Biografi KH. Hasyim AS’ari

  1. A.     Biografi

hasyim asyari

KH Mohammad Hasyim Asy’ari, atau biasa disebut KH Hasyim Ashari beliau dilahirkan pada tanggal 10 April 1875 atau menurut penanggalan arab pada tanggal 24 Dzulqaidah 1287H di Desa Gedang, Kecamatan Diwek, Kabupaten Jombang, Jawa Timur dan beliau kemudian tutup usia pada tanggal 25 Juli 1947 yang kemudian dikebumikan di Tebu Ireng, Jombang. KH Hasyim Asy’ari merupakan pendiri Nahdlatul Ulama yaitu sebuah organisasi massa Islam yang terbesar di Indonesia. KH Hasyim Asyari merupakan putra dari pasangan Kyai Asyari dan Halimah, Ayahnya Kyai Ashari merupakan seorang pemimpin Pesantren Keras yang berada di sebelah selatan Jombang. KH Hasyim Ashari merupakan anak ketiga dari 11 bersaudara. Dari garis keturunan ibunya, KH Hasyim Ashari merupakan keturunan kedelapan dari Jaka Tingkir (Sultan Pajang). dari Ayah dan Ibunya KH Hasyim Ashari mendapat pendidikan dan nilai-nilai dasar Islam yang kokoh.

KH Hasyim Asyari belajar dasar-dasar agama dari ayah dan kakeknya. Sejak anak-anak, bakat kepemimpinan dan kecerdasan KH Hasyim Ashari memang sudah nampak. Di antara teman sepermainannya, ia kerap tampil sebagai pemimpin. Dalam usia 13 tahun, ia sudah membantu ayahnya mengajar santri-santri yang lebih besar ketimbang dirinya.. Sejak usia 15 tahun, beliau berkelana menimba ilmu di berbagai pesantren, antara lain Pesantren Wonokoyo di Probolinggo, Pesantren Langitan di Tuban, Pesantren Trenggilis di Semarang, Pesantren Kademangan di Bangkalan dan Pesantren Siwalan di Sidoarjo. Tak lama di sini, Hasyim pindah lagi di Pesantren Siwalan, Sidoarjo. Di pesantren yang diasuh Kyai Ya’qub inilah, agaknya, Hasyim merasa benar-benar menemukan sumber Islam yang diinginkan. Kyai Ya’qub dikenal sebagai ulama yang berpandangan luas dan alim dalam ilmu agama. Cukup lama –lima tahun– Hasyim menyerap ilmu di Pesantren Siwalan. Dan rupanya Kyai Ya’qub sendiri kesengsem berat kepada pemuda yang cerdas dan alim itu. Maka, Hasyim bukan saja mendapat ilmu, melainkan juga istri. Ia, yang baru berumur 21 tahun, dinikahkan dengan Chadidjah, salah satu puteri Kyai Ya’qub. Tidak lama setelah menikah, Hasyim bersama istrinya berangkat ke Mekkah guna menunaikan ibadah haji. Tujuh bulan di sana, Hasyim kembali ke tanah air, sesudah istri dan anaknya meninggal. Tahun 1893, ia berangkat lagi ke Tanah Suci. Sejak itulah ia menetap di Mekkah selama 7 tahun dan berguru pada Syaikh Ahmad Khatib Minangkabau, Syaikh Mahfudh At Tarmisi, Syaikh Ahmad Amin Al Aththar, Syaikh Ibrahim Arab, Syaikh Said Yamani, Syaikh Rahmaullah, Syaikh Sholeh Bafadlal, Sayyid Abbas Maliki, Sayyid Alwi bin Ahmad As Saqqaf, dan Sayyid Husein Al Habsyi.

