Tips Mendapat Dana kegiatan di Dalam atau Luar Negeri dari Lembaga atau Perusahaan

Akhir-akhir ini di kampus saya (mungkin kampus kamu juga) sedang banyak kegiatan yang terselenggara. Tidak hanya itu, berbagai jenis lomba, seminar, exchange, conference  dllnya di dalam dan luar negeri juga bertebaran. Well, semua kegiatan itu membutuhkan dana yang tak sedikit dong ya. Apalagi, kamu yang berprestasi mempunyai kegiatan di luar negeri, tentu harus memiliki budget untuk transport, makan, penginapan dllnya. Jika kegiatan abroad  itu  free, syukur alhamdulillah and you’re a lucky man, great!! Karena biasanya kegiatan luar negeri yang gratis, proses seleksinya lumayan panjang, ribet dan sangat ketat. Tapi, yang  mengharuskan peserta memenuhi payment juga hebat karena banyak juga proses seleksi yang harus dipenuhi dan menumbangkan ratusan bahkan ribuan pesaingnya.  Hemm, intinya entah itu free atau ada payment  sama-sama punya perjuangan, bedanya, untuk yang gratis, perjuangannya ada di seleksi yang begitu ketat dan banyak tahapnya. Sedangkan yang tidak gratis, perjuangannya adalah bagaimana mendapatkan sponsor untuk meng-coversemua biaya. Nah, di sini saya akan berbagi tips dan pengalaman saya mendapatkan dana sponsor.

Butuh ikhtiar kuat, komitmen, dan pantang menyerah untuk mengajukan dana ke beberapa lembaga. Cukup melelahkan memang, tapi kelelahan itu akan terbayar ketika kita bisa keluar negeri tanpa biaya, hasil pengajuan dana.

Untung funding dana, kita bisa lakukan secara individu atau tim. Berat sama dipikul, ringan sama dijinjing, sesuai dengan peribahasa tersebut akan lebih baik jika dilakukan proposal tim. Namun, jika dalam kegiatan tersebut kamu benar-benar tidak memiliki tim, tidak masalah juga.  Toh, beberapa proposal pengajuan dana, saya dapatkan dengan proposal individu. Oke, berikut yang harus disiapkan untuk mengajukan dana kegiatan internasional :

  1. List Lembaga yang dituju

Sumber dana bisa kita dapatkan dari pihak kampus, pemerintah, perusahaan swasta, organisasi/asosiasi, keluarga, dsb. Semakin banyak lembaga yang dituju, semakin besar peluangnya. Apalagi jika kita memiliki link, orang dalam  di lembaga tersebut.

Di sini saya akan melist beberapa lembaga yang pernah saya dan teman-teman saya ajukan dalam kegiatan international

Pihak kampus : Jurusan, Fakultas, Rektorat, Badan Perwakilan Orangtua Mahasiswa atau sejenisnya. Sebelum kita mengajukan dana ke luar kampus, lebih baik kita ajukan ke lembaga-lembaga sekitar kita, terutama kampus. Karena Fakultas atau Rektorat pasti menyediakan anggaran untuk kegiatan mahasiswa baik organisasi, prestasi dalam dan luar negeri.

Para birokrat kampus tentu akan dengan senang hati memberikan dana kepada mahasiswanya apabila berprestasi dan membawa nama baik kampus. Apalagi, prestasi itu dalam bentuk kompetisi, pemaparan karya ilmiah atau budaya di hadapan warga dunia.  Jika kegiatannya macam exchange,  conference, ada beberapa birokrat yang sulit untuk membantu mahasiswa dalam kegiatan tersebut dan akhirnya tidak memberikan dana. Tapi jangan berkecil hati ya, masih banyak kok lembaga yang siap memberikan dana pada kita. Untuk Rektorat, biasanya bisa diajukan ke Wakil Rektor 3 yang fokus pada kegiatan mahasiswa. Begitu pun di dekanat, diajukan ke Wakil Dekan 3. Untuk jurusan, dapat diajukan  langsung ke ketua jurusan atau divisi yang menangani mahasiswa. Namun, banyak pula jurusan yang tidak menerima dan kita akan diarahkan untuk mengajukan dana ke dekanat dan rektorat.

Pemerintah : Kementerian Ristek Dikti, Kementerian Pemuda dan Olahraga, Kementerian yang berkaitan dengan kegiatan kamu, Gubernur, Dinas pendidikan daerah, dan masih banyak lagi.

Pengajuan dana ke kementerian harus tepat sasaran, jangan sampai kita salah alamat. Contoh untuk Dikti, biasanya ditujukan ke Direktur Pembelajaran dan Kemahasiswaan,  Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Jadi, kamu harus mencari tau ke direktur/divisi apa proposal kamu akan ditujukan. Bisa kamu tanyakan ke senior, dosen atau yang paham akan hal itu atau tanya mbah gugel jg bisa kok hehe

Perusahaan : Garuda, Pertamina, Chevron, Gramedia, Kompas, Sosro, dllnya. Untuk lebih lengkap saya akan berikan link daftar perusahaan yang biasanya memberikan kegiatan mahasiswa termasuk kegiatan ke luar negeri (file ini saya dapatkan dari salah satu blog)  . Silahkan klik ini

Perusahaan biasanya jarang memberi sponsor untuk individu. Kecuali jika kita memiliki prestasi yang jelas, misal kita akan menjadi petinggi organisasi internasional, atau mengikuti olimpiade dan mewakili Indonesia sebagai peserta terbaik dari Indonesia. Walaupun begitu tidak ada salahnya juga untuk mencoba. Because you wil never know till you try. Seperti teman saya, dalam acara kerelawanan (bukan prestasi yang benar-benar wah) di Malaysia, beliau berhasil mendapatkan tiket pesawat terbang PP dari Garuda.

Untuk pemilihan perusahaan yang akan diajak kerjasama sponshorship, sebaiknya kita pertimbangkan keterkaitan kegiatan dengan bidang perusahaan tersebut. Misalnya saya berasal dari jurusan perminyakan, dan akan ada presentasi karya ilmiah yang berkaitan dengan perminyakan, maka saya bisa mencoba ke Pertamina atau Chevron. Biasanya peluang untuk mendapatkan dana dari perusahaan tersebut besar, apalagi dari hasil kegiatan kita (ex: penelitian tim saya) mampu mengembangkan atau menguntungkan bagi perusahaan. Walaupun demikian tidak ada salahnya juga mencoba ke perusahaan-perusahaan yang berbeda dengan bidang jurusan kita. Karena untuk perusahaan-perusahaan besar biasanya memiliki CSR (Corporate Social Responsibility) atau yayasan yang mengalokasikan sebagian dananya untuk pendidikan.

Lembaga Amal dan Zakat. Kita juga bisa mengajukan ke lembaga ini, contohnya BAZNAS, LAZNAS BSM, Dompet Dhuafa dllnya. Sama seperti perusahaan, lembaga amal dan zakat juga memberikan alokasi keuangannya di bidang pendidikan (tidak hanya membiayai uang semester mahasiswa, tapi juga memberikan dana kegiatan atau prestasi mahasiswa). Pada saat kegiatan di luar negeri saya mencoba mengajukan dana ke Laznas BSM, dan Alhamdulillah dapat hehe.

2. Mempersiapkan Proposal dan Surat Pengantar dari Kampus

Menarik dan Jelas! Kunci utama untuk membuat proposal. Proposal menarik akan membuat perusahaan atau lembaga mau membacanya. Jangan sampai karena proposal kita terlalu tebal dan besar, apalagi tulisannya kecil-kecil, perusahaan enggan membukanya. Jika membukanya saja enggan, bagaimana mau memberi sponsor? Di tiap perusahaan/lembaga pasti banyak sekali ratusan bahkan ribuan proposal yang masuk. Tentu akan memakan waktu banyak untuk membacanya. Jika proposalmu, isinya padat dan jelas tentu akan memberikan keefektifan pihak perusahaan untuk mempertimbangkan proposalmu.

Yang paling penting dalam proposal sponsor adalah penyantuman kontraprestasi (bentuk kerja sama) kepada sponsor. Kita bebas ingin memberikan kontraprestasi apa kepada sponsor. Misalnya saja saya memberikan kontraprestasi penyantuman logo perusahaan pada spanduk, baliho, kaos, dan goodie bag berbagai ukuran sesuai dengan jumlah sponsor yang diberikan. Kita juga bisa mencari alternatif kontraprestasi lainnya. Misalnya kita akan menjadi duta perusahaan yang akan mempromosikan perusahaan di kampus atau menulis kegiatan kita yang disponsori perusahaan bersangkutan di berbagai sosial media. Namun, jika kita mengajukan proposal ke fakultas, rektorat dan kementerian penyantuman kontrapretasi tidak diharuskan, hanya menjadi nilai plus saja. Yang terpenting adalah isi proposal mu jelas menggambarkan isi kegiatanmu.

Ini adalah perbedaan umum antara membuat proposal sponsorship ke kampus (universitas/fakultas) dan perusahaan:
  1. Kalau mengirim proposal ke kampus, biasanya tidak menggunakan kata “sponsorship” dalam proposal
  2. Kalau mengirim proposal ke kampus, tidak perlu formulir pendanaan
  3. Kalau mengirim proposal ke kampus, kontraprestasi tidak rumit
  4. Kesulitan birokrasi segambreng tergantung fakultas, yaaa… Hehe

Proposal sponsor saja tidak cukup, kementerian dan perusahaan juga meminta surat pengantar sponsor dari kampus. Kalau di kampus saya, UNJ, surat pengantar proposal kita buat sendiri dengan persetujuan tandatangan dari ketua jurusan, wakil dekan 3, dan wakil rektor 3. Untuk di kampus lain, bisa di sesuaikan masing-masing.

Selanjutnya, isi proposal dan kelengkapan dokumennya itu bergantung dari kebutuhannya kegiatan kita. Namun secara umum, 8 berkas ini akan ada untuk satu kegiatan.
  1. Satu bendel proposal (klik di sini untuk unduh contoh proposal atau Klik proposal ini juga bisa )
  2. Letter of Acceptance atau Invitation Letter (lampiran proposal)
  3. Abstract of Paper atau project Description (lampiran proposal, jika perlu)
  4. Curriculum Vitae  (lampiran proposal)
  5. Formulir partisipasi (lampiran proposal)
  6. Surat permohonan bantuan dana (lampiran proposal)
  7. Formulir tanda terima (di dalam proposal)
  8. Surat rekomendasi (jika perlu)
Tips lainnya: ukuran kertas tidak harus A4 atau F4 yang penting mudah digenggam, tidak lebih dari 10 halaman, berwarna, dijilid dengan menggunakan jilid ring besi. Nah untuk kamu yang lolos dalam kegiatan exchange atau conference, biasanya pihak panitia sudah memiliki proposal yang dapat digunakan peserta untuk pengajuan dana, bisa kamu minta ke panitian dan kamu tinggal memodifikasi agar terlihat lebih menarik dan jelas.

