepaskan dengan alat-alat digital. Separuh bahkan sebagian besar waktu mereka dihabiskan bercengkrama dengan alat-alat digital. Saat mereka tidur, membuka mata dan kembali tidur menutup mata berhubungan dengan digital. Belajar atau bermain alat-alat digital siap mendampingi keseharian mereka. Cukup ironis kawan! Karena alat-alat digital justru lebih banyak mendatangkan mudharat daripada kebaikannya. Oleh karena itu sangat dibutuhkan pengawasan ekstra terhadap generasi abad 20. Sedari kecil bahkan saat dikandung dalam rahim ibu didiklah mereka.Jadikan pendidikan pertama mereka melekat dan membentuk pribadi yang berkarakter. Maka peran pendidik di keluarga sangatlah penting. Pendidik di sini tentu seorang Ibu dan Ayah. Oleh karena itu persiapkan dirimu wahai calon Ibu dan Ayah. Karena denganmu anak akan terus menjulang menjadi manusia yang insan di mataNya dan pengubah bangsa di masa depan.

Bagaimana dengan para pendidik di sekolah saat ini? Dimana teknologi tidak berada dalam dekapan mereka saat mereka dilahirkan? Yang saya amati sebagian besar diantara mereka terlihat gaptek walau murid-murid mereka berganti gadget yang lebih pintar. Mereka telah coba berupaya sekuat tenaga-hati-pikiran untuk ter-engage dengan teknologi saat ini, tapi masih menjadi setengah analog dan setengah digital. Mereka seakan ada di persimpangan jalan, terseok-seok dengan gempuran teknologi yang serbacepat.

Dan bagaimana dengan kita, calon pendidik masa depan bangsa? Dengan hitungan jari beberapa tahun kedepan, kita akan terjun langsung menghadapi generasi native digital, mungkin akan melebihi standar generasi native digital. Di kehidupan sehari-hari, kita yang masih tergolong muda mungkin terlihat lebih akrab dengan teknologi serta gadget-gadget yang ada. Namun, apakah lihainya jari yang tiap waktu menyentuh barang digital akan mampu mendidik anak dengan baik? Belum tentu kawan… Bila sebelumnya sebagian besar pendidik terdahulu hanya sebagai pengamat, maka saatnya kini kita, pendidik masa depan wajib menjadi partisipan (from viewers to participant), kalau dulu mereka hanya masih terkesan-kesan dengan kehadiran teknologi dan media-media baru ini, maka kita harus pula terlibat (from impressions to involvement), jika dulu pendidik masih menggunakan kacamata kita sebagai guru yang tahu segalanya. Enyahkan, kawan! Wajib kita sadari bahwa bagi murid-murid era digital ini pengetahuan yang kita sampaikan ke mereka bisa jadi hanya persoalan lima menit. Mereka lebih dekat dengan “mbah google” saat ini. Sehingga kita wajib pula melakukan revolusi gaya mengajar yang sifatnya “sok paling tahu” dan bersifat learning center menjadi “mari kita cari tahu bersama dan diskusikan” dengan pendekatan komunikasi yang simetris.

Dengan hadirnya berbagai fitur new media – maka. manfaatnya tidak hanya untuk berkomunikasi dan berinteraksi, tetapi juga untuk meningkatkan kualitas materi dan metode pengajarannya. Seorang pendidik di era new media juga harus ter-engage dengan isu-isu sosial yang mendekapnya. Beralihlah dari sekedar viewers fenomena-berita-wacana menjadi participants, dari sekadar impressions menjadi involvement. Keterlibatan ini menjadi penting jika seorang pendidik tergerus dan terseok-seok di dunia yang telah berubah menjadi global village.

Di era 2.0 ini. Seorang pendidik harus terus menemukan metode pengajaran yang lebih interaktif dan bermanfaat bagi murid serta sesuai dengan perkembangan jaman. Pendidik harus bersikap dan bertingkah laku. Pendidik dengan segala keterbatasannya, bisa menjadi pendidik yang kreatif. Guru dan buku bukan lagi sumber pengetahuan saat ini. Murid-murid sudah fasih mencari bahan-bahan dan informasi di search engine. Maka, pendidik harus siap dengan ini semua, Saat ujian dan penugasan buatlah sekreatif mungkin, gunakan berbagai media yang ada agar terlihat menyenangkan dan murid menjadi aktif, telibat dan terbentuk karakter dalam diri mereka.

Sesuai dengan visi pendidikan nasional UU No. 20/2003 tentang Sisdiknas adalah:

Terwujudnya sistem pendidikan sebagai pranata sosial yang kuat dan berwibawa untuk memberdayakan semua warga negara Indonesia berkembang menjadi manusia yang berkualitas sehingga mampu dan proaktif menjawab tantangan zaman yang selalu berubah

Sejalan dengan Visi Pendidikan Nasional tersebut, Depdiknas berhasrat untuk pada tahun 2025 menghasilkan: INSAN INDONESIA CERDAS DAN KOMPETITIF.

Lagi-lagi di sinilah peran penting sesorang pendidik, yaitu menghasilkan insan Indonesia cerdas dan kreatif. Diserangnya kita oleh berbagai teknologi, jangan jadi alasan dan hambatan menjadi sebenar-benarnya pendidik. Namun, jadikan peluang untuk menjadi pendidik abad 20 yang professional dan inspiratif bagi murid-murid kita. Sebagai pendidik pun, kita dituntut untuk meghasilkan individu bahkan sekelompok masyarakat yang cerdas spiritual, cerdas emosional dan sosial, cerdas kinestetik, dan Cerdas intelektual.