Tahun l899 pulang ke Tanah Air, Hasyim mengajar di pesanten milik kakeknya, Kyai Usman. Tak lama kemudian ia mendirikan Pesantren Tebuireng. Kyai Hasyim bukan saja Kyai ternama, melainkan juga seorang petani dan pedagang yang sukses. Tahun 1899, Kyai Hasyim Asy’ari membeli sebidang tanah dari seorang dalang di Dukuh Tebuireng. Di sana beliau membangun sebuah bangunan yang terbuat dari bambu (Jawa: tratak) sebagai tempat tinggal. Dari tratak kecil inilah embrio Pesantren Tebuireng dimulai. Kyai Hasyim mengajar dan salat berjamaah di tratak bagian depan, sedangkan tratak bagian belakang dijadikan tempat tinggal. Saat itu santrinya berjumlah 8 orang, dan tiga bulan kemudian meningkat menjadi 28 orang. Kiai Hasyim Asy’ari mendirikan pesantren di Tebuireng yang kelak menjadi pesantren terbesar dan terpenting di Jawa pada abad 20. Sejak tahun 1900, Kiai Hasyim Asy’ari memosisikan Pesantren Tebuireng, menjadi pusat pembaruan bagi pengajaran Islam tradisional.

Dalam pesantren itu bukan hanya ilmu agama yang diajarkan, tetapi juga pengetahuan umum. Para santri belajar membaca huruf latin, menulis dan membaca buku-buku yang berisi pengetahuan umum, berorganisasi, dan berpidato. Cara yang dilakukannya itu mendapat reaksi masyarakat sebab dianggap bidat. Ia dikecam, tetapi tidak mundur dari pendiriannya. Baginya, mengajarkan agama berarti memperbaiki manusia. Mendidik para santri dan menyiapkan mereka untuk terjun ke masyarakat, adalah salah satu tujuan utama perjuangan Kiai Hasyim Asy’ari. Meski mendapat kecaman, pesantren Tebuireng menjadi masyur ketika para santri angkatan pertamanya berhasil mengembangkan pesantren di berbagai daerah dan juga menjadi besar.

Setelah dua tahun membangun Tebuireng, Kyai Hasyim kembali harus kehilangan istri tercintanya, Nyai Khodijah. Saat itu perjuangan mereka sudah menampakkan hasil yang menggembirakan. Kyai Hasyim kemudian menikah kembali dengan Nyai Nafiqoh, putri Kyai Ilyas, pengasuh Pesantren Sewulan Madiun. Dari pernikahan ini Kyai Hasyim dikaruniai 10 anak, yaitu: (1) Hannah, (2) Khoiriyah, (3) Aisyah, (4) Azzah, (5) Abdul Wahid, (6) Abdul Hakim (Abdul Kholik), (7) Abdul Karim, (8) Ubaidillah, (9) Mashuroh, (10) Muhammad Yusuf. Pada akhir dekade 1920an, Nyai Nafiqoh wafat sehingga Kyai Hasyim menikah kembali dengan Nyai Masruroh, putri Kyai Hasan, pengasuh Pondok Pesantren Kapurejo, Pagu, Kediri. Dari pernikahan ini, Kyai Hasyim dikarunia 4 orang putra-putri, yaitu: (1) Abdul Qodir, (2) Fatimah, (3) Khotijah, (4) Muhammad Ya’kub. Keberadaan pesantren Tebuireng yang didirikan Hasyim sangat banyak melahirkan ulama-ulama besar yang kemudian juga mendirikan pesantren di tempat lain

Karena pengaruhnya yang demikian kuat itu, keberadaan Kyai Hasyim menjadi perhatian serius penjajah. Baik Belanda maupun Jepang berusaha untuk merangkulnya. Kyai Hasyim sempat mencicipi penjara 3 bulan pada l942. Tidak jelas alasan Jepang menangkap Kyai Hasyim.

Resolusi Jihad ditandatangani di kantor NU Bubutan, Surabaya. Akibatnya, meletuslah perang rakyat semesta dalam pertempuran 10 November 1945 yang bersejarah itu. Umat Islam yang mendengar Resolusi Jihad itu keluar dari kampung-kampung dengan membawa senjata apa adanya untuk melawan pasukan gabungan NICA dan Inggris. Peristiwa 10 Nopember kemudian diperingati sebagai Hari Pahlawan Nasional. Pada tanggal 7 Nopember 1945—tiga hari sebelum meletusnya perang 10 Nopember 1945 di Surabaya—umat Islam membentuk partai politik bernama Majelis Syuro Muslim Indonesia (Masyumi). Pembentukan Masyumi merupakan salah satu langkah konsolidasi umat Islam dari berbagai faham. Kyai Hasyim diangkat sebagai Ro’is ‘Am (Ketua Umum) pertama periode tahun 1945-1947. Selama masa perjuangan mengusir penjajah, Kyai Hasyim dikenal sebagai penganjur, penasehat, sekaligus jenderal dalam gerakan laskar-laskar perjuangan seperti GPII, Hizbullah, Sabilillah, dan gerakan Mujahidin. Bahkan Jenderal Soedirman dan Bung Tomo senantiasa meminta petunjuk kepada Kyai Hasyim.