3. Pengajuan Proposal dan Follow up

Pengajuan proposal yang baik, dilakukan minimal 2 bulan sebelum keberangkatan.Lebih dari 2 bulan itu lebih baik. Karena ketika kita follow up proposal tersebut, ada beberapa perusahaan/lembaga yang seolah-olah menunda-nunda penyetujuan pemberian bantuan dana dan proses pencairan dana untuk kegiatan kita membutuhkan waktu paling cepat 2-4 minggu setelah proposal kita ajukan. Namun, ada pula beberapa perusahaan yang responnya cepat. Follow upnya pun baik sekitar 1 minggu setelah pengajuan.

Khusus untuk pengajuan dana ke kemenristek dikti itu, biasanya proposal akan mendapatkan dana jika pengajuannya H-45 kegiatan terselenggara. Beberapa kegiatan di kampus saya dan kegiatan ke luar negeri Alhamdulillah mendapat dana dari dikti dengan pengajuan H-45 kegiatan. Lebih dari itu, biasanya peluang untuk mendapatkan dana berkurang (info ini saya dapatkan dari beberapa senior dan teman yang pernah mengajukan ke dikti dan pegawai di dikti dirjen belmawa).

Ingat, setiap perusahaan atau lembaga biasanya memiliki divisi yang berbeda-beda dalam mengurusi sponsor atau pengajuan dana. Ada yang permohonan kerja sama sponsor ditujukan kepada bagian marketing atau bagian sponsor sendiri. Sehingga jika kamu tidak memiliki link ke perusahaan yang bersangkutan, kamu bisa googling nomor customer service dan menanyakan jika ingin mengajukan kerjasama sponsor harus menghubungi bagian apa. Jika sudah dapat kontak yang mengurusi sponsor, biasanya perusahaan meminta agar proposal dikirim langsung via pos atau via email. Jika perusahaan itu dekat dengan kota tempat kamu berdomisili, tidak ada salahnya kamu langsung mendatangi perusahaan untuk mengajukan kerja sama sponsor.

  1. Tawakal dan Optimis

Proses tidak akan mengkhinati hasil. Percayalah, jerih payah, bolak-balik dan uang yang keluar selama pengajuan dana tidak akan terbuang percuma. Mungkin secara kasat mata, akan ada kejadian/hal-hal yang tak diiinginkan. Di balik itu semua, tentunya kita telah mendapatkan pengalaman, jaringan, ilmu-ilmu baru, dan lain sebagainya. Dalam hal ini kita sebagai manusia ditugaskan untuk tetap berpegang teguh kepada Allah SWT. Tawakal menjadi point utama dalam mencapai sesuatu. Di mana tawakal itu sendiri merupakan kombinasi antara usaha maksimal dengan doa-doa yang tiada hentinya. Doa adalah senjata orang beriman, tidak ada satu orang pun yang dapat membantu kita, melainkan Allah.

Selain itu kita juga diwajibkan terus bersabar. Kesabaran kita pun masih terus diuji ketika kita berangkat tetapi uang sponsor belum ada yang turun dan baru akan turun setelah kamu pulang. Inilah pengalaman yang terjadi pada saya. Pada saat peserta diharuskan melakukan first payment, second payment dengan jadwal terbatas, belum ada satupun lembaga yang memberikan sinyal akan mendanai kegiatan saya. Sampai H-2 acara, Alhamdulillah saya mendapat dana dari kampus yang jumlahnya mungkin hanya bisa untuk makan selama di luar negeri. Saya tetap bersyukur.. dan alhasil kegiatan tersebut, saya biayai lewat uang tabungan saya sendiri. Saya tetap yakin, bahwa Allah Maha Penolong, dan Alhamdulillah Allah menjawab doa saya,  1 minggu dan 2 bulan setelah acara berlangsung saya mendapat kabar bahwa proposal yang pernah saya ajukan lolos dan berhasil didanai. Dan tak disangka, dari dana yang saya dapat itu surplus, yang artinya banyak sisa dana selama pemakaian uang di acara tersebut, lumayaan hehehe

Jadi teruslah berdoa dan keep optimis karena prasangka Allah adalah prasangka hambaNya. Harus Yakin bahwa Allah akan memberikan dana kegiatan kamu. Jika sudah menjadi rizki pasti Dia akan memberimu, kok🙂

Semangat!!! Semoga kamu berhasil!!!

Tolong-Menolong

Dalam setiap perjalanan atau aktivitas yang kita lalui tentu ada banyak motivasi yang muncul dalam benak, apakah ingin menambah pundi-pundi harta, mempertahankan eksistensi diri atau meraih sebuah jabatan? Sungguh, banyak motiv lain yang dihasratkan untuk memenuhi nafsu duniawi saja, jika Allah tidak menjadi dasar manusia dalam mengarungi perjalanan hidupnya . Apalah arti perjalanan, jika tidak mampu membawa pelakunya naik ke derajat lebih tinggi. Bukan derajat makin kaya harta, dikenal dan dihormati banyak orang atau naik jabatan pekerjaan. Tapi derajat di hadapan Allah SWT, dimana perjalanan tersebut mampu memperluas wawasan, memperdalam keimanan dan ketaqwaan pelaku terhadap TuhanNya.

Pernahkah anda melakukan suatu aktivitas yang berjalan dengan sangat mudah dan sesuai harapan, sedangkan teman-teman anda yang lain kewalahan untuk melakukannya? Pernahkah anda di saat deadline tugas H-1 jam, anda belum mengerjakannya karena sibuk dengan agenda kebaikan lalu tiba-tiba mendapat kabar menggembirakan bahwa tugas ditunda seminggu kemudian? Dan pernahkah  ketika sedang di jalan,  anda hampir tertabrak mobil namun ada something yang melindungi anda dari tabrakan mobil tersebut? Mungkin ada yang menggangguk atau memang tidak terjadi pada kehidupan anda. Tapi saya yakin, dari rangkaian perjalanan hidup ini tentu ada peristiwa amazing yang tidak disangka-sangka, di luar nalar pikir kita sebagai manusia biasa.

Siapa yang melakukan itu semua? Ya, Allah SWT sang Raja Penguasa alam semesta ini. Mengatur  planet-palnet agar tetap di orbitnya maing-masing, peredaran darah manusia berjalan dengan mestinya dan ikan-ikan di dalam laut tercukupi kehidupannya. Tanpa Allah semua akan berantakan dan perjalanan kita pun akan sulit.

Hai orang-orang yang beriman, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.(QS. Muhammad: 7)

Dari Abu Musa berkata,”Rasulullah saw pernah ditanya tentang seseorang yang berperang dengan gagah, dan untuk fanatisme kesukuan, karena riya, yang manakah yang disebut berperang dijalan Allah ? Beliau menjawab,”Siapa yang berperang agar kalimat Allah tinggi maka dialah orang yang berperang dijalan Allah.”

Menolong Agama Allah tidak hanya menggunakan senjata di medan perang, namun tentang pengorbanan jiwa dan harta untuk agama Allah serta menegakkan AgamaNya di bumi ini. Tidak ada jihad, syahid dan surga kecuali jika tujuannya agar kalimat Allah tinggi dan menjadikan syariat dan manhaj-Nya menguasai hati, akhlak, prilaku, kondisi, dan aturan-aturan dalam kehidupan kita. Saya mengimani kalam-Nya, apapun yang kita lakukan karena Allah, niscaya Allah akan menolong kita dalam kondisi apapun.

Adalah “give and take” dan “apa yang kita tanam itulah yang kita benih” merupakan istilah yang sering kita dengar terkait prinsip hidup ini, salah satunya dalam hal tolong menolong. Namun, jauh sebelum munculnya istilah tersebut, Allah dalam firman-Nya menerangkan dalam surat Al Baqarah 2;195 ”Dan belanjakanlah (harta bendamu) di jalan Allah, dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah, Karena Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik”.

Dalam sebuah peperangan, sebelumnya Rasulullah menyampaikan taujih [pengarahan] kepada para sahabat bahwa biaya jihad itu sangat besar sekali, maka  beliau menawarkan kepada muhsinin di zaman beliau, maka tampillah ketika itu Umar bin Khattab dengan ucapannya,”Ya Rasulullah akan aku serahkan separuh hartaku untuk berjihad besok”, dalam hati Umar menyangka bahwa dialah yang paling besar infaqnya, setelah itu tampil pula Abu Bakar dengan wibawa menyatakan.”Wahai Rasul, aku serahkan seluruh hartaku untuk jihad besok”, Rasull bertanya,”Apa yang kau sisakan untuk keluargamu ?”, Abu Bakar menjawab ”Yang tersisa adalah Allah dan Rasul-Nya.” Dalam hati Umar bergumam,”Memang Abu Bakar tidak bisa disaingi dalam kebaikan ini”.

Allah Ta’ala berfirman:“Dan   tolong-menolong  engkau  semua   atas   kebaikan   dan ketaqwaan.” (al-Maidah: 2).

 

Allah Ta’ala juga berfirman:“Demi masa, sesungguhnya manusia itu dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amalan-amatan shalih, juga suka sating pesan-memesan dengan kebenaran serta saling pesan-memesan dengan saling kesabaran.” [1][1][13] (al-‘Ashr: 1-3).

Kebaikan apapun dan sebesar apapun tidak boleh kita remehkan sebab nabi pernah mengabarkan bahwa dengan kebaikan yang kecil itu siapa tahu kita ditetapkan sebagai penduduk syurga selama-lamanya.   Untuk mencapai derajat taqwa seseorang harus melewati fase muhsin ini sehingga dia diberi prediket orang yang selalu berbuat baik. Dengan kebaikan ini pulalah akan membuat simpati orang kepada kita sehingga rasul menyatakan kalau ummatnya ini seperti lebah yang selalu mengeluarkan hal-hal yang baik seperti madu dan bila lebah hinggap pada ranting yang rapuh  sekalipun maka ranting itu tidak akan patah, demikian indahnya hidup dalam sebuah komunitas dengan nilai-nilai islam,

Kebaikan yang diberikan kepada orang lain bukan hanya menerima pahala saja dari Allah tapi dia merupakan sebab untuk diterimanya bantuan dan rezeki yang lebih banyak darimanapun, “Tiadalah kamu mendapat pertolongan (bantuan) dan rezeki kecuali karena orang-orang yang lemah dari kalangan kamu”(HR. Bukhari) “Allah selalu menolong orang selama orang itu selalu menolong saudaranya (semuslim)” (HR. Ahmad)

Giat Membaca, Awal Kemerdekaan Menuju Indonesia Madani

70 tahun yang lalu tepat Indonesia merdeka dari penjajah Belanda, Inggris, Portugis dan Jepang. Kurang lebih 3,5 abad pula Indonesia merasakan kekangan bangsa luar untuk bergerak, salah satunya intuk menimba ilmu. Hanya kalangan tertentu saja yang dapat mengenyam pendidikan, apakah dia seorang bangsawan, konglomerat atau pemuka adat yang memang dihormati. Ya, kurang lebih 3,5 abad pula Indonesia terpenjara oleh kebodohan di tanah sendiri. Jerat kemiskinan dan perbudakan membludak di tanah air. Butuh waktu yang sangat lama untuk bebas terjerat dari hantaman kekejian penjajah.