Pendidik sebagai tonggak pendidikan dan kemajuan suatu bangsa tentu harus memiliki kompetensi, karena ditangan mereka mau seperti apa generasi ini terbentuk dan mau dibawa kemana kehidupan bangsa mendatang. Maka berikut kemampuan yang harus dimiliki pendidik sebagai komponen utama dalam sistem pendidikan :

  • Pedagogik, kemampuan mengelola pembelajaran peserta didik: (1) pemahaman pada peserta didik, (2) perancangan dan pelaksanaan pembelajaran, (3) evaluasi hasil belajar, dan (4) pengembangan potensi peserta didik
  • Kepribadian, kemampuan kepribadian (1) mantap, (2) stabil, (3) dewasa, (4) arif, (5) berwibawa, (6) berakhlak mulia, dan (7) dapat menjadi teladan
  • Sosial, kemampuan guru untuk berkomunikasi dan bergaul secara efektif (1) peserta didik, (2) sesama pendidik, (3) tenaga kependidikan, (4) orang tua/wali peserta didik, dan (5) masyarakat sekitar
  • Profesional, kemampuan penguasaan materi pembelajaran secara luas dan mendalam, yang memungkinkannya membimbing peserta didik memenuhi standar kompetensi yang ditetapkan dalam standar nasional pendidikan

Jika semua pendidik di seluruh Negara ini hingga ke pelosok memiliki 4 kemampuan tersebut, dipastikan lahirlah suatu tatanan masayarakat dengan sumber daya manusia yang hebat dan selanjutnya akan membentuk tatanan suatu bangsa yang martabat di dunia. Terlepas dari itu, tentu seorang pendidik membutuhkan suatu media atau alat-alat digital yang akan mendukung proses pembelajaran di kelas sehingga materi yang disampaikan dapat diterima dan dapat diaplikasikan di kehidupan sehari.

Pendidik melek IT atau media-media lainya sadar profesi. Jangan jadikan media yang ada justru membuat menyimpang dari kode etik seorang pendidik dan akan membuat catatan buruk profesi pendidik. Pendidik sebagai pengarah dan pembimbing murid diusahakan memiliki charisma yang kelak nanti mejadi teladan dan contoh mereka dalam bertindak

Masa dan era yang selalu berjalan ke depan dengan cepatnya, telah membawa berbagai macam perubahan dari berbagai sudut pandang kehidupan umat manusia, mulai dari cara berfikir sampai etika berfikir dan pola tingkah lakunya. Dan tentu hal terpenting untuk pencapaian kemajuan dan peradaban suatu bangsa, adalah tidak terlepaskan dari seorang pendidik. Pendidik di sini, tidak hanya seorang guru di sekolah, dosen di universitas atau ustadz/ah di madrasah. Melainkan, kita semua adalah pendidik bagi diri kita sendiri maupun oranglain. Seorang ibu/ayah yang mendidik anaknya, kakak yang mendidik adiknya, individu yang mendidik temannya, tokoh masyarakat yang mendidik lingkungan dan masyarakatnya serta pemimin Negara yang mendidik rakyatnya.

Maka, saya mengajak semua rakyat Indonesia di era new media ini dengan segala kemudahan yang dapat diakses, baik tua-muda, kaya-miskin atau semua kalangan, mari kitabudayakan membaca-menulis-berdiskusi!! Membaca, di segala musim dan zaman, selalu mampu meluruhkan keterbatasan kita pada hal-hal yang belum kita ketahui. Membaca juga membuka potensi diri yang awalnya tertutup menjadi lebih terbuka, terbuka terhadap perubahan, terbuka pada setiap pembaharuan. Menulis, adalah upaya melatih logika. Kita pun seorang pendidik harus memastikan logika kita tetap berjalan di segala musim dan zaman. Merangkai satu peristiwa dan ide dalam bingkai kelogisan bukanlah perkara yang mudah, namun itu dapat diupayakan dengan latihan dan usaha. Menulis juga menjadi peluang untuk kita memasarkan ide-ide kita. Sebarkan tulisan kita lewat sosial media contohnya blog, karena kita dapat membagi tulisan kita, seperti pengalaman dan metode pengajaran kepada pendidik lain serta memicu diskusi yang sehat mengenai dunia pendidikan di Indonesia. Dan berdiskusi, mampu meningkatkan kemampuan berfikir secara logisuntuk memecahkan masalah dan memperluas wawasan serta mengembang kepercaya dirian individu.

Jika sebagian besar rakyat Indonesia gemar membaca-menulis-berdiskusi maka terbentuklah tatanan masyarakat yang beradab dan saya yakin bangsa ini akan menguasai dunia mengalahkan Negara-negara penguasa saat ini, aamiin. Sebab yang terjadi sekarang adalah, siapa yang menguasai sains, teknologi, dan informasi maka merekalah yang akan mempengaruhi dan menentukan arah perjalanan masyarakat global. Sungguh urgen untuk diupayakan ‘tuk diraih dan diwujudkan oleh rakyat ialah adanya kemampuan yang berkualitas tinggi sehingga memiliki kemampuan untuk berinteraksi dan berkomunikasi secara sehat dalam pluralisme kultural masyarakat global

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s