Berdirinya Nahdlatul Ulama

Tanggal 31 Januari 1926, bersama dengan tokoh-tokoh Islam tradisional, Kiai Hasyim Asy’ari mendirikan Nahdlatul Ulama, yang berarti kebangkitan ulama. Organisasi ini pun berkembang dan banyak anggotanya. Pengaruh Kiai Hasyim Asy’ari pun semakin besar dengan mendirikan organisasi NU, bersama teman-temannya. Itu dibuktikan dengan dukungan dari ulama di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Bahkan, para ulama di berbagai daerah sangat menyegani kewibawaan Kiai Hasyim . Kini, NU pun berkembang makin pesat.

Organisasi ini telah menjadi penyalur bagi pengembangan Islam ke desa-desa maupun perkotaan di Jawa. Meski sudah menjadi tokoh penting dalam NU, ia tetap bersikap toleran terhadap aliran lain. Yang paling dibencinya ialah perpecahan di kalangan umat Islam. Pemerintah Belanda bersedia mengangkatnya menjadi pegawai negeri dengan gaji yang cukup besar asalkan mau bekerja sama, tetapi ditolaknya. Dengan alasan yang tidak diketahui, pada masa awal pendudukan Jepang, Hasyim Asy’ari ditangkap. Berkat bantuan anaknya, K.H. Wahid Hasyim , beberapa bulan kemudian ia dibebaskan dan sesudah itu diangkat menjadi Kepala Urusan Agama. Jabatan itu diterimanya karena terpaksa, tetapi ia tetap mengasuh pesantrennya di Tebuireng. Sesudah Indonesia merdeka, melalui pidato-pidatonya Kiai Hasyim Asy’ari membakar semangat para pemuda supaya mereka berani berkorban untuk mempertahankan kemerdekaan. Ia meninggal dunia pada tanggal 25 Juli 1947 karena pendarahan otak dan dimakamkan di Tebuireng.

B.     Konsep  dan Kontribusi Pendidikan  K.H. Hasyim Asy’ari

Dalam pemikiran pendidikan K.H. Hasyim Asy’ari lebih focus kepada persoalan-persoalan etika dalam mencari dan menyebarkan ilmu. Beliau berpendapat bahwa bagi seorang yang akan mencari ilmu pengetahuan atau menyebarkan ilmu pengetahuan, yang pertama harus ada pada diri mereka adalah semata-mata untuk mencari ridho Allah swt. ( Kholid Mawardi ; 2008 ; 2)

1.      Urgensi pendidikan

Urgensi pendidikan terletak bagaimana memberi kontribusi pada masyarakat yang berbudaya dan beretika jadi tujuan mempelajari ilmu adalah untuk diamalkan. Pola pemaparan konsep pendidikan K.H. Hasyim Asy’ari dalam kitab Adab Alim Wa Muta’allim mengikuti logika induktif, di mana beliau mengwali penjelasannya langsung dengan mengutip ayat-ayat al-qur’an. Hadits, pendapat para ulama, syair-syair yang mengadung hikamah.dengan cara ini. K.H. Hasyim Asy’ari memberi pembaca agar menangkap ma’na tanpa harus dijelaskan dengan bahasa beliau sendiri. Namun demikaian, ide-ide pemikirannya dapat dilihat dari bagaimana beliau memaparkan isi kitab karangan beliau.(Sarwo Imam Taufiq; 2008; 22). K.H. Hasyim Asy’ari memaparkan tingginya penuntut ilmu dan ulama dengan mengenengahkan ayat Al-qur’an yang berbunyi:

Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.(al-mujdalah; 11)

Di tempat lain, K.H. Hasyim Asy’ari menggabungkan surah Al bayyinah yang berbunyi:

7. Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh, mereka itu adalah Sebaik-baik makhluk.