17 Agustus 1945, kehebatan anak bangsa akhirnya mampu menaklukan warga non pribumi. Soekarno-Hatta serta pejuang lainnya habis-habisan dengan harga mati atau merdeka mengusir mereka. Nyawa pun menjadi taruhannya. Semangat pantanng menyerah dan kecerdasan pemuda menjadi kunci sukses 70 tahun merdekanya bangsa ini.

Dan perjuangan pergerakan kemerdekaan Indonesia telah sampailah kepada saat yang berbahagia dengan selamat sentosa mengantarkan rakyat Indonesia ke depan pintu gerbang kemerdekaan negara Indonesia, yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur…..” Pada alinea ke 4 Undang-Undang Dasar 1945 bahwa rakyat Indonesia masih dalam tahap di depan pintu kemerdekaan negara Indonesia. Artinya, kita masih dalam posisi di gerbang kemerdekaan, belum sampai ke puncak kemerdekaan. Masih banyak sekali hal-hal yang dapat kita lakukan untuk bergerak mengisi negara ini hingga ke puncak kemerdekaan dimana Indonesia madani nan beradab menjadi cita-cita kami.

Terlalu banyak pekerjaan rumah yang harus diatasi bangsa ini untuk mencapai puncak kemerdekaan. Kebodohan, kemiskinan, kriminalitas dan moralitas yang rendah menjadi mainstream di berbagai pelosok negeri ini. Sesunggguhnya banyak hal menjadi kebanggaan bangsa ini yang justru bangsa lain menjadi iri terhadap negeri ini, namun yang kita perhatikan hanya hitungan jari hal-hal positif yang nampak di permukaan.

Rasanya benar sekali uangkapan bapak Proklamator kita, Bung Karno, “Perjuanganku lebih mudah karena mengusir penjajah, tapi perjuanganmu akan lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri.”

Dari tahun 1945 hingga 2015, berbagai masalah menyeruak di negeri ini. Rupiah tak artinya di dunia internasional, per hari nya terus mengalami rekor tertinggi yang entah kapan dapat berhenti dan bahkan menurun hingga akhirnya rupiah menjadi mata uang yang sangat bernilai disbanding dolar Amerika. Perekonomian buruk, ekspor menurun, produk dalam negeri rendah pendapatan negara pun menjadi kacau. Sumber daya alam yang sangat melimpah, orang asinglah yang berkuasa. Kira-kira hampir 80% masyarakat Indonesia menjadi konsumen penting bagi bang lain. Degradasi moral anak bangsa pun menjadi hal biasa. Terlalu banyak hal buruk yang tersembunyi di balik ungkapan Pemerintah bahwa hal ini adalah yang wajar, baik-baik saja dan segera diatasi.

Kami berharap bukan sekedar wacana tapi kerja dan kerja sesuai tagline pemerintah saat ini yang berkuasa agar menghasilkan kesejahteraan rakyat Indonesia.

Hal ini tentu bukan menjadi perhatian bagi pemerintah saja, namun seluruh rakyat Indonesia terutama para pemuda. Di tangan pemudalah perubahan menjadi nyata dari impian yang menggantung di langit.

Berdasarkan laporan Bank Dunia, Indonesia merupakan negara yang memiliki minat baca rendah. Hal tersebut sungguh disayangkan, mengingat sebagai negara besar, Indonesia memiliki potensi besar untuk menjadi negara yang unggul. Menteri Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat H.R Agung Laksono di Media Tempo pada Tanggal 12 Januari 2012, menyebutkan pula bahwa minat baca masyarakat Indonesia masih sangat rendah, prosentase minat baca masyarakat Indonesia sebesar 0,01 persen. Artinya dalam 10.000 orang hanya 1 orang saja yang memiliki minat baca. Serta tingkat minat baca masyarakat Indonesia masih jauh ketinggalan dibanding negara maju seperti Jepang yang mencapai 45 persen sedangkan Singapura 55 persen. Berdasarkan survei UNESCO tahun 2011, budaya baca masyarakat Indonesia berada di urutan 38 dari 39 negara yang paling rendah di kawasan ASEAN. Miris…

Saya menyimpulkan bahwa maju atau tidaknya suatu bangsa tergantung seberapa banyak minat membaca di wilayahnya. Tidak ada suatu bangsa yang unggul dan maju tanpa manusia yang unggul pula.   Manusia unggul adalah manusia yang memiliki pengetahuan dimana hal itu diperoleh melalui membaca. Suatu mimpi bahwa masyarakat Indonesia, akan jatuh cinta dengan membaca karena dengan membaca dapat membuka jendela dunia.    Ketika jendela dunia sudah terbuka, masyarakat Indonesia akan dapat melihat keluar sehingga cara berpikir akan maju dapat menjadi jalan keluar bagi bangsa Indonesia dari kemelut lingkaran setan.

Dengan luas wilayah hampir 2 juta km² dan penduduk berjumlah sekitar 250 juta jiwa (2015) ini merupakan salah satu bagian potensial untuk memajukan peradaban Indonesia terutama dari segi pariwisata dan pembangunan SDM Jakarta yang berkualitas. Lagi-lagi, meningkatkan minat baca yang tinggilah salah satu point utama untuk mewujudkan segala perencaan yang telah dibuat.

Masalah utama yang ada sebetulnya bukanlah iliterasi (buta aksara), karena jumlahnya semakin lama semakin mengecil. Masalah utama, justru pada mereka yang sudah bisa membaca tetapi tidak mau membaca, sebagian besar masyarakat belum membaca secara benar, yakni membaca untuk memberi makna dan meningkatkan nilai kehidupan. Bukan membaca karena hanya sekedar mencari alamat, melihat lowongan pekerjaan ataupun hasil pertandingan sepak bola. Apabila masyarakat telah memiliki budaya membaca yang kuat maka kegiatan membaca bukanlah merupakan suatu yang perlu dimotivasi, tetapi sudah merupakan suatu kebutuhan dan kebiasaan yang timbul dari setiap insan, bukan karena paksaan.

Dengan jumlah populasi lebih dari 10 juta jiwa, bisa dilihat bahwa masyarakat Indonesia pada umumnya membaca hanya untuk mengisi waktu ( to fill time), bukan membaca untuk menghabiskan waktu (to kill time).

Pada era globalisasi informasi ini, membaca merupakan suatu keharusan yang mendasar untuk membentuk perilaku seseorang. Dengan membaca seseorang dapat menambah informasi dan memperluas ilmu pengetahuan serta kebudayaan. Tidak diragukan lagi, bahwa membaca merupakan sarana penting bagi setiap orang yang ingin maju. Karena dengan bacaan membuat mereka menjadi cerdas, kritis dan mempunyai daya analisa dan nalar yang tinggi serta melatih imajinasi dan daya pikir sehingga memenuhi kepuasaan intelektual. Dengan membaca selalu tersedia waktu untuk merenung, berfikir dan mengembangkankan kreativitas berfikir. Banyak manfaat yang diperoleh dari membaca baik untuk diri sendiri, orang lain maupun bangsa.

Mengembangkan minat baca di usia dini lebih mudah dibandingkan mengembangkan minat baca di usia dewasa atau bahkan usia senja. Peran orang tua dalam membimbing anak-anak membangun minat baca sangat dibutuhkan. Memberi contoh membaca pad anak-anak juga sangat berarti dalam kehidupan sebuah keluarga. Di lingkup luar, yaitu masyarakat, kita perlu pula memaksimalkan peran perpustakan . Perpustakaan yang menyimpan khazanah budaya bangsa dan gudang ilmu pengetahuan memiliki peran sangat penting dalam upaya peningkatan minat baca.

Perjuanganku lebih mudah karena mengusir penjajah, tapi perjuanganmu akan lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri.” …. Bung Karno

Mulai detik jadilah pengubah bangsa yang dimulai dari sendiri contohnya dengan membaca buku. Jadilah teladan dan sosok menginspirasi untuk keluarga, teman-teman, masyarakat dan generasi selanjutnya dan bersama merdekaan Indonesia hingga ke puncaknya menjadi bangsa yang madani nan beradab.

Zakat dalam Perekonomian Modern

Kita ketahui bahwa zakat adalah salah satu rukun islam yang wajib dilaksanakan seluruh umat muslim. Zakat merupakan ibadah yang memiliki dua dimensi yaitu vertikal dan horisontal, yaitu merupakan ibadah sebagai bentuk ketaatan kepada Allah (vertical) dan sebagai kewajiban kepada sesama manusia (horizontal). Zakat juga sering disebut sebagai ibadah maaliyah ijtihadiyah. Tingkat pentingnya zakat terlihat dari banyaknya ayat (sekitar 82 ayat) yang menyandingkan perintah zakat dengan perintah sholat.

Zakat menjadi pilar utama dan pertama dari perekonomian Islam yang disebutkan dalam Al-Qur’an bahwa mekanisme fiskal zakat menjadi syarat dalam suatu perekonomian karena zakat menjadi salah satu implementasi azas keadilan dalam sistem ekonomi Islam.

Zakat merupakan pungutan wajib atas individu yang memiliki harta wajib zakat yang melebihi nishab (muzakki ), dan didistribusikan kepada delapan golongan penerima zakat (mustahik ), yaitu : fakir, miskin, fi sabilillah , ibnussabil, amil, gharimin, hamba sahaya dan muallaf. Dari segi bahasa, zakat berarti al- barakatu ‘keberkahan,’ an- nama ‘pertumbuhan dan perkembangan,’ ath- thaharatu‘kesucian’ dan ash- shahalu ‘keberesan.’ Dari segi istilah, zakat merupakan bagian dari harta dengan persyaratan tertentu, yang Allah SWT wajibkan kepada pemiliknya untuk diserahkan kepada yang berhak menerimanya dengan persyaratan tertentu pula. Harta yang dikeluarkan zakatnya akan menjadi berkah, tumbuh, berkembang serta suci dan beres (baik). Hal ini sesuai dengan Al-Qur’an yang dinyatakan dalam surah At- Taubah [9] : 103 dan Ar-Rum [30] : 39 tersebut. Dengan demikian, zakat yang diambil dari harta orang-orang yang mampu (muzakki ) akan mengembangkan dan menyucikan harta itu sendiri.

Menurut M.A. Mannan, secara umum fungsi zakat meliputi bidang moral, sosial dan ekonomi. Dalam bidang moral, zakat mengikis ketamakan dan keserakahan hati si kaya. Sedangkan dalam bidang sosial, zakat berfungsi untuk menghapuskan kemiskinan dari masyarakat. Di bidang ekonomi, zakat mencegah penumpukan kekayaan di tangan sebagian kecil manusia dan merupakan sumbangan wajib kaum muslimin untuk perbendaharaan negara.

Penerapan sistem zakat akan mempunyai berbagai implikasi di berbagai segi kehidupan, antara lain :

  • Memenuhi kebutuhan masyarakat yang kekurangan
  • Memperkecil jurang kesenjangan ekonomi;
  • Menekan jumlah permasalahan sosial, kriminalitas, pelacuran, gelandangan, pengemis dan lain-lain.
  • Menjaga kemampuan beli masyarakat agar dapat memelihara sektor usaha.Dengan kata lain, zakat menjaga konsumsi
  • Masyarakat pada tingkat yang minimal sehingga perekonomian dapat terus berjalan;
  • Mendorong masyarakat untuk berinvestasi, tidak menumpuk hartanya ( idle).

Di zaman yang serba modern ini, tentu perekonomian juga terpengaruh dari komodern-an zama seperti cara berfikir, penggunaan teknologi dan transaksi yang digunakan. Bagaimanapun zamannya zakat tetap wajib dikeluarkan oleh si kaya. Jangan sampai perekonomian modern menimbulkan liberalisme yang terus mengkayakan si kaya namun memiskin si miskin. Semakin majunya perekonomian suatu negara/kelompok/individu maka dengan berzakat dapat menyingkirkan keserakahan dalam diri akibat dari sistem perekonomian liberal.

Seiring berkembangnya sistem perekonomian modern, maka seharusnya sumber zakat pun juga harus berkembang dengan muncuknya berbagai sumber-sumber ekonomi ataupun pendapatan yang dimiliki suatu kelompok/individu., karena tujuan zakat adalah transfer kekayaan dari masyarakat yang kaya kepada masyarakat yang kurang mampu, sehingga setiap kegiatan yang merupakan sumber kekayaan harus menjadi sumber zakat.

Eksistensi zakat dalam kehidupan manusia baik pribadi maupun kolektif pada hakikatnya memiliki makna ibadah dan ekonomi. Di satu sisi, zakat merupakan bentuk ibadah wajib bagi mereka yang mampu dari kepemilikan harta dan menjadi salah satu ukuran variabel utama dalam menjaga kestabilan sosial ekonomi agar selalu berada pada posisi aman untuk terus berlangsung. Dari perspektif kolektif dan ekonomi, zakat akan melipatgandakan harta masyarakat. Proses pelipatgandaan ini dimungkinkan di pasar yang kemudian mendorong pertumbuhan ekonomi dan pada akhirnya akan meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Peningkatan permintaan terjadi karena perekonomian mengakomodasi golongan manusia tidak mampu untuk memenuhi kebutuhan minimalnya sehingga pelaku dan volume pasar dari sisi permintaan meningkat. Distribusi zakat pada golongan masyarakat kurang mampu akan menjadi pendapatan yang membuat mereka memiliki daya beli atau memiliki akses pada perekonomian.

Sementara itu, peningkatan penawaran terjadi karena zakat memberikan disinsentif bagi penumpukan harta diam (tidak diusahakan dengan mengenakan ‘potongan’ sehingga mendorong harta untuk diusahakan dan dialirkan untuk investasi di sektor riil. Pada akhirnya, zakat berperan besar dalam meningkatkan pertumbuhan ekonomi secara makro. Dengan adanya mekanisme zakat, aktivitas ekonomi dalam kondisi terburuk sekalipun dipastikan akan dapat berjalan paling tidak pada tingkat yang minimal untuk memenuhi kebutuhan primer. Oleh karena itu, instrumen zakat dapat digunakan sebagai perisai terakhir bagi perekonomian agar tidak terpuruk dari kondisi krisis di mana kemampuan konsumsi mengalami stagnasi.

Zakat memungkinkan perekonomian terus berjalan pada tingkat yang minimum karena kebutuhan konsumsi minimum dijamin oleh dana zakat. Dari penjelasan tersebut, secara ringkas penerapan sistem zakat akan berdampak positif di sektor riil dalam beberapa hal, antara lain :

  • Zakat menjadi mekanisme baku yang menjamin terdistribusinya pendapatan dan kekayaan sehingga tidak terjadi kecenderungan penumpukkan faktor produksi pada sekelompok orang yang berpotensi menghambat perputaran ekonomi.
  • Zakat merupakan mekanisme perputaran ekonomi ( velocity ) itu sendiri yang memelihara tingkat permintaan dalam ekonomi. Dengan kata lain, pasar selalu tersedi bagi produsen untuk memberikan penawaran. Dengan begitu, sektor riil selalu terjaga pada tingkat yang minimum tempat perekonomian dapat berlangsung karena interaksi permintaan dan penawaran selalu ada.
  • Zakat mengakomodasi warga negara yang tidak memiliki akses ke pasar karena tidak memiliki daya beli atau modal untuk kemudian menjadi pelaku aktif dalam ekonomi sehingga volume aktivitas ekonomi realtif lebih besar (jika dibandingkan dengan aktivitas ekonomi konvensional).

Selain itu, eksistensi zakat dalam kehidupan manusia baik pribadi maupun kolektif pada hakikatnya memiliki makna ibadah dan ekonomi. Di satu sisi, zakat merupakan bentuk ibadah wajib bagi mereka yang mampu dari kepemilikan harta dan menjadi salah satu ukuran variabel utama dalam menjaga kestabilan sosial ekonomi agar selalu berada pada posisi aman untuk terus berlangsung.

Era New Media, Era Pendidik Abad 20 Menata Peradaban Bangsa Indonesia

Banyak peramal meramalkan masa depan suatu hal, seperti kehidupan seseorang, keadaan suatu negara, bencana, cuaca dan sebagainya. Namun, adakah yang percaya ramalan terbsebut? Tentu ada yang percaya dan ada pula yang tidak. Dan bagaimana dengan ramalan tersebut? Apakah nyata?

Pada tahun 1960-an, Marshall McLuhan pernah sesumbar soal “global village”. McLuhan pernah meramal bahwa suatu saat akan ada masa di mana informasi dapat sangat cepat diakses, sifatnya terbuka, terjadi kesamaan persepsi dari orang-orang tentang suatu hal karena informasi yang diperoleh sama, dimensi jarak dan waktu akan lebur, dan jika dunia ini diibaratkan sebagai sebuah desa, masa itulah yang McLuhan perkirakan dunia akan mewujud sebagai global village.

Mari kita lihat dunia yang sekarang. Di masanya, McLuhan mungkin dianggap peramal gila. Sebagian besar orang di tahun 1960-an akan berpikir, sungguh McLuhan tidak masuk akal dan stress, bagaimana bisa orang-orang di tempat yang berbeda, dari ujung dunia satu ke ujung dunia lainnya, berbeda pulau bahkan benua terpisahkan lautan samudera akan dapat terhubung dan melakukan komunikasi dengan begitu cepat di satu waktu yang sama? Tapi, lihat, kawan! Ramalan McLuhan benar-benar terwujud saat ini. Ledakan perkembangan teknologi informasi, kehadiran media-media baru, pesatnya pasar alat komunikasi pintar, telah-sedang dan akan terus berkembang menghubungkan orang-orang dari tempat yang berbeda, kota-kota yang berseberangan, bahkan dari berbagai belahan dunia. Ya, mungkin jika Mc Luhan bisa berbicara ia akan mengatakan “we look at the present through a rear-view mirror. We march backwards into the future.”

Generasi yang lahir saat ini (tahun 2000-an dan seterusnya) adalah generasi yang sangat mengagumkan. Karena generasi yang lahir saat ini dilahirkan bersamaan dengan teknologi yang menyertainya. Mungkin hal ini pula yang mendasari tim ahli penyusun kurikulum 2013 menyebut generasi anak-anak saat ini sebagai nattive digital, pribuminya alam digital. Mereka lahir, dibesarkan, dan tumbuh bersama dan di dalam alam digital. Dan memang kenyataannya terlihat bahwa generasi saat ini tidak dapat dilepaskan dengan alat-alat digital. Separuh bahkan sebagian besar waktu mereka dihabiskan bercengkrama dengan alat-alat digital. Saat mereka tidur, membuka mata dan kembali tidur menutup mata berhubungan dengan digital. Belajar atau bermain alat-alat digital siap mendampingi keseharian mereka. Cukup ironis kawan! Karena alat-alat digital justru lebih banyak mendatangkan mudharat daripada kebaikannya. Oleh karena itu sangat dibutuhkan pengawasan ekstra terhadap generasi abad 20. Sedari kecil bahkan saat dikandung dalam rahim ibu didiklah mereka.Jadikan pendidikan pertama mereka melekat dan membentuk pribadi yang berkarakter. Maka peran pendidik di keluarga sangatlah penting. Pendidik di sini tentu seorang Ibu dan Ayah. Oleh karena itu persiapkan dirimu wahai calon Ibu dan Ayah. Karena denganmu anak akan terus menjulang menjadi manusia yang insan di mataNya dan pengubah bangsa di masa depan.

Bagaimana dengan para pendidik di sekolah saat ini? Dimana teknologi tidak berada dalam dekapan mereka saat mereka dilahirkan? Yang saya amati sebagian besar diantara mereka terlihat gaptek walau murid-murid mereka berganti gadget yang lebih pintar. Mereka telah coba berupaya sekuat tenaga-hati-pikiran untuk ter-engage dengan teknologi saat ini, tapi masih menjadi setengah analog dan setengah digital. Mereka seakan ada di persimpangan jalan, terseok-seok dengan gempuran teknologi yang serbacepat.