8. Balasan mereka di sisi Tuhan mereka ialah syurga ‘Adn yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah ridha terhadap mereka dan merekapun ridha kepadanya. yang demikian itu adalah (balasan) bagi orang yang takut kepada Tuhannya. (Al-bayyinah ; 7-8)

Premis dari ayat pertama menyatakan ulama adalah hamba yang takut kepada Allah SWT sedangkan pada ayat kedua menyatakan bahwa takut kepad Allah SWT adalah makluk yang terbaik. Kedua premis ini dapat dikongklusikan menjadi ulama merupakan makluk terbaik disisi Allah SWT.

2.      Tujuan pendidikan K.H. Hasyim Asy’ari

Tujuan pendidikan yang ideal menurut K.H. Hasyim Asy’ari adalah untuk membentuk masyarakat yang beretika tinggi (akhlaqul karimah). rumusan ini secara implisit dapat terbaca dari beberapa hadits dan pendapat ulama yang dikutipnya. Beliau menyetir  sebuah hadits yang berbunyi: “diriwayatkan  dari Aisyah r.a. dari Rasulullah SAW bersabda : kewajiban orang tua terhadapnya adalah membaguskan namanya, membaguskan ibu susuannya dan membaguskan etikanya”.(Sarwo Imam Taufiq; 2008; 26)

3.      Konsep dasar belajar

Kiai asyim tidak merumuskan definisi belajar secara kongkret dalam karyanya Adab ‘Alim Wa Al-Muta’allim. Untuk mendapatkan rumusan yang jelas tentang konsep belajar beliau, mau tidak mau harus menarik pengertian dari keseluruhan isi kitab, baru kemudian dicoba dirumuskan definisi tersebut. (Sarwo Imam Taufiq; 2008; 33)

Konsep dasar belajar menurut K.H. Hasyim Asya’ri sesungguhnya dapat ditelusuri melalui penjelasannya tentang etika seorang murid yang sedang belajar, etika seorang murid terhadap pelajarannya, dan etika seorang murid terhadap sumber belajar (kitab, buku). Dari tiga konsep etika tersebut dapat ditemukan gambaran yang cukup terang bagaiman konsep dan prinsip-prinsip belajar menurut beliau.

Kiai hasyim mengiventarisir terdapat sepuluh macam etika yang harus dicamkan seorang siswa dalam belajar, Berdasarkan kutipan Sarwo imam taufiq; 2008; 28) dari Kitab Adab A’lim Wa Muta’allim karangan K.H. Hasyim Asy’ari bahwa yaitu : (1) membersihkan hati dari berbagai sifat yang mengotori, seperti : iri, dengki, dendam serta akhlak dan akidah yang rusak.(2) meniatkan mencari ilmu semata-mata karena Allah SWT , untuk mengamalkannya, menghidupkan syari’atnya dan menyinari hatinya. (3) menyegerakan menuntut ilmu selagi kesempatan memungkinkan.(4) bersifat menerima terhadap pemberian tuhan. (5) membagi waktu dengan sebaik-baiknya. (6) menyedikitkan makan dan minum, karena kebanyakan makan menyebabkan kemalasan. (7) wara’ (8) menghindari makan yang dapat menimbulakan kemalasan dan mengurangi kecerdasan. (9) mengurangi tidur selama tidak membahayakan kesehatan. (10) menghindarai pergaulanyang tidak bermanfaat, terlebih lagi terhadap lawan jenis.

Konsep kedua: etika seorang murid ketika sedang belajar, K.H. Hasyim menginventariskannya  menjadi tiga belas macam, yaitu: (1) mendahulukan mempelajari ilmu yang bersifat fardhu ‘ain. (2) memahami tafsir serta seluk beluknya.(3) berhati-hati dalam menyikapi persoalan yang masih menjadi perdebatan para ulama. (4) mendiskusikan atau mengkonsultasikan hasil belajar kepada orang yang dipercayainya. (5)segera menyimak suatu ilmu, terutama hadist. (6) mempunyai motivasi yang tinggi untuk selalu menelalah ilmu dan tidak menunda-nundanya. (7) dekat dengan orang alim serta bersama-sama mengkajinya.(8) mengucapkan salam ketika memasuki suatu majelis ta’lim. (9) aktif bertanya (10) sportif dalam bertanya ketika banyak yang bertanya (11) hendaknya membacakan kitab dihadapan syekh atau guru, ketika snag guru sedang tidak sibuk. (12) memantapkan pemahaman (13) senang terhadap ilmu.