Dan bagaimana dengan kita, calon pendidik masa depan bangsa? Dengan hitungan jari beberapa tahun kedepan, kita akan terjun langsung menghadapi generasi native digital, mungkin akan melebihi standar generasi native digital. Di kehidupan sehari-hari, kita yang masih tergolong muda mungkin terlihat lebih akrab dengan teknologi serta gadget-gadget yang ada. Namun, apakah lihainya jari yang tiap waktu menyentuh barang digital akan mampu mendidik anak dengan baik? Belum tentu kawan… Bila sebelumnya sebagian besar pendidik terdahulu hanya sebagai pengamat, maka saatnya kini kita, pendidik masa depan wajib menjadi partisipan (from viewers to participant), kalau dulu mereka hanya masih terkesan-kesan dengan kehadiran teknologi dan media-media baru ini, maka kita harus pula terlibat (from impressions to involvement), jika dulu pendidik masih menggunakan kacamata kita sebagai guru yang tahu segalanya. Enyahkan, kawan! Wajib kita sadari bahwa bagi murid-murid era digital ini pengetahuan yang kita sampaikan ke mereka bisa jadi hanya persoalan lima menit. Mereka lebih dekat dengan “mbah google” saat ini. Sehingga kita wajib pula melakukan revolusi gaya mengajar yang sifatnya “sok paling tahu” dan bersifat learning center menjadi “mari kita cari tahu bersama dan diskusikan” dengan pendekatan komunikasi yang simetris.

Dengan hadirnya berbagai fitur new media – maka. manfaatnya tidak hanya untuk berkomunikasi dan berinteraksi, tetapi juga untuk meningkatkan kualitas materi dan metode pengajarannya. Seorang pendidik di era new media juga harus ter-engage dengan isu-isu sosial yang mendekapnya. Beralihlah dari sekedar viewers fenomena-berita-wacana menjadi participants, dari sekadar impressions menjadi involvement. Keterlibatan ini menjadi penting jika seorang pendidik tergerus dan terseok-seok di dunia yang telah berubah menjadi global village.

Di era 2.0 ini. Seorang pendidik harus terus menemukan metode pengajaran yang lebih interaktif dan bermanfaat bagi murid serta sesuai dengan perkembangan jaman. Pendidik harus bersikap dan bertingkah laku. Pendidik dengan segala keterbatasannya, bisa menjadi pendidik yang kreatif. Guru dan buku bukan lagi sumber pengetahuan saat ini. Murid-murid sudah fasih mencari bahan-bahan dan informasi di search engine. Maka, pendidik harus siap dengan ini semua, Saat ujian dan penugasan buatlah sekreatif mungkin, gunakan berbagai media yang ada agar terlihat menyenangkan dan murid menjadi aktif, telibat dan terbentuk karakter dalam diri mereka.

Sesuai dengan visi pendidikan nasional UU No. 20/2003 tentang Sisdiknas adalah:

Terwujudnya sistem pendidikan sebagai pranata sosial yang kuat dan berwibawa untuk memberdayakan semua warga negara Indonesia berkembang menjadi manusia yang berkualitas sehingga mampu dan proaktif menjawab tantangan zaman yang selalu berubah

Sejalan dengan Visi Pendidikan Nasional tersebut, Depdiknas berhasrat untuk pada tahun 2025 menghasilkan: INSAN INDONESIA CERDAS DAN KOMPETITIF.

Lagi-lagi di sinilah peran penting sesorang pendidik, yaitu menghasilkan insan Indonesia cerdas dan kreatif. Diserangnya kita oleh berbagai teknologi, jangan jadi alasan dan hambatan menjadi sebenar-benarnya pendidik. Namun, jadikan peluang untuk menjadi pendidik abad 20 yang professional dan inspiratif bagi murid-murid kita. Sebagai pendidik pun, kita dituntut untuk meghasilkan individu bahkan sekelompok masyarakat yang cerdas spiritual, cerdas emosional dan sosial, cerdas kinestetik, dan Cerdas intelektual.

Pendidik sebagai tonggak pendidikan dan kemajuan suatu bangsa tentu harus memiliki kompetensi, karena ditangan mereka mau seperti apa generasi ini terbentuk dan mau dibawa kemana kehidupan bangsa mendatang. Maka berikut kemampuan yang harus dimiliki pendidik sebagai komponen utama dalam sistem pendidikan :

  • Pedagogik, kemampuan mengelola pembelajaran peserta didik: (1) pemahaman pada peserta didik, (2) perancangan dan pelaksanaan pembelajaran, (3) evaluasi hasil belajar, dan (4) pengembangan potensi peserta didik
  • Kepribadian, kemampuan kepribadian (1) mantap, (2) stabil, (3) dewasa, (4) arif, (5) berwibawa, (6) berakhlak mulia, dan (7) dapat menjadi teladan
  • Sosial, kemampuan guru untuk berkomunikasi dan bergaul secara efektif (1) peserta didik, (2) sesama pendidik, (3) tenaga kependidikan, (4) orang tua/wali peserta didik, dan (5) masyarakat sekitar
  • Profesional, kemampuan penguasaan materi pembelajaran secara luas dan mendalam, yang memungkinkannya membimbing peserta didik memenuhi standar kompetensi yang ditetapkan dalam standar nasional pendidikan

Jika semua pendidik di seluruh Negara ini hingga ke pelosok memiliki 4 kemampuan tersebut, dipastikan lahirlah suatu tatanan masayarakat dengan sumber daya manusia yang hebat dan selanjutnya akan membentuk tatanan suatu bangsa yang martabat di dunia. Terlepas dari itu, tentu seorang pendidik membutuhkan suatu media atau alat-alat digital yang akan mendukung proses pembelajaran di kelas sehingga materi yang disampaikan dapat diterima dan dapat diaplikasikan di kehidupan sehari.

Pendidik melek IT atau media-media lainya sadar profesi. Jangan jadikan media yang ada justru membuat menyimpang dari kode etik seorang pendidik dan akan membuat catatan buruk profesi pendidik. Pendidik sebagai pengarah dan pembimbing murid diusahakan memiliki charisma yang kelak nanti mejadi teladan dan contoh mereka dalam bertindak

Masa dan era yang selalu berjalan ke depan dengan cepatnya, telah membawa berbagai macam perubahan dari berbagai sudut pandang kehidupan umat manusia, mulai dari cara berfikir sampai etika berfikir dan pola tingkah lakunya. Dan tentu hal terpenting untuk pencapaian kemajuan dan peradaban suatu bangsa, adalah tidak terlepaskan dari seorang pendidik. Pendidik di sini, tidak hanya seorang guru di sekolah, dosen di universitas atau ustadz/ah di madrasah. Melainkan, kita semua adalah pendidik bagi diri kita sendiri maupun oranglain. Seorang ibu/ayah yang mendidik anaknya, kakak yang mendidik adiknya, individu yang mendidik temannya, tokoh masyarakat yang mendidik lingkungan dan masyarakatnya serta pemimin Negara yang mendidik rakyatnya.

Maka, saya mengajak semua rakyat Indonesia di era new media ini dengan segala kemudahan yang dapat diakses, baik tua-muda, kaya-miskin atau semua kalangan, mari kitabudayakan membaca-menulis-berdiskusi!! Membaca, di segala musim dan zaman, selalu mampu meluruhkan keterbatasan kita pada hal-hal yang belum kita ketahui. Membaca juga membuka potensi diri yang awalnya tertutup menjadi lebih terbuka, terbuka terhadap perubahan, terbuka pada setiap pembaharuan. Menulis, adalah upaya melatih logika. Kita pun seorang pendidik harus memastikan logika kita tetap berjalan di segala musim dan zaman. Merangkai satu peristiwa dan ide dalam bingkai kelogisan bukanlah perkara yang mudah, namun itu dapat diupayakan dengan latihan dan usaha. Menulis juga menjadi peluang untuk kita memasarkan ide-ide kita. Sebarkan tulisan kita lewat sosial media contohnya blog, karena kita dapat membagi tulisan kita, seperti pengalaman dan metode pengajaran kepada pendidik lain serta memicu diskusi yang sehat mengenai dunia pendidikan di Indonesia. Dan berdiskusi, mampu meningkatkan kemampuan berfikir secara logisuntuk memecahkan masalah dan memperluas wawasan serta mengembang kepercaya dirian individu.

Jika sebagian besar rakyat Indonesia gemar membaca-menulis-berdiskusi maka terbentuklah tatanan masyarakat yang beradab dan saya yakin bangsa ini akan menguasai dunia mengalahkan Negara-negara penguasa saat ini, aamiin. Sebab yang terjadi sekarang adalah, siapa yang menguasai sains, teknologi, dan informasi maka merekalah yang akan mempengaruhi dan menentukan arah perjalanan masyarakat global. Sungguh urgen untuk diupayakan ‘tuk diraih dan diwujudkan oleh rakyat ialah adanya kemampuan yang berkualitas tinggi sehingga memiliki kemampuan untuk berinteraksi dan berkomunikasi secara sehat dalam pluralisme kultural masyarakat global

RESENSI BUKU FIKSI : KHALIFAH CINTA

IDENTITAS BUKU

Judul Buku                  : Khalifah Cinta

ISBN                           : 978-602-1371-65-7

Penulis                         : A. Mubarak

Penyunting                  : Esvandiari

Proof Reader               : Eko Prasedja

Desain Sampul            : Willy Mahabi

Tata Letak                   : Ahmed Ghoseen A.

Penerbit                       : AG Publisher

Kota Terbit                  : Yogyakarta

Tahun                          : 2014

Harga                          : Rp 65.000

Jumlah Halaman          : viii + 371 halaman

Ukuran Buku              : 14 x 21 cm

Dicetak oleh                : CV. Alif Gemilang Pressindo

SINOPSIS

Khalifah cinta adalah buku novel pertama A. Mubarak yang terbit. Mengisahkan dua remaja Kampung Kidul, Gata dan Zein yang memiliki cita dan cinta yang tak biasa dan mulia untuk diperjuangkan. Berikut cerita singkat novel Khalifah Cinta

Malam itu Kampung Kidul menderu-deru. Hujan deras dan angin kencang menghantam rumah-rumah penduduk. Kian malam hujan kian lebat. Kilat menyambar-nyambar laksana cemeti api yang diderakan pada para pembangkang. Berkelebat dan menggelegar di sudut-sudut gelap. Sungguh malam yang mencekam. Seorang Ibu hamil merintih kesakitan, mules karena usia kandungannya yang sudah tua dan sepertinya malam itu juga akan lahir seorang bayi dari rahimnya. Sang Suami, yaitu Pak Ahmad dengan gagah berani bergegas pergi melewati hujan nan lebat disertai gemuruh kilat mencari dukun beranak, yaitu Mbah Dina. Kesana kemari tidak ia jumpai Mbah Dina, dan Sang Suami pun pulang ke rumah dengan tangan kosong. Ia sangat menyesalinya. Ia masih memeluk deritanya di teras. Tapi, tangisan bayi yang kencang memanggilnya. Sang Suami yang juga dipanggil Ayah kaget bukan kepalang , karena istrinya tidak sendirian, ia ditemani Simbok dan Mbah Dina. Wajah Ayah berubah, matanya berbinar-binar. Senyumnya lebar, bahagia sekali melihat sang bayi telah lahir di muka bumi ini. Kemudian bayi itu dinamai Zein.

Paginya, semua mata terbelalak : pohon-pohon bertumbangan, payon-payon rumah terlempar, dan pelataran rumah berubah menjadi lautan dedaunan. Kotor. Porak-poranda. Di waktu Dhuha, pagi hari yang cerah dan bersemangat. Gata, anak pertama Pak Madid an Bu Tini singgah ke dunia disambut hangat sang mentari, dihibur ceracau merdu burung-burung. Gata kemudian mengazani telinga kanan dan meng-iqomati telinga kiri anaknya. Hal itu membuat ayah Zein iri kenapa tidak mengazani dan meng-iqomati anaknya. Padahal Pak Madi yang berstatus pengusaha kaya tidak banyak tahu soal agama. Berbeda dengan Pak Ahmad yang seorang ustadz, guru ngaji.

Pak Ahmad ingin anaknya kelak menjadi seorang Da’I dengan harapan bisa meluruskan aqidah masyarakat Kidul yang terbiasa akan tradisi-tradisi menuju kemusyrikan, menyekutukan Allah. Zein masuk di Pondok Pesantren Khalafiah sejak tsanawiyah. Ia memiliki teman pondok bernama Marna.

Gata, anak Pak Madi merupakan sahabat dekat Zein di Kampung Kidul. Mereka sekawanan dengan Timin dan Kio. Saat pengumuman kelulusan, Gata tidak lulus dari sekolahnya. Membuat Pak Madi sangat kecewa dan marah besar dengan Gata. Sungguh mencoreng nama baik keluarga.

“Aku mau pindah ke pesantren saja, Pak.” Tiba-tiba kalimat berani meloncat dari mulut Gata.

“Hah! Apa kamu bilang? Bilang apa kamu barusan? Dasar anak tak tahu diiuntung!”

“Seharusnya kamu berpikir siapa ayahmu. Pengusaha! Pengusaha! Bukan petani! Bukan nelayan! Bukan ustaz!”

“Tapi aku tidak mau jadi pengusaha macam ayah!”

“Plak!”

Kejadian itu membuat kedekatan Pak madi dan Pak Ahmad menjadi jauh dan tegang. Disebut-sebut ketidaklulusan Gata terjadi karena Pak Ahmad, guru ngaji Gata tidak meluangkan Gata untuk belajar ujian sekolahnya dan terus mengaji saat ujian berlangsung serta mendoktrin Gata agar masuk pesantren seperti anaknya, Zein. Keadaan itu sangat memukul Pak Ahmad beserta keluarga, termasuk Zein karena kedekatan mereka dengan keluarga Pak Madi benar-benar dekat seperti saudara. Gata merupakan murid kesayangan Pak Ahmad. Gata sangat cerdas dan akhlaknya baik. Pak Ahmad menganggap Gata sudah seperti anaknya sendiri.

Pak Madi beserta keluarga pergi ke luar kota, entah sebentar atau selamanya. Alasan yang terdengar adalah karena Pak Ahmad. Pak Ahmad merasa bersalah karena belum sempat meminta maaf untuk kedua kalinya (yang pertama sudah, namun ditolak dan membuat Pak madi tambah gusar dengannya). Sehari, dua hari, 3 hari, 1 minggu, 3 minggu menunggu, tapi Pak Madid an keluarga belum juga pulang. Dan akhirnya sekitar sebulanan, Pak Madi beserta istri dan Gata pulang ke Kampung Kidul dan membawa kabar gembira.

“Lusa Bapak mau ke pesantren, ngurus Gata pindahan”, Pak Ahmad memulai dan tampak senang.

Zein benar-benar tidak percaya. Dan hubungan persaudaran mereka dengan Pak madi pun erat kembali.

Sebelum berangkat ke Pesantren, Gata pamitan dengan seorang wanita, namanya Shinta. Ia adalah kekasih Gata. Perawakannya cantik, yatim dan hampir piatu karean nayris ditinggal ayahnya merantau ke negeri seberang. Nasibnya, tak seindah wajahnya. Gata mengakui bahwa ketidaklulusan ujian kemarin lantaran ia tidak mempunyai waktu untuk belajar karena kekasihnya, Shinta, sakit disaat Gata sedang ujian. Ia harus menemani Shinta yang terbaring lemah tak berdaya di kamarnya.

“Padanya aku menaruh sayangku. Rasa cinta menuntuku untuk selalu berkorban. Apa saja. Apa saja kan ku lakukan untuknya. Aku sudah terlalu jauh melangkah kepadanya. Dunianya, semuanya aku tahu dan setuju. Kami juga pengertian. Meski kadang aku harus lebih mengerti darinya, itulah jiwa seorang lelaki, “ lanjut Gata.

Zein yang tenang menyimak, sebenarnya ingin sekali mengkritisi kalimat Gata. Tapi, niatnya itu diurungkan untuk mendengar curhatan sahabatnya itu

Perpisahan dengan Gata membuat Shinta sangat terpuruk sekali dan tak mau melepas Gata. Nampaknya Shinta memang ditakdirkan untuk ditinggalkan oleh orang-orang yang ia sayangi, di mana sebelumnya ayah dan ibunya telah meninggalkannya.

***

Tahun ajaran ini, Zein memasuki kelas 1 aliyah sedangkan Gata kelas 3 tsanawiyah, ini bukan menjadi masalah bagi Gata, justru dia sangat senang dan semangat belajar di pondok walaupun diawali dengan kelas 3 tsanawiyah dan harus melalui kegiatan mabisma, semacam pengenalan akademik untuk santri dan santriawati pondok pesantren Khalafiah.

Saking banyaknya santri/santriwati yang mondok di pesantren Khalafiah, muncul kebijakan baru bahwa para senior diizinkan untuk tidak menetap di pesantren namun bisa tinggal di rumah-rumah masyarakat sekitar pondok. Sedangkan santri/santriawati baru ditekankan untuk mondok di asrama pesantren. Gata tidak mengindahkan kebijakan tersebut, ia lebih memilih tinggal bersama Zein, sahabat karibnya daripada mondok di pesantren yang pasti ada banyak peraturan yang wajib dipatuhi.

Zein tinggal di rumah masyarakat, dekat dengan rumah Hatly, santriwati satu kelas dengan Zein yang sering dibicarakan oleh para santri karena kecantikannya. Banyak santri yang tergila-gila dengannya. Hatly buka wanita yang mudah tergoda dengan tipu rayu para santri. Selain cantik, Hatly yang merupakan anak Pak Ustadz di pesantren Khalafiah, merupaka sosok yang alim, sholehah, juga cerdas.

Marna, merupakan sahabat dekat Zein di Pondok. Ia sangat menggilai Hatly. Melalui Zein ia kerap kali mengirimkan salamnya pada pujaan hatiny Hatly, biasanya lewat surat. Namun, Hatly menolak, tidak menanggapi salam dari Marna melalui Zein. Dan Hatly pun berkata agak kejam pada Zein

“Jangan ulangi lagi kamu sampaikan orang yang tak kukenal itu! Aku tahu ke mana arah mata hatiku. Dan aku tak punya hati untuk kalian!”

***

Tiba-tiba Zein mendapat surat dari Kampung Kidul, sahabatnya, KIO. Dikabarkan bahwa Timin, sahabat bermainnya juga sedang sakit parah, karena kena “guna-guna”. Mendengar kabar itu Zein dan Gata langsung berangkat pulang ke rumahnya. Lalu mendapat Timin dalam kondisi baik-baik saja, sehat walafiat. Ternyata kabar surat dari Kio hanya akal-akalan saja agar mereka pulang atau mampir sebentar ke kampong halamannya.

Keesokan harinya Gata bertemu dengan Shinta. Sungguh tak disangka Shinta memutusi Gata sebelah pihak. Shinta sangat kecewa pada Gata karena surat-surat yang ia kirim selama Gata di pesantren tidak pernah terbalas. Sangat kaget bahwa Gata benar-benar tidak mengetahuinya. Di Pondok Pesantren Khalafiah semua surat-surat yang masuk selalu ‘dideteksi’, dan surat cinta tidak akan pernah lolos dan diterima oleh sang pemiliknya. Saat itu juga shinta mengabarkan bahwa dia akan menikah dengan Tino, pemuda satu kampung juga yang menggilai Shinta namun suka mabok-mabokkan.

Tak lama putus dengan Shinta, senyum sumringah muncul kembali di wajah Gata. Akhir-akhir ini Gata dekat dengan para akhwat, dan ia sering menulis dan membalas surat Ukhty. Ukhty adalah akhwat bercadar yang karismatis. Ia punya pengaruh besar di antara akhwat-akhwat yang lain. Namanya tak pernah sepi dan hampir selalu ada menghiasi forum-forum diskusi, majalah dinding dan seminar-seminar penting. Maka tak ayak, Jika Gata menyukainya

***

Zein sangat penasaran dengan ilmu yang berkaitan dengan musyrik. Lalu bersama Gata ia pergi ke rumah Kyai Dullah menaiki kereta. Kyai Dullah adalah alumni Pesantren Khalafiah yang kini terdengar rumor bahwa beliau membuka praktek perdukunan. Di tengah-tengah perjalanan, sesampaidi sebuah stasiun yang dituju Zein bertemu seorang wanita yang perawakannya mirip sekali dengan Hatly. Sungguh mengingatkan ia dengan Hatly, jantungnya berdegup sangat kencang dan pandangannya tak lepas dari wanita itu. Ia rindu Hatly. Saat itu juga Zein menyadari bahwa ia menggilai Hatly. Dan ini lah cinta pertama Zein dengan seorang wanita.

Beberapa hari kemudian, Pondok Pesantren Khalafiah mengadakan pesta demokrasi, pemilihan ketua OSIS. Terdapat 3 kandidat calon ketua OSIS, yaitu Alif, Anam, dan Majid. Kebetulan Marna dan Zein dipercaya untuk menjadi juru kampanye Majid.

“Majid hanya seorang amanat bila diberi tugas. Seorang yang jujur ketika berbicara. Seorang yang adil tatkala berbagi. Seorang yang konsisten atau istiqamah di jalanNya. Ia bahkan orang yang sederhana sekali. Ia tidak terlalu pintar, namun sangat jenius. Ia tidak terlihat ganteng, namun mulia hatinya. Ada sosok Abu Bakar dalam dirinya. Bukankah diantara Umar, Usman dan Ali, Abu Bakarlah yang menjadi khalifah pertama sepeninggal Rasul? Tanyakan itu pada pribadi masing-masing!”, tegas Zein.