Konsep ketiga : etika seoarng murid terhadap sumber belajar (buku, kitab), kiai hasyim mengiventariskan menjadi lima macam etika, yaitu: (1) hendaknya murid memiliki buku yang diperlukan. (2) dianjurkan untuk meminjam buku kepada orang lain (saling percaya). (3) meletak buku pada tempatnya. (4) jika mau meminjam atau membeli, hendaklah teliti. (5) suci dari hadas ketika menela’ah buku

4.      Konsep dasar mengajar.

Konsep mengajar  K.H.  Hasyim Asy’ari dapat ditelusuri melalui penjelasannya tentang konsep etika yang harus dicamkan oleh seorang guru yang berkaitan dengan dirinya dan etika seorang guru terhadap pelajarannya. K.H. Hasyim Asy’ari mengiventarisir terhadap 20 etika yang harus dicamkan seorang yang berkaitan dengan dirinya. Berdasarkan kutipan Sarwo Imam Taufiq; 2008; 32-33) dari Kitab Adab A’lim Wa Muta’allim  karangan K.H. Hasyim Asy’ari .  Dua puluh macam etika itu adalah: 1. Selalu mendekatkan diri kepada Allah SWT baik sendiri maupun bersama, 2. Selalu takut kepada Allah SWT dalam setiap gerak, 3. Bersikap tenang, 4. Wara’, 5. Tawadhu’, 6. Khusu’ dihadapan Allah SWT, 7. Mengadukan segala persoalan untuk meraih kesenagna duniawi, seperti kedudukan, kekayaan, keterkenalan keapada Allah SWT, 8. Tidak menjadikan ilmu sebagai tangga, 9. Tidak terlalu mengagungkan keduniaan, 10. Berlaku zuhud terhadap kedunian, 11. Menjauhi pekerjaan-pekerjaan hina, baik secara syar’I maupun adat yang berlaku, 12. Menjauhi perbuatan yang dapat merendahka martabat, sekalipun secara batin dapat dibenarkan, 13. Senantiasa menegakkan syari’at islam,menebarkan salam, dan amar ma’ruf nahi mungkar,14. Menghidupkan sunah, 15. Menjaga hal-hal yang di anjurkan dalam agama, membaca Al-qur;an baik dengan hati maupun lisan, 16. Berinteraksi social dengan etika yang luhur, 17. Membersihkan batin dan lahir dari etika-etika yang rendah dan mengisi dengan akhlak-akhlak yang luhur, 18. Senantiasa memperdalam ilmu dan mengamlakannya dengan sungguh-sungguh, 19. Rajin memperdalam kajian keilmuan, 20. Menyibukkan diri dengan membuat tulisan ilmiah dengan sesuai dengan bidangnya.

Konsep kedua adalah etika guru ketika hendak sedang mengajar. K.H. Hasyim Asya’ri menawarkan etika-etika itu antara lain, 1.bersih dari hadas kecil dan besar ketika memasuki ruangan prmbelajaran, 2. membaca doa ketiak hendak keluar rumahak,3. Ketika sampai di masjid memberikan salam kepada yang hadir dan duduk menghadap kiblat, jika memungkinkan dengan teang, tawadhu; dan khusu’ dan tidak mengeluarkan gerakan-gerakan yang tidak perlu, tidak mengejar ketika sedang lapar,haus,sangat sedih,marah, atau sedang kantuk,4. Duduk di tengah para hadirin dengan hormat,  kata yang menyenangkan atau menunjukkan rasa senang dan tidak sombong, 5. Melalui pelajaran dengan membaca sebagian ayat Al-qur’an untuk meminta berkah dari-nya, membaca ta’awudz, basmalah,puji-pujian dan shalawat atas nabi, 6. Mendahulukan pengajaran materi-,ateri yang menjadi prioritas, tidakmemperlama atau memperpendek dalam mengajar, tidak berbicara di luar materi yang sedang dibicarakan,7.Tidak meninggikan suara diluar yang dibutuhkan,8. Menjaga ruangan belajar agar tidak gaduh, 9. Mengingat para hadirin akan tujuan mereka dating ke tempat itu semata-mata ikhlas kareana allah, 10. Menegur murid yang tidak mengindahkan etika-etika ketika sedang belajar  , seperti bervicara dengan teman, tidur dan tertawa, 11. Berkata jujur akan ketidaktahuannya ketika ditanya akan suatu persoalan dan ia betuk-betul belum tahu, sehingga tidak muncul jawabab yang menyesatkan, 12. Memberi kesempatan kepada peserta didik yang datang terlamabat dan mengulangi penjelasan agar tahu yang dimaksud, 13. Menutup pelajaran dengan do’a penutup majlis.