Pengambilan suara telah dipungut. Santri dan santriawati sangat antusias memilih pilhannya. Setelah perhitungan suara selesai, didapati suara terbanyak adalah Majid. Dan secara sah, Majid menjadi ketua OSIS baru Pesantren Khalafiah. Salah satu prokernya pun bersama dengan warga Pesantren, yaitu AMDA (Amaliah Dakwah), kegiatan selama Ramadhan seperti berceramah, bazar, mengajar masyarakat ilmu agama, bakti sosial dan lain-lainnya sukses dilaksanakan di kampong Kidul, tempat tinggal Zein dan Gata.

Belum lama dari pemilihan ketua OSIS, Zein mengungkap perasaannya pada Hatly. Ia tidak bisa membendung rasa yang terpendam dalam hatinya seorang diri. Dan sungguh bahagia, tak disangka, Hatly pun membalas cinta Zein. Marna yang mengetahui info tersebut sangat sakit hati, lantaran temannya sendiri pun menyukai Hatly. Dengan perasaan menyesal Zein sangat terpukul karena Marna sangat kecewa. Saat itu pula persahabatan mereka terhenti sesaat.

***

Pengumuman kenaik kelas tiba dan sujud syukur , Zein naik kelas 2 dengan pertimbangan para ustaz pesantren karena ia diketahui pacaran dengan Hatly. Hampir saja ia tidak naik kelas karena itu. Waktu liburan, ia habiskan di Kampung Kidul. Dan sungguh tak percaya, ayahnya, Pak Ahmad difitnah oleh warga kampung mengambil uang mushalla, padahal uang itu dibobol oleh maling di rumahnya. Dan untuk mengganti uang tersebut, Pak Ahmad terpaksa meninggalkan keluarganya, merantau ke luar negeri. Hal ini membuat Zein membuat keputusan untuk cuti, tidak melanjutkan sekolah semester depan untuk melindungi dan membantu ibu dan adiknya di rumah. Namun keputusan itu berubah, setelah teman pesantrennya Gata, Marna, dan lainnya menjenguk Zein ke rumah lantaran dia sudah beberapa hari ini tidak ke pondok. Zein sangat senang, apalagi Marna menjenguknya, itu menunjukkan bahwa Marna telah memaafkannya dan mereka akrab kembali. Akhirnya Zein pun kembali melajutkan studi pesantrennya.

***

Gata, santri cerdas, tampan, dan banyak dikagumi santriawati di pesantren bersiap menyatakan perasaannya pada Ukhty, perempuan solehah nan alim dan inspirator untuk akhwat-akhwat lainnya di Pesantren. Pernyataan pada Gata pada Ukhty ditolak, justru membuat Ukthy marah besar padanya. Pantang menyerah, untuk kedua kalinya Gata menyatakan perasaannya kembali pada Ukhty, lagi-lagi ditolak

“Maafkan aku, Ta. Aku tidak bisa lagi menerima sebagai pacar maupun teman. Mulai sekarang anggaplag kita tak pernah bertemu. Tak saling kenal. Kita adalah orang asing”, tegas Ukhti

Pernyataan Ukhti benar-benar membuat hati dan pikiran Gata remuk. Ia Depresi karena itu. Gata pergi ke tempat yang jauh membawa uang puluhan juta milik ayahnya, Pak Madi. Tidak ditemukan oleh keluarga dan masyarakat. Semua sedih dan merasa kehilangan, apalagi Ibu Tini dan pak Ahmad selaku orangtuanya. Begitu pun dengan Zein, Pak Ahmad dan sahabt-sahabat Gata. Dicari kesana-kemari tetap tidak ketemu. Ukhti yang mendengar info itu sangat menyesal. Ditemukan beberapa kumpulan puisi yang Gata tulis sebelum pergi.

            Tanyakan semua ini pada Allah

            Untuk cinta-cinta yang pernah aku cintai

            Terimakasih berkat kalian kutemukan cinta hakiki

            Bermunajat padaNya sungguh indah

            Tiada lagi yang akan merasakan sakit, kecewa dan terluka

            Karena tiada satu pun cinta yang tak terbalas olehNya

            Jika berjalan mendekatiNya, ia akan berlari mengejar kita, memeluk kita

            Cinta kepada Sang Pencipta adalah keniscayaan

            Cinta kepada sesame ciptaan adalah obsesi semata

Ya, Gata telah menemukan cinta sejatinya yang hakiki. Beberapa hari kemudian Gata kecelakaan tertabrak kereta dan dokter menyatakan Gata telah meninggal. Innalillahi. Terpukullah semua masyarakat yang mengenal Gata.

KEUNGGULAN BUKU

Buku ini mengandung sebuah cerita yang sangat menarik. Mampu membuat pembaca merasa seperti terhanyut dan terbawa ke dalam cerita didalamnya. Gaya bahasa yang digunakan pada novel ini merupakan gaya bahasa yang baik dan pusitis serta banyak puisi yang ditulis dari tokoh-tokoh, Didalamnya selain menggunakan Bahasa Indonesia yang baik dan benar, juga terdapat Bahasa Jawa dan Arab sehingga memperkaya kata-kata pembaca

Dengan membaca novel ini kita dapat mengetahui arti perjuangan hidup, persahabatan, cita dan cinta yang membelit. Selain itu informasi-informasi tentang Kampung Kidul, tradisi Jawa serta fiqih dan akidah agama sehingga bermanfaat dan menambah pengetahuan pembaca.

Banyak sekali pelajaran yang dapat kita teladani dari novel tersebut seperti keagamaan, moral, cinta pertama yang indah, ketegaran hidup, bahkan makna sebuah takdir yang tidak bisa kita tebak. Selain itu kita dapat mencontoh tokoh-tokoh yang dapat diteladani seperti tokoh-tokoh manusia sederhana, jujur, tulus, gigih, penuh dedikasi, ulet, sabar, tawakal, takwa, dan sebagainya.

Selain itu, buku ini juga sudah dikemas dengan cover yang berwarna,kualitas kertas yang bagus dan tebal,serta dilengkapi dengan gambar yang menarik

KELEMAHAN BUKU

Dalam buku ini terdapat beberapa kata yang menggunakan Bahasa Jawa dan Arab, namun tak menyertakan artinya baik di bagian bawah kertas atau disela-sela penggalan cerita sehingga membuat pembaca non Jawa ataupun Arab tidak mengerti dan harus menerka-nerka sendiri artinya, contoh ‘takhasus’ (Bahasa Arab) dan nderes (Bahasa Jawa)

 

KESIMPULAN

Secara keseluruhan saya menilai novel ini bagus dan menginspiraif bagi pembaca. Buku ini juga sarat hikmah, dakwah, dan rasa persahabatan yang sangat kental. Tuturannya mengalir, menyentuh, mencerahkan, menggelikan, membidik pusat kesadaran, dan jauh dari sifat menggurui. Dan hal yang terpenting yang ada di balik novel ini adalah kita dapat mengambil pelajaran bahwa sesungguhnya cinta sejati yang hakiki adalah cinta kepada Tuhan. Ini menilai bahwa buku ini baik untuk dipublikasikan karena akan menyadarkan kita agar tidak menyalahkan makna cinta sesungguhnya

SARAN

Buku ini cocok dibaca untuk seluruh kalangan masyarakat terutama untuk para pemuda yang mudah dan sering dilanda jatuh cinta akibat pubertas. Buku ini tidak hanya mengajarkan kita dari segi pengetahuan tapi juga segi agama dan moral. Sangat terhibur membaca buku ini. Segera miliki dan baca buku ini

RESENSI BUKU NON FIKSI : EMANSIPASI

IDENTITAS BUKU

Judul Buku                  : Emansipasi

ISBN                           : 978-602-8252-96-6

Penulis                         : R.A. Kartini

Penerjemah                  : Sulastin Sutrisno

Penyelaras Bahasa       : Sistha Pavitrasari

Desain Sampul            : Ong Hari Wahyu

Tata Letak Isi              : Inamul Haqqi

Penerbit                       : Jalasutra

Kota Terbit                  : Yogyakarta

Tahun                          : 2014

Harga                          : Rp 125.000

Jumlah Halaman          : xxviii + 580 halaman

Ukuran Buku              : 15 x 23 cm

Dicetak oleh                : Percetakan Jalasutra

ISI BUKU

Buku Emansipasi adalah terjemahan dari buku Door Duisternis Tot Licht yang merupakan kumpulan surat R.A. Kartini kepada temantemannya terutama orang-orang Belanda. Adapun isi dari surat-surat itu adalah tentang cita-citanya untuk memajukan kaum wanita, harapan-harapanya dan perjalanan hidupnya. Kumpulan surat ini pertama kali diterbitkan oleh Mr. J.H. Abendanon pada tahun 1911.Semua surat ini diterjemahkan dan disusun berurutan menurut tanggalnya di antara surat-surat yang telah ada yang disusun berurutan juga.

Bangsa Jawa dalam subjudulnya yang asli diganti dengan “bangsanya”, karena jika diteliti, walaupun Kartini hampir selalu menyebutkan bangsa “Jawa”, namun yang didambakan itu adalah kemajuan seluruh bangsa Indonesia juga.

R.A. Kartini lahir pada tanggal 21 April 1879. Beliau anak salah seorang bangsawan yang masih sangat taat pada adat istiadat.Ia memiliki dua ibu, garwa padmi R.A. Moerjan (yang adalah istri utama yang mendampingi suaminya di acara-acara resmi), dan garwa ampil M.A. Ngasirah (istri pertama tapi bukan utama dan ibu kandung Kartini), yang adalah istri lain yang dinikahi secara sah. Ayah mereka, yang merupakan bupati Jepara, tidak membedakan antara anak garwa ampil dan garwa padmi. Hanya saja, ia mendiskriminasikan antara anak perempuan dan anak lelaki, sesuai adat zaman itu. Kartini akrab dengan dua adiknya, R.A. Roekmini dan R.A. Kardinah. Mereka sering disebut tiga saudara atau Tiga Serangkai.

Pada usia 12 ½ tahun, Kartini masuk pingitan seperti gadis-gadis seusianya, dikurung dalam kabupaten. Hal itu merupakan tradisi yang tak bisa dibantah. Dalam masa awal pingitan, yang dikatakan Kartini seperti di neraka, tiap malam ia membasahi bantal dan guling di tempat tidurnya dengan air mata.Lama kelamaan Kartini menyadari menangis juga tiada gunanya. Ia mulai mengupas pertanyaan-pertanyaan yang ada di benaknya. Mengapa perempuan harus dipingit dan laki-laki diperbolehkan sekolah? Setelah menyelidiki ia menemukan musuh terbesarnya: poligami. Pada awalnya, selama 4 tahun ia dipingit seorang diri (1892-1896), kemudian ditambah dua tahun lagi, tetapi bersama Roekmini, lalu disusul Kardinah.

Ketiganya dibebaskan lagi pada tahun 1898. Mereka mulai berusaha mewujudkan impian mereka sewaktu di pingitan; mendirikan sekolah untuk wanita. Sekitar tahun 1900 Kartini dan kedua adiknya mendapat izin untuk belajar di Batavia dengan subsidi yang disetujui pemerintah, lewat bantuan keluarga J.H. Abendanon. Tn. Abendanon mengirim surat pada bupati Japara, ayah Kartini, untuk meminta keterangan yang diperlukan. Tetapi balasannya mengejutkan, Bupati Japara menarik kembali izinnya! Balasan itu benar-benar pukulan besar baik bagi Abendanon, sebab usaha kerasnya mengusahakan subsidi sia-sia, maupun Kartini sendiri. Diduga, Kartini sangat sedih sampai tidak sadarkan diri, seperti isi suratnya kala itu.

RA Kartini menuliskan kegelisahan hatinya menyaksikan wanita Jawa yang terkungkung adat sedemikian rupa. Tujuan utama beliau adalah menginginkan hak pendidikan untuk kaum wanita sama dengan laki-laki. Tidak lebih. Ia begitu prihatin dengan budaya adat yang mengungkung kebebasan wanita untuk menuntut ilmu.

Kartini memiliki cita-cita yang luhur pada saat itu yaitu mengubah masyarakat. Khususnya kaum perempuan yang tidak memperoleh hak pendidikan. Juga untuk melepaskan diri dari hukum yang tidak adil dan paham-paham materialisme untuk kemudian beralih ke keadaan ketika kaum perempuan mendapatkan akses untuk mendapatkan hak dan dalam menjalankan kewajibannya. Ini sebagaimana terlihat dalam tulisan Kartini kepada Prof Anton dan Nyonya pada 4 oktober 1902 yang isinya, “Kami di sini memohon diusahakan pengajaran dan pendidikan anak-anak perempuan, bukan sekali-kali, karena kami menginginkan anak-anak perempuan itu menjadi saingan laki-laki dalam perjuangan hidupnya, tapi karena kami yakin akan pengaruhnya yang besar sekali bagi kaum wanita, agar wanita lebih cakap melakukan kewajibannya; menjadi ibu, pendidik manusia yang pertama-tama.”
Menurut Kartini ilmu yang diperoleh para wanita melalui pendidikan ini sebagai bekal mendidik anak-anak kelak agar menjadi generasi berkualitas. Bukankah anak yang dibesarkan dari ibu yang berpendidikan akan sangat berbeda kualitasnya dengan mereka yang dibesarkan secara asal? Inilah yang berusaha diperjuangkan Kartini saat itu.

Dalam buku tersebut Kartini adalah sosok yang berani menentang adat-istiadat yang kuat di lingkungannya. Dia menganggap setiap manusia sederajat sehingga tidak seharusnya adat-istiadat membedakan berdasarkan asal-usul keturunannya. Memang, pada awalnya Kartini begitu mengagungkan kehidupan liberal di Eropa yang tidak dibatasi tradisi sebagaimana di Jawa. Namun, setelah sedikit mengenal Islam. Pemikiran Kartini pun berubah, yakni ingin menjadikan Islam sebagai landasan dalam pemikirannya. Kita dapat menyimak pada komentar kartini ketika bertanya pada gurunya, Kyai Sholeh bin Umar, seorang ulama besar dari Darat Semarang, sebagai berikut:
“Kyai, selama kehidupanku baru kali inilah aku sempat mengerti makna dan arti surat pertama dan induk Al Quran yang isinya begitu indah menggetarkan sanubariku. Maka bukan bualan rasa syukur hatiku kepada Allah. Namun, aku heran tak habis-habisnya, mengapa para ulama saat ini melarang keras penerjemahan dan penafsiran Al Quran dalam Bahasa Jawa? Bukankah Al Quran itu justru kitab pimpinan hidup bahagia dan sejahtera bagi manusia?”.

Demikian juga dalam surat Kartini kepada Ny Van Kol, 21 Juli 1902 yang isinya memuat, “Moga-moga kami mendapat rahmat, dapat bekerja membuat umat agama lain memandang agama Islam patut disukai.”

Selain itu Kartini mengkritik peradaban masyarakat Eropa dan menyebutnya sebagai kehidupan yang tidak layak disebut sebagai peradaban. Bahkan ia sangat membenci Barat. Hal ini diindikasikan dari surat Kartini kepada Abendanon, 27 Oktober 1902 yang isinya berbunyi, “Sudah lewat masamu, tadinya kami mengira bahwa masyarakat Eropa itu benar-benar satu-satunya yang paling baik, tiada taranya. Maafkan kami, apakah Ibu sendiri menganggap masyarakat Eropa itu sempurna? Dapatkah Ibu menyangkal bahwa di balik sesuatu yang indah dalam masyarakat ibu terdapat banyak hal-hal yang sama sekali tidak patut disebut peradaban?”

Saat menerima beasiswa ke Batavia, ia dinikahkan oleh Raden Adipati Joyodiningrat. Kartini tidak menyangka, ternyata dalam pernikahannya, ia menghadapi musuh terbesarnya sejak pingitan: poligami. Bupati Djojoadiningrat sudah memiliki tiga garwa ampil. Meski begitu, Kartini menjalankan pernikahannya tanpa mengeluh. Ia merawat tiap anak-anak tirinya dengan ikhlas.

Kartini sempat sakit saat mengandung anaknya. Anaknya lahir tanggal 13 September 1904, dinamai R.M. Singgih, kemudian diganti menjadi R.M. Soesalit. Kemudian 4 hari setelah melahirkan anaknya, tepatnya tanggal 17 September 1904, ia meninggal. Setahun setelah perginya Kartini, ayahnya Bupati Sosroningrat, pada tanggal 21 Januari 1905 menyusul putri tersayangnya ke alam baka.

Kabar meninggalnya Kartini didengar keluarga Abendanon sebelum mereka pindah kembali ke Belanda. Abendanon, yang berhasil menghalang-halangi Kartini belajar ke Belanda, merasa bersalah telah merebut impian terbesar Kartini. Untuk menebus kesalahannya, ia akan berusaha mewujudkan cita-cita Kartini dengan mendirikan sekolah-sekolah untuk para gadis Jawa dan sebagai penghormatan tinggi kepada Kartini, ia akan menerbitkan surat-surat Kartini sebagai buku. Maka demikian terbitlah buku Door Duisternis Tot Licht (Melalui Alam Gelap menuju Dunia Terang).

Di tahun-tahun terakhir sebelum wafat ia menemukan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang bergolak di dalam pemikirannya. Ia mencoba mendalami ajaran yang dianutnya, yaitu Islam. Pada saat Kartini mempelajari Islam dalam arti yang sesungguhnya dan mengkaji isi Al Quran melalui terjemahan bahasa Jawa, Kartini terinspirasi dengan firman Allah SWT (yang artinya), ” … mengeluarkan mereka dari kegelapan (kekafiran) kepada cahaya (iman) (QS Al Baqarah [2]: 257),” yang diistilahkan Armyn Pane dalam tulisannya dengan, “Habis Gelap Terbitlah Terang”.

Demikianlah, Kartini adalah sosok yang mengajak setiap perempuan memegang teguh ajaran agamanya dan meninggalkan ide kebebasan yang menjauhkan perempuan dari fitrahnya. Beberapa surat Kartini di atas setidaknya menunjukan bahwa Kartini berjuang dalam kerangka mengubah keadaan perempuan pada saat itu agar dapat mendapatkan haknya. Di antaranya menuntut pendidikan dan pengajaran untuk kaum perempuan yang juga merupakan kewajibannya dalam Islam.

KEUNGGULAN BUKU

Buku Emansipasi turut membawa pembaca larut dalam imajinasi dan merasakan di kehidupan Kartini. Semua surat diterjemahkan lengkap. Meskipun buku ini novel terjemahan, bagi pembaca penggunaan Bahasa Indonesia dalam novel ini sudah baik dan benar. Di samping surat-surat Kartini, dalam terjemahan ini disertakan lampiran-lampiran untuk menambah pengertian yang lebih jelas mengenai beberapa peristiwa dalam surat-surat itu sehingga pembaca paham dan dapat mengikuti perjalanan Kartini.

Buku ini sudah dikemas dengan cover yang berwarna, kualitas kertas yang bagus dan tebal,serta dilengkapi dengan gambar atau foto-foto kartini dan kondisi saat itu sehingga kita bisa berimajinasi lebih dalam dan itu menjadi ketertarikan sendiri untuk mmebuka buku ini.

Buku ini tentu menambah wawasan pembaca, serta menemukan hikmah dibalik jalan kehidupannya Kartini. Sehingga bisa menjadi dasar kita dalam bertindak kedepannya

KELEMAHAN BUKU

Di beberapa surat terdapat bagian-bagian yang sama, karena surat-surat itu ditujukan kepada beberapa orang. Lalu, ukuran buku yang besar dan berat membuat pembaca agak sulit membawa dan membacanya sesuka hati, dimanapun dan kapanpun. Dan harga yang cukup mahal mungkin salah satu alasan untuk bisa membeli buku emansipasi

KESIMPULAN

Kumpulan surat Kartini merupakan dokumentasi penting bagi bangsa Indonesia pada umumnya, kaum perempuan pada khususnya. Kegigihan Kartini dalam memperjuangkan hak wanita dalam pendidikan sangat menginspirasi pembaca. Jadi banyak hikmah serta keteladanan dalam diri Kartini.

Perjuangan memang belum berakhir, di era globalisasi ini masih banyak dirasakan penindasan dan perlakuan tidak adil terhadap perempuan. Jadi, sebagai generasi bangsa marilah kita teruskan perjuangan RA Kartini dengan cara belajar yang tekun dan selalu budayakan literasi membaca, menulis dan berdiskusi. Dengan demikian lebih mudahlah dapat diikuti apa yang dengan gigih diperjuangkan atau ingin dilaksanakan Kartini.

SARAN

Kartini bukan hanya seorang pejuang emansipasi wanita. Ia juga seorang yang memiliki jiwa nasionalisme, rendah hati, dan keadilan. Sebab itu buku ini sangat disarankan untuk dibaca kaum muda, agar mengetahui bagian hidup R.A. Kartini yang belum didengar. Sebab menurut penulisnya sendiri, biasanya cerita tentang pahlawan emansipasi ini sudah melenceng dari aslinya.

Dan untuk kamu yang tidak memiliki uang untuk membeli buku ini, maka sempatkalah untuk menabung sedikit demi sedikit. Atau dengan cara yang murah meriah adalah, kunjungi perpustakaan daerah mu, dan pinjam buku Emansipasi untu dibaca.

#MembacaMembangunJakarta