5.      Relasi pendidik dan peserta didik

Untuk memahami konsep relasi pendidik dan peserta didik dari  K.H. Hasyim Asy’ari, terlebih dahuli perlu dipaparkan bagaimana konsep beliau tentang etika seorang murid terhadap guru dan etika guru tethadap muridnya. Dari dua konsep etika itu, dapat dipahami bagiamana relasi antara keduanya terjalin.

Kiai hasyim mengiventarisir terhadap dua belas macam etika yang harus dipedomani seorang siswa ketika berhadapan dengan guru, yaitu: (1) hendaknya menjadi pedoman seorang murid agar meneliti dahulu dengan meminta petunjuk kepada Allah SWT siapa guru yang akan mendidknya dengan mempertimbangkan akhlak dan etikanya.

Gurunya yang baik adalah cakap dan professional, kasih sayang, berwibawa, menjaga diri dari hal-hal yang dapat merendahkan martabat, berkarya, pandai mengajar, dan berwawasan luas, (2) memilah guru yang betul-betul mampu dan diakui kapasitas keilmuannya,(3) menurut dan tidak membentak guru seperti halnya orang sakit yang harus menurut kepada dokter yang ahli, (4)menghormati guru dan berkeyakinan bahwa seorang guru memiliki derajat kesempurnaan,(5) mengetahui kewajiban yang harus ditunaikan pada gurunya dan mendo’akan semasa hidup dan wafatbnya. (6) bersabar terhadap kekerasan guru atau keburukan akhlaknya serasa tetap menggauli dan tetap berkeyakinan bahwa sang guru masih memiliki derajat kesempurnaan, (7) tidak menghadap guru kecuali jika diijinkan, (8) duduk di depan guru dengan sopan, (9) bertutur kata yang bagus, (10) tidak sok tahu, meskipun apa yang disampaikan guru itu sudah tahu, (11) tidak mendahului guru menjelaskan suatu persoalan atau menjawab pertanyaan dan memotong pembicaraan guru ketika sedang menjelaskan, (12) menerima atau member sesuatu kepada guru dengan tangan kanan.

Sedangkan etika seorang guru terhadap muridnya, kiai hasyim mengivintarisir terhadap empat belas macam, yaitu: (1) meniatkan mengajar semata-mata karena allah, untuk menyebarkan ilmu dan menghidupkan syari’at islam, (2) menghindari ketidak ikhlasan dan mengejar keduniaan, (3) mencintai murid-murinya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri, (4) mengajar dengan metode yang mudah dipahami para muridnya, (5) menjelaskan materi pelajaran dengan sejelas-jelasnya, kalau perlu diulang sampai murid betul-betul paham, (6) tidak membebani murid di luar kemampuannya yang dapat menyebabkan dia merasa tertekan, (7) sesekali meminta murid untuk mengulangi hafalan atau pelajaran yang telah lalu, (8) tidak bersikap pilih kasih, meskipun terhadap murid yang memilki kelebihan sekalipun. Guru cukup memberikan respek kepada murid yang memiliki kelebihan tanpa mengistimewakannya di antara murid yang lainnya, (9) selalu memperhatikan adsensi presentasi murid, mengetahui nama-namanya, dan lain-lain, (10) hendaknya guru memililki perangai yang baik. Seperti selalu menebarkan salam. Bertutur kata yang lembut dan santun, (11) membantu siswa mengatasi kesulitan, baik dengan pengaruh maupun dengan hartanya, (12) jika terdapat siswa yang absen, atau justru jumlahnya bertambah dari kebiasaan, maka hendaknya diklasifikasikan keberadaan dan keadaanya, (13) mempunyai sikap tawadhu’ tehadap muridnya, dan (14) berbicara kepada muruidnya yang memiliki kelebihan, memanggil mereka dengan sebutan yang baik, menunjukkan sikap yang ramah ketika bertemu dengan muridnya, menghormati ketika seorang murid duduk bersamanya, dan menjawab pertanyaan dengan senang hati dan memuaskan

Kedua belas macam etika tersebut kalau ditelaah lebih dalam, sesungguhnya dapat diserhanakan menjadi tiga hal. Pertama, seorang murid harus mencari dan memiih guru  yang betul-betul memilih kualifikasi sebagai seorang guru. Kedua, hendaknya mempunyai keyakinan bahwa seorang guru memiliki derajat kesempurnaan dan tidak pernah luntur sekalipun meski diketahui guru tersebut memiliki perangai (akhlak) yang kurang baik. Ketiga, hendaknya seorang murid selalu menghormati guru dalam situasi yang bagiamanapun. Suatu penghormatan semata-mata dilakukan karena ilmu yang dimilki guru tersebut.

Dua rumusan di ats dikutip secara agak lengkap dengan maksud untuk mendapatkan gambaran yang jelas bagaimana relasi pendidik dan peserta didik terjalin dengan baik. Dan dari rumusan di ats juga tergambarkan bahawa hubungan pendidik dan peserta didik dibangun atas dasar penghormatan yang besar dari murid dan cinta kasih yang tulus dari seorang guru. Sehingga hubungan diantara kedunya bagaikan hubungan seorang bapak kandung dan anaknya. Di samping menaruh perhatian besar pada hubungan guru dan murid, pembelajaran harus dilaksanakan secara professional, K.H. Hasyim Asy’ari tampak juga menekankan pada pentingnya pembimbingan terhadap anak didik. Sehingga guru adalah sosok pengajar yang profesioanal dan pembimbing bagi siswa dalam menghadapi persoalan-persoalan.

Berdasarkan dari skipsi ilmiah musarmadan bahwa ada sekitar sepuluh karangan beliau semasa masih hidup adalah :

1.      Adab ’Alim wa Muta’allim, yaitu kitab yang membahsa tentang tata cara belajar dari tinjauan akhlak

2.      Ziyadah at-Ta’uqat, yaitu kitab yang menjawab terhadap syair syekh Abdullah bin yasin , pasuruan yang menghina NU

3.      At-tanbihat al-Wajibat Liman Yansa al-Maulid bil Munkarat, yaitu  kitab tentang peringatan-peringatan bagi orang yang berbuat kemungkaran pada acara maulud

4.      Risalah al-Jama’ah, yaitu kitab tentang  keadaan orang mati, tanda-tanda kiamat dan penjelasan tentang suanh dan bid’ah

5.      An-nur al-Mubin  fil Mahabbah Sayyid al-Mursalin, yaitu  kiatab tentang mencintai rasullah saw serta mengikuti suanah beliau.

6.      Hasyi’ah ala Fathi Rohman bi Syarh Risalah al Wali li  Syekh Zakariya al-Ansori, yaitu kitab syarah dari karang Syekh Zakariya al-Ansori

7.      Ad-duror al-Munqotirah fi Masail Tis’a Asyaro, yaitu kitab tentang uraian tariqat, wilayah dan hal-hal yang berhubungan masalah pokok pengikut tereqat

8.      At-tobyan fi Nahy al-Muqatiati al Arkam wa az-Zarib wal Ikhwan, yaitu kitabtentang pentingnya menyambung persaudaran dan bahaya memutuskan persaudaraan

9.      Ar-risalah at-Tauhidiyah, yaitu kitab tentang tauhid

10.  Al-qalail fi Bayani Ma Wajibu min al Aqoid, yaitu kitab tentang kewajiban-kewajiban yang harus dikerjakan dalam akidah

C. Latar Belakang Pendidikan dan Aliran Pendidikan yang Dimiliki KH. Hasyim Asy’ari

Aliran konvergensi berasal dari kata konvergen, artinya bersifat menuju satu titik pertemuan. Aliran ini berpandangan bahwa perkembangan individu itu baik dasar (bakat, keturunan) maupun lingkungan, kedua-duanya memainkan peranan penting. Bakat sebagai kemungkinan atau disposisi telah ada pada masing-masing individu, yang kemudian karena pengaruh lingkungan yang sesuai dengan kebutuhan untuk perkembangannya, maka kemungkinan itu lalu menjadi kenyataan. Akan tetapi bakat saja tanpa pengaruh lingkungan yang sesuai dengan kebutuhan perkembangan tersebut, tidak cukup, misalnya tiap anak manusia yang normal mempunyai bakal untuk berdiri di atas kedua kakinya, akan tetapi bakat sebagai kemungkinan ini tidak akan menjadi menjadi kenyataan, jika anak tersebut tidak hidup dalam lingkungan masyarakat manusia.

Aliran Konvergensi dipelopori oleh Wlliam Stern, ia berpedapat bahwa seorang anak dilahirkan di dumia sudah disertai pembawaan baik maupun pembawaan buruk.  Bakat yang dibawa anak sejak kelahirannya tidak berkembang dengan baik tanpa adanya dukungan lingkungan yang sesuai untuk perkembangan bakat itu. Jadi seorang anak yang memiliki otak yang cerdas, namun tidak didukung oleh pendidik yang mengarahkannya, maka kecerdasakan anak tersebut tidak berkembang. Ini berarti bahwa dalam proses belajar peserta didik tetap memerlukan bantuan seorang pendidik untuk mendapatkan keberhasilan dalam pembelajaran.

Dari penjelasan di atas saya menyimpulkan bahwa KH. Hasyim Asy’ari memiliki aliran dan konsep pendidikan Konvergesi, dimana antara pengalaman dan pembawaan dari lahir berupa bakat dari keturunan sangat berpengaruh dalam pertumbuhan dan perkembangan KH. Hasyim Asy’ari. Dari segi aliran nativisme, hal itu terlihat saat beliau dilahirkan dari keluarga ulama, pendiri pesantren yang memiliki latar belakang pendidikan agama yang kuat. Yang kemudian sejak kecil  KH. Hasyim Asy’ari selalu diajarkan berbagai ilmu agama Islam oleh  Ayah dan Kakek beliau. Sejak anak-anak, bakat kepemimpinan dan kecerdasan KH Hasyim Ashari memang sudah nampak. Sejak anak-anak, bakat kepemimpinan dan kecerdasan KH Hasyim Ashari memang sudah nampak. Di antara teman sepermainannya, ia kerap tampil sebagai pemimpin. Dalam usia 13 tahun, ia sudah membantu ayahnya mengajar santri-santri yang lebih besar ketimbang dirinya.

Sedangkan dari segi empirisme, kita dapat menyimpulkan bahwa begitu banyak pengalaman-pengalaman yang diterima KH. Hasyim Asy’ari selama hidupnya terutama dalam menuntut ilmu di berbagai daerah. Beliau mempunyai kesadaran dan hasrat yang kuat untuk memperdalam ilmunya. Usia 15 tahun Hasyim meninggalkan kedua orang tuanya, berkelana memperdalam ilmu dari satu pesantren ke pesantren lain. Pesantren-pesantren tersebut adalah Wonokoyo (Probolinggo), Langitan (Tuban), Trenggilis (Semarang), Kademangan (Bangkalan), Siwalan (Sidoarjo). Kemudian Tahun 1893, ia berangkat ke Tanah Suci. Sejak itulah ia menetap di Mekkah selama 7 tahun dan berguru pada Syaikh Ahmad Khatib Minangkabau, Syaikh Mahfudh At Tarmisi, Syaikh Ahmad Amin Al Aththar, Syaikh Ibrahim Arab, Syaikh Said Yamani, Syaikh Rahmaullah, Syaikh Sholeh Bafadlal, Sayyid Abbas Maliki, Sayyid Alwi bin Ahmad As Saqqaf, dan Sayyid Husein Al Habsyi. Selain pengalaman dalam menuntut ilmu, ia juga merasakan pahitnya penjajahan Belanda dan Jepang yang membuatnya tetap berprinsip dan bisa berkontribusi dalam pendidikan di Indonesia terutama pendidikan islam.

*dari berbagai sumber*

